Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima
BULA, TRIBUNAMBON.COM –Di sebuah rumah sederhana di kawasan Wailola, tepatnya di belakang Terminal Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Hastisula bersama suaminya, Bahrum Ohoirat, berjuang membesarkan delapan orang anak di tengah keterbatasan ekonomi.
Rumah yang mereka tempati jauh dari kata layak. Sebagian besar atap bangunan hanya ditutupi terpal berwarna-warni sebagai pelindung dari panas dan hujan.
Kondisi tersebut membuat keluarga ini harus menghadapi berbagai kesulitan, terutama saat musim hujan tiba karena air kerap masuk ke dalam rumah.
Baca juga: Polemik Tapal Batas, Raja Manusela Minta DPRD Perjuangkan Aspirasi Warga
Baca juga: KND Indonesia Bakal Hadiri Penetapan Ranperda Disabilitas di Malteng
Berdasarkan pantauan TribunAmbon.com, Senin (22/6/2026), beberapa bagian rumah tampak mengalami kerusakan dan membutuhkan perbaikan.
Meski demikian, rumah sederhana itu tetap menjadi tempat bernaung bagi pasangan suami istri tersebut bersama delapan buah hati mereka.
Hastisula mengaku telah tinggal di kawasan Wailola sejak tahun 2021 setelah pindah dari Desa Sumber Agung, Kecamatan Bula Barat.
"Kalau saya di sini dengan suami dan delapan anak. Dari tahun 2021 sudah tinggal di sini," ujar Hastisula saat ditemui di kediamannya.
Di tengah kondisi serba terbatas, pasangan ini tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarga.
Bahrum bekerja sebagai petani, sementara Hastisula membantu perekonomian rumah tangga dengan menjual kelapa.
"Kalau saya hanya jualan kelapa, satu buah harganya Rp5.000," tuturnya.
Pasangan tersebut dikaruniai delapan anak, terdiri dari lima perempuan dan tiga laki-laki. Dua anak laki-laki mereka telah menyelesaikan pendidikan, sementara enam lainnya masih menempuh pendidikan.
"Perempuan lima, laki-laki tiga. Yang dua sudah lulus sekolah," kata Hastisula.
Meski penghasilan keluarga sangat terbatas, Hastisula tetap berupaya memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Saat ini, tiga anak perempuannya sedang menempuh pendidikan di pesantren.
Baginya, pendidikan menjadi harapan utama agar anak-anaknya kelak memiliki masa depan yang lebih baik dan dapat keluar dari keterbatasan yang selama ini mereka hadapi.
"Saya tidak minta yang lain. Mudah-mudahan ada jalan dan ada orang-orang baik yang bisa membantu anak-anak kami untuk terus sekolah dan meraih masa depan yang lebih baik," harapnya. (*)