Nasib Penambang Pasir di Lumajang yang Tertimbun Material Panas Semeru, Kini Meninggal Dunia
Putra Dewangga Candra Seta June 22, 2026 01:49 PM

 

SURYA.co.id, LUMAJANG – Nasib tragis menimpa seorang penambang pasir di kawasan aliran sungai berhulu Gunung Semeru.

Setelah berjuang melawan luka bakar serius akibat tertimbun material sisa Awan Panas Guguran (APG), Veri Irawan (33) akhirnya meninggal dunia pada Minggu (21/6/2026).

Warga Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang itu sebelumnya menjadi korban tertimbun material sisa APG Gunung Semeru saat melakukan aktivitas penambangan pasir pada Sabtu (20/6/2026).

Insiden tersebut kembali menyoroti risiko besar yang harus dihadapi para penambang pasir yang menggantungkan hidup dari material vulkanik Semeru.

Meski sempat mendapatkan penanganan intensif di Ruang ICU RSUD dr. Haryoto Lumajang, nyawa korban tidak dapat diselamatkan akibat luka bakar yang sangat parah.

Bertahan di ICU dengan Luka Bakar 80 Persen

Direktur RSUD dr. Haryoto Lumajang, dr. Wawan Arwijanto, mengungkapkan bahwa korban meninggal dunia pada Minggu pagi setelah menjalani perawatan intensif.

"Iya meninggal dunia pukul 07.47 pagi tadi," kata Wawan melalui pesan WhatsApp, Minggu (21/6/2026), dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.

Menurut Wawan, kondisi korban sejak awal sangat kritis karena mengalami luka bakar hampir di seluruh tubuh.

"Luka bakar 80 persen jadi penyebab meninggalnya korban," ungkapnya.

LUKA BAKAR - Very Irawan, saat dirawat di RSUD dr Haryoto Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026) Penambang pasir ini tertimpa material sekunder erupsi Semeru saat nambang di bawah Jembatan Perak Lumajang.
LUKA BAKAR - Very Irawan, saat dirawat di RSUD dr Haryoto Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026) Penambang pasir ini tertimpa material sekunder erupsi Semeru saat nambang di bawah Jembatan Perak Lumajang. (Surya.co.id/Imam Nahwawi)

Pihak rumah sakit, lanjut Wawan, telah memberikan penanganan maksimal selama korban menjalani perawatan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pekerjaan sebagai penambang pasir di kawasan Semeru bukan hanya soal mencari penghasilan, tetapi juga berhadapan langsung dengan ancaman bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Mencari Rezeki di Tengah Ancaman Gunung Semeru

Bagi sebagian warga di sekitar lereng Semeru, aktivitas penambangan pasir menjadi sumber mata pencaharian utama.

Material vulkanik yang terbawa erupsi maupun awan panas selama ini memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

Namun di balik peluang tersebut, tersimpan risiko besar yang harus dihadapi setiap hari.

Ancaman APG, banjir lahar, longsoran material, hingga perubahan cuaca di kawasan gunung menjadi bahaya yang selalu mengintai para penambang.

Kematian Veri Irawan menjadi gambaran nyata tentang kerasnya kehidupan para pekerja tambang pasir yang tetap beraktivitas di wilayah berisiko tinggi demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Baca juga: Kronologi Penambang Pasir di Lumajang Tertimbun Material Panas Semeru

Pemkab Lumajang Evaluasi Aktivitas Tambang

Menyusul kejadian tersebut, Bupati Lumajang Indah Amperawati menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap aktivitas pertambangan pasir di kawasan aliran sungai yang berhulu ke Gunung Semeru.

"Aktivitas tambang pasir hendaknya berakhir pukul 18.00 WIB, di atas jam 6 sore tidak boleh lagi ada aktivitas pertambangan," kata Indah di RSUD dr. Haryoto Lumajang, Sabtu.

Menurutnya, masih ditemukan aktivitas penambangan yang berlangsung pada malam hari meskipun telah ada larangan dari pemerintah daerah.

Kondisi tersebut dinilai sangat berbahaya karena minimnya jarak pandang dan tingginya risiko bencana yang dapat terjadi kapan saja.

Jutaan Ton Material Masih Mengancam

Indah mengingatkan bahwa hingga saat ini masih terdapat jutaan ton material vulkanik di kawasan Gunung Semeru yang berpotensi terbawa aliran air saat hujan turun di puncak gunung.

