Bisnis Foie Gras, Pria yang Pernah Kelaparan Ini Sekarang Hidup Mewah
GH News June 22, 2026 02:08 PM
Jakarta -

Dulu cuma makan sekali sehari, kini pria ini hidup makmur berkat bisnis foie gras. Peternak angsa asal China ini bahkan mampu membeli Maserati. Begini kisahnya!

Li Fengshan, peternak foie gras di China yang kini sukses berkat bisnisnya. Nasibnya berubah drastis dalam beberapa dekade terakhir.

Pria 50 tahun asal Anhui, China timur, yang dulu hidup dalam kemiskinan hingga hanya bisa makan sekali sehari, kini menikmati kesuksesan berkat bisnis foie gras atau hati angsa yang digemukkan.

Li kini mengendarai SUV Maserati putih hasil keuntungan dari usaha peternakan angsanya, seperti yang dikutip dari Malay Mail (20/7).

Bisnis Foie Gras, Pria yang