TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Para pelaku wisata di kawasan penyangga Candi Borobudur mengeluhkan pemadaman listrik bergilir akibat pemeliharaan jaringan oleh PLN.
Pasalnya, penghentian arus listrik ini memukul langsung operasional usaha yang menjadi urat nadi ekonomi masyarakat di destinasi super prioritas tersebut.
Ketua Pesona Magelang, Hani Sutrisno, mengatakan keluhan datang dari berbagai pelaku usaha yang bergerak di sektor pariwisata, mulai dari pengelola homestay, restoran, pelaku UMKM, jasa transportasi wisata, hingga penyedia aktivitas wisata di kawasan penyangga Borobudur.
Menurut Hani, sektor pariwisata memiliki karakter layanan yang sangat bergantung pada kontinuitas listrik.
Ketika pemadaman dilakukan saat jam operasional, dampaknya tidak hanya dirasakan saat listrik padam, tetapi juga memengaruhi pengalaman wisatawan dan potensi kunjungan berikutnya.
“Pelaku wisata memahami bahwa pemeliharaan jaringan penting untuk menjaga keandalan listrik. Namun pelaksanaannya perlu mempertimbangkan karakter kawasan wisata yang mengandalkan pelayanan dan kenyamanan pengunjung,” ujar Hani.
Ia menjelaskan, sejumlah dampak yang paling banyak dikeluhkan pelaku wisata antara lain terganggunya operasional penginapan karena pendingin ruangan, penerangan, dan sistem pemesanan digital tidak dapat berjalan optimal.
Selain itu, pelaku kuliner mengalami risiko kerusakan bahan makanan dan penurunan kualitas pelayanan akibat alat penyimpanan dan peralatan produksi tidak berfungsi maksimal.
Tidak hanya itu, aktivitas transaksi digital yang kini menjadi tulang punggung layanan wisata juga ikut terdampak.
Baca juga: Dampak Dexlite Melonjak, BPBD Kulon Progo Usul Anggaran Pembelian Air Tangki Naik Jadi Rp500 Ribu
Gangguan jaringan listrik menyebabkan pembayaran non tunai, sistem reservasi daring, hingga akses internet mengalami kendala.
“Wisatawan sekarang sebagian besar mengandalkan transaksi digital. Saat listrik padam, pelayanan terhambat, proses pembayaran tertunda, dan akhirnya menurunkan kepuasan pengunjung,” kata Hani.
Dampak lain yang dirasakan adalah batal atau tertundanya sejumlah agenda wisata berbasis pengalaman, seperti kegiatan edukasi, pertunjukan budaya, dan aktivitas komunitas yang membutuhkan dukungan pencahayaan maupun perangkat elektronik.
Pesona Magelang juga menilai kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi berantai karena kawasan penyangga Borobudur selama ini hidup dari perputaran kunjungan wisatawan.
Ketika layanan terganggu, wisatawan cenderung mempersingkat waktu tinggal atau mengurangi pengeluaran selama berkunjung.
Hani berharap ke depan terdapat pola koordinasi yang lebih baik antara PLN dan pelaku wisata, terutama terkait jadwal pemeliharaan jaringan.
Sosialisasi yang lebih awal serta penyesuaian waktu pekerjaan di luar jam puncak kunjungan dinilai dapat meminimalkan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
“Yang dibutuhkan pelaku wisata bukan hanya kepastian listrik tetap andal, tetapi juga kepastian informasi agar mereka bisa menyiapkan langkah antisipasi dan pelayanan kepada wisatawan tetap berjalan,” tutupnya.
Dilansir dari laman Instagram PLN Borobudur, area terdampak pemeliharaan PLN pada hari ini, Senin 22/06/20206, sebagain desa di Kecamatan Borobudur akan dilakukan pemeliharaan jaringan di antaranya, Desa Wanurejo, Desa Tuksongo, Desa Majaksingi, Tanjungsari, Ngaran, Karanganyar, Giritengah, dan sekitarnya pada pukul 15.00 wib hingga 18.00 wib. (*)