"Di Gunung Semeru masih ada jutaan ton material, ini sangat berisiko apalagi di atas gunung sering hujan, apabila material itu terbawa sangat berbahaya," ujar Indah.

Pemerintah Kabupaten Lumajang berencana berkoordinasi dengan para kepala desa yang wilayahnya menjadi lokasi aktivitas pertambangan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi aktivitas tambang pasir pada malam hari.

Saat ini, status Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga, sehingga masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi bahaya yang dapat muncul sewaktu-waktu.

Meninggalnya Veri Irawan memperlihatkan dilema yang selama ini dihadapi masyarakat sekitar Gunung Semeru.

Di satu sisi, material vulkanik menjadi sumber penghidupan yang menggerakkan ekonomi lokal. Namun di sisi lain, aktivitas tersebut menempatkan para penambang pada risiko tinggi akibat kondisi gunung yang masih aktif.

Evaluasi jam operasional tambang menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kecelakaan dan korban jiwa.

Namun kebijakan tersebut juga perlu diiringi pengawasan yang konsisten serta edukasi mitigasi bencana bagi para penambang.

Tanpa upaya tersebut, tragedi serupa berpotensi kembali terjadi di tengah aktivitas masyarakat yang bergantung pada hasil tambang pasir Semeru.

Kronologi Kejadian

Sebanyak 17 penambang pasir manual nekat melakukan aktivitas penambangan pada dini hari di kawasan Gladak Perak. Veri Irawan (33), salah satu penambang asal Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim), tertimbun longsoran tebing material sisa Awan Panas Guguran (APG) Gunung Semeru pada Sabtu (20/6/2026) pukul 01.30 WIB.

Korban yang baru bekerja selama setengah jam, tiba-tiba tertimpa longsoran material vulkanik.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, korban langsung dievakuasi oleh rekan-rekannya ke RSD Pasirian sekitar pukul 02.00 WIB, sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD dr Haryoto Lumajang karena kondisi luka yang parah.

"Jadi korban ini menambang jam 1 dini hari tadi, yang seharusnya tidak diperbolehkan," ujar Isnugroho saat memberikan keterangan di RSUD dr Haryoto Lumajang.

Akibat peristiwa tragis tersebut, Veri kini harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUD dr Haryoto Lumajang.

Tim medis menyatakan korban mengalami luka bakar derajat dua yang menyelimuti hampir 80 persen tubuhnya.

Isnugroho menjelaskan bahwa material erupsi Gunung Semeru masih menyimpan suhu panas ekstrem, meskipun sudah mengendap lebih dari enam bulan di permukaan.

Bahaya sekunder ini sering kali tidak disadari oleh para penambang, karena tampilan luar tebing yang tampak dingin dan stabil.

"Kondisi material ini masih panas, kalau terkena kulit ya bisa menyebabkan luka bakar," terang Isnugroho.

Aris Susanto, kakak kandung korban, membeberkan bahwa tebing material sisa erupsi Semeru sangat sensitif terhadap air. Jika terkena aliran air, material panas di bagian dalam akan langsung bereaksi, menyembur dan memicu longsoran mendadak.

"Kan tidak kelihatan kalau kena air, dan air itu langsung nyembur hingga mengakibatkan longsor," kata Aris.

Ia juga menambahkan, bahwa sang adik sebelumnya sudah dua kali selamat dari longsoran material dingin, namun baru kali ini terkena material yang masih menyimpan hawa panas ekstrem.

BPBD Lumajang menegaskan kembali larangan aktivitas penambangan pada malam hari. Selain jarak pandang yang sangat terbatas, status Gunung Semeru saat ini masih berada di Level III (Siaga) dengan aktivitas vulkanik yang fluktuatif.

Rekomendasi keselamatan dari BPBD Lumajang meliputi:

  • Larangan keras melakukan penambangan pasir dan batu pada malam hari demi keselamatan jiwa.
  • Pembatasan aktivitas di sepanjang aliran Besuk Kobokan yang menjadi jalur utama APG.
  • Kewaspadaan tinggi terhadap potensi bahaya sekunder berupa lahar hujan dan longsoran material panas.

Aktivitas penambangan manual di aliran lahar Gunung Semeru pada malam hari sangat berisiko tinggi, karena material sisa APG yang mengendap berbulan-bulan masih menyimpan panas mematikan yang dapat longsor seketika.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.