TRIBUNNEWS.COM - Winger Portugal, Francisco Conceicao, menepis anggapan bahwa Timnas Portugal terlalu bergantung pada Cristiano Ronaldo dalam Piala Dunia 2026.
Hasil imbang 1-1 kontra RD Kongo memunculkan kritik terhadap pola permainan Portugal yang dinilai terlalu sering mengarahkan serangan kepada Ronaldo.
Terlepas dari minimnya kontribusi Cristiano Ronaldo, Portugal memang tidak otomatis menjadi tim yang lebih baik ketika bermain tanpanya.
Namun, faktor non-teknis membuat pemain berusia 41 tahun tersebut tetap memiliki peran besar di dalam tim.
"Portugal butuh pemimpin yang punya suara vokal di lapangan, siapa lagi kalau bukan Ronaldo," kata football enthusiast, Gigih dalam podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Namun jelang laga melawan Uzbekistan di Houston, Rabu (24/6/2026) pukul 00.00 WIB, Francisco Conceicao menegaskan tidak ada kewajiban bagi pemain untuk selalu mengoper bola kepada sang kapten.
“Kami tidak memiliki kewajiban atau kebutuhan untuk mengoper bola kepadanya,” ujar Conceicao, dikutip dari ESPN.
Meski begitu, Conceicao tetap menegaskan peran penting Ronaldo sebagai pemimpin dan panutan di dalam tim.
Menurutnya, penyerang berusia 41 tahun itu menjadi contoh berkat konsistensi dan etos kerja yang tetap tinggi di usia lanjut.
“Cristiano adalah contoh karena semangat yang ia tunjukkan setiap hari, seolah-olah itu adalah sesi latihan terakhirnya,” lanjutnya.
Baca juga: Internal Portugal Memanas, Seruan Boikot Cristiano Ronaldo Datang dari Ruang Ganti
Conceicao juga menilai Ronaldo tetap menjadi bagian penting dalam sistem permainan, tetapi bukan satu-satunya tumpuan.
Pemain Juventus itu menekankan bahwa keberhasilan tim bergantung pada kolektivitas seluruh pemain dalam skema yang diterapkan pelatih Roberto Martinez.
“Cristiano ada di sini untuk membantu, seperti pemain lain di tim nasional. Tidak ada satu individu yang lebih penting dari kolektivitas,” katanya.
Selain itu, ia mengakui kualitas Ronaldo sebagai pencetak gol yang masih sulit ditandingi. Ia menilai tugas pemain lain adalah membuat keputusan terbaik untuk mendukung efektivitas tim di lapangan.
“Tidak ada yang seperti dia dalam hal mencetak gol. Kami hanya mencoba membuat keputusan terbaik di setiap situasi di lapangan,” ucapnya.
Conceicao sendiri menjalani debut Piala Dunia saat melawan Kongo DR, sekaligus melanjutkan jejak ayahnya, Sergio Conceicao yang juga pernah tampil di ajang yang sama 24 tahun lalu.
Ia juga menyoroti tekanan yang selalu hadir di level tertinggi sepak bola, terutama ketika hasil tidak sesuai harapan. Menurutnya, kritik adalah hal wajar yang harus dijawab dengan performa di lapangan.
“Kami semua bermain di klub besar, jadi tekanan itu selalu ada. Ketika hasil tidak bagus, kritik pasti datang. Tugas kami adalah menjawabnya di lapangan,” ujarnya.
Portugal kini dituntut meraih kemenangan atas Uzbekistan untuk menjaga peluang lolos ke fase gugur sekaligus meredam tekanan usai hasil imbang pada laga pembuka.
Peluang untuk mengalahkan Uzbekistan dinilai cukup terbuka.
Selain dari perbandingan skuad, Uzbekistan juga sedang dalam tren buruk setelah menelan tiga kekalahan beruntun di semua kompetisi.
Meski begitu, Portugal tak boleh terlena. Pasalnya, pertandingan nanti di Houston Stadium merupakan pertemuan pertama mereka.
(Tribunnews.com/Ali)