Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali
KETELADANAN bukan barang baru di negeri ini. Keteladanan bukan pula sesuatu yang istimewa di negeri yang kaya raya ini.
Banyak contoh yang diperlihatkan dengan nyata oleh para pemimpin bangsa. Banyak catatan sejarah yang dapat kita baca dari berbagai buku, dari berbagai referensi tentang Keteladanan. Semuanya tentang keteladanan para pemimpin bangsa, dari para tokoh bangsa.
Bung Hatta adalah salah satu contoh nyata. Wakil presiden pertama Indonesia ini dikenal sebagai pemimpin yang tidak pernah mengambil keuntungan dari jabatan yang diembannya.
Jujur, sederhana, dan teguh memegang prinsip, begitulah kepribadian Mohammad Hatta, wakil presiden pertama Indonesia. Hal ini salah satunya disampaikan Mahar Mardjono, mantan Rektor Universitas Indonesia yang juga seorang dokter, ketika mendampingi Bung Hatta berobat ke luar negeri pada 1970-an.
“Waktu singgah di Bangkok dalam perjalanan pulang ke Jakarta, Bung Hatta bertanya kepada sekretarisnya, Pak Wangsa, jumlah sisa uang yang diberikan pemerintah untuk berobat. Ternyata sebagian uang masih utuh karena ongkos pengobatan tak sebesar dari dugaan. Segera Bung Hatta memerintahkan mengembalikan uang sisa itu kepada pemerintah via Kedubes RI di Bangkok,” cerita Mahar.
Hal serupa juga dilakukan Bung Hatta sesaat setelah lengser dari posisinya sebagai wakil presiden. Kala itu, Sekretaris Kabinet Maria Ulfah menyodorkan uang Rp6 juta yang merupakan sisa dana nonbujeter untuk keperluan operasional dirinya selama menjabat wakil presiden. Namun, dana itu ditolaknya. Bung Hatta mengembalikan uang itu kepada negara.
Demikian pula dengan H Agus Salim. Agus Salim dikenal jenius dengan menguasai sembilan bahasa dan selalu juara di kelasnya. Integritas Agus Salim terlihat sejak usia muda, salah satunya ketika dia menolak beasiswa dari Belanda.
Beasiswa sekolah kedokteran itu seharusnya untuk RA Kartini. Namun karena Kartini harus menikah, dia terpaksa melepaskannya. Kartini dalam suratnya kepada Abendanon merekomendasikan Agus Salim untuk menggantikannya. Bukan tanpa alasan, Kartini tahu Agus Salim adalah seorang yang cemerlang.
Agus Salim menolak pengalihan beasiswa tersebut karena merasa bukan karena jerih payahnya. Sikap ini sulit dibayangkan di masa kini, ketika ada sarjana yang lulus bukan dari usahanya sendiri, menggunakan joki atau membeli ijazah.
Sikap berintegritas ini juga ditunjukkan ketika pria kelahiran 1884 ini menjabat. Walau bertitel menteri dan pejabat negara, namun Agus Salim sengaja hidup dalam kesederhanaan. Rumahnya mengontrak, atapnya bocor jika hujan tiba, namun Agus Salim tetap pada prinsipnya.
“Orang tua yang sangat pandai ini adalah seorang yang genius. Ia mampu berbicara dan menulis secara sempurna sedikitnya dalam sembilan bahasa. Kelemahannya hanya satu: ia hidup melarat," Itulah tulisan Willem Schermerhorn, seorang pejabat Belanda, dalam Het dagboek van Schermerhorn (Buku Harian Schermerhorn) saat mengomentari kebersahajaan H Agus Salim.
Kini, kita seolah kehilangan tokoh panutan. Kita kehilangan tokoh dengan Keteladanannya. Kita kehilangan tokoh dengan integritas yang baik. Kehilangan tokoh panutan.
Sekarang kita susah menemukan tokoh dengan keteladanan seperti Bung Hatta, H Agus Salim, Hoegeng hingga Baharudin Lopa.
Kini kita sebagai rakyat sulit menemukan tokoh berintegritas tinggi seperti tokoh bangsa di atas. Kini kita melihat ada pengemban amanah yang masuk penjara karena korupsi. Kini kita menyaksikan banyak para pemegang kekuasaan harus mengisi hari-harinya di hotel prodeo, bahkan wafat di penjara.
Pada sisi lain, kita sering mendengar narasi para pemegang kekuasaan seenak perutnya. Sekenek-kenek dirinya. Terkadang melukai hati rakyat yang memilihnya di tempat pemungutan suara (TPS). Pemimpin tersebut tidak memahami bahwa masa kekuasaannya terbatas.
Waktu seorang pemimpin di dunia mungkin terbatas, tetapi warisannya dapat menjadi inspirasi abadi bagi generasi mendatang. Lalu apa warisannya sebagai pemimpin untuk generasi mendatang kalau pemimpinnya tidak mewarisi sesuatu yang berguna bagi peradaban masa depan?
Dan bukan tidak mungkin usai selesai memimpin, dirinya tidak dikenal masyarakat lagi, tidak dihormati rakyat, malah dapat sumpah serapah dari warganya, dapat narasi sampah dari masyarakat. Apalagi saat memimpin hanya menunjukkan kekuasaan semata, tanpa ada produk istimewa untuk masyarakat yang dipimpinnya.
Keteladanan seorang pemimpin sangat penting dalam menjaga kepercayaan, mendorong partisipasi publik, dan menjaga stabilitas demokrasi. Pemimpin harus berkomitmen untuk menjalankan peran mereka dengan integritas yang tinggi serta mengedepankan prinsip-prinsip demokrasi yang sejati.
Tokoh-tokoh besar seperti Bung Karno, Bung Hatta, H Agus Salim, Hoegeng, hingga Mar'ie Muhammad membuktikan bahwa kuasa dan kekuasaan bukan alasan untuk hidup berlebihan. Mereka menunjukkan bahwa integritas, kesederhanaan, dan kejujuran adalah teladan sejati bagi bangsa.
Kesederhanaan para tokoh besar bangsa ini mesti dicontoh oleh para tokoh bangsa yang kini memimpin, baik di kalangan eksekutif, legislatif, yudikatif, dan para tokoh masyarakat agar dijauhkan dari sifat tamak, rakus, dan korup.
Kesederhanaan merupakan gambaran dan perwujudan dari sifat dan sikap pemimpin yang memahami, menyadari, dan empati terhadap jiwa rakyatnya yang mayoritasnya masih hidup dalam kesusahan.
Indonesia butuh lebih banyak pemimpin seperti yang terulis di atas. Bukan sekadar pejabat, tapi panutan nyata. Apakah pembaca punya tokoh lain yang patut masuk daftar ini? (*)