Piala Dunia 2026 mulai diwarnai tingginya intensitas permainan yang berdampak pada banyaknya hukuman kartu merah.
Hingga rangkaian pertandingan berakhir pada Minggu (21/6/2026) pagi WIB, wasit telah mengeluarkan delapan kartu merah.
Menariknya, jumlah tersebut sudah menyamai total gabungan kartu merah pada Piala Dunia 2018 dan 2022.
Delapan kartu merah tersebut juga dua kali lebih banyak dibandingkan masing-masing empat kartu merah yang tercatat pada Piala Dunia 2018 di Rusia maupun Piala Dunia 2022 di Qatar.
Dari jumlah itu, enam di antaranya merupakan kartu merah langsung tanpa didahului kartu kuning.
Kartu merah terbaru terjadi pada laga Grup G antara Belgia dan Iran, Senin (22/6/2026) dini hari WIB ketika Nathan Ngoy diusir wasit pada menit ke-66 setelah melanggar Mehdi Taremi yang sedang berpeluang menuju gawang.
Belgia pun harus bermain dengan 10 pemain selama lebih dari 20 menit terakhir, meski laga berakhir imbang 0-0.
Sebelumnya, sejumlah insiden serupa juga terjadi. Kapten Paraguay, Miguel Almiron, menerima kartu merah setelah tinjauan VAR saat menghadapi Turki, dan menjadi pemain pertama yang dihukum karena aturan baru FIFA terkait larangan menutupi mulut saat berkonfrontasi dengan lawan.
Menurut Dosen S1 PJKR FKOR UNS sekaligus Kepala Bidang Binpres ESI Surakarta, Putri Indah Nazareta, aturan baru membuat kompetisi semakin menarik karena menuntut adaptasi pemain terhadap tekanan turnamen.
“Menurut saya, Piala Dunia 2026 menjadi menarik karena mempertemukan lebih banyak negara dalam format dan aturan baru. Namun, kualitas kompetisi tetap akan ditentukan oleh kemampuan setiap tim dalam beradaptasi dengan tekanan turnamen,” ujarnya kepada Tribunnews.
Qatar juga mengalami kerugian besar setelah dua pemainnya, Assim Madibo dan Homam Ahmed, sama-sama diusir saat melawan Kanada sehingga tim bermain dengan sembilan pemain.
Insiden lain melibatkan Tarik Muharemovic (Bosnia dan Herzegovina), Cesar Montes (Meksiko), serta dua pemain Afrika Selatan, Themba Zwane dan Sphephelo Sithole, yang juga menerima kartu merah dalam pertandingan berbeda.
Dengan delapan kartu merah yang sudah tercipta, turnamen ini berpotensi menjadi salah satu edisi dengan jumlah kartu merah terbanyak dalam sejarah.
Pasalnya, Piala Dunia 2026 baru memasuki matchday kedua babak fase grup.
Sebagai perbandingan, rekor masih dipegang Piala Dunia 2006 di Jerman dengan 28 kartu merah, disusul 17 kartu merah pada 2010 dan 10 kartu merah pada 2014, dikutip dari Fox Sports.
Jika tren berlanjut, edisi 2026 berpeluang mendekati catatan tersebut meski fase grup masih menyisakan banyak pertandingan.
Kejelian wasit dalam pertandingan Piala Dunia 2026 tidak lepas dari peran kamera tambahan yang dipasang pada tubuh wasit yang berada di kepalanya.
Kamera tubuh wasit pertama kali digunakan pada Piala Dunia Antarklub 2025, dan uji coba tersebut melampaui ekspektasi.
Sejak saat itu, FIFA mengembangkan teknologi yang mampu mengurangi keburaman akibat pergerakan cepat, sehingga rekaman yang distabilkan kini menghadirkan perspektif orang pertama berkualitas tinggi bagi penonton global serta meningkatkan transparansi, pemahaman, dan keterlibatan dalam pertandingan.
Direktur Inovasi FIFA Johannes Holzmüller juga menjelaskan bagaimana wasit, tim, staf medis, dan penggemar akan mendapat manfaat dari 16 kamera pelacak optik yang dipasang di masing-masing dari 16 stadion, yang menghasilkan lebih dari 150 juta titik data pelacakan per pertandingan, dikutip dari FIFA.
Pertama, data tersebut memungkinkan FIFA merekonstruksi seluruh pertandingan dalam format 3D dan menyediakan tayangan tersebut untuk VAR.
Hal ini sangat berguna dalam menilai situasi offside, terutama ketika seorang pemain penyerang menghalangi pandangan penjaga gawang.
“Ketika seorang pemain berada dalam situasi offside dan menghalangi pandangan penjaga gawang, VAR dapat menggunakan data ini untuk memeriksa apakah pemain tersebut benar-benar mengganggu permainan,” kata Holzmüller.
Kedua, data ini juga membantu wasit dalam menentukan apakah bola telah melewati garis lapangan dalam proses terjadinya gol. Selain itu, data tersebut dapat dimanfaatkan oleh mitra media untuk menampilkan cuplikan atau seluruh pertandingan dalam format 3D.
Terakhir, sistem ini juga diintegrasikan ke dalam FIFA AI Pro sebagai dasar rekonstruksi pertandingan dalam bentuk tiga dimensi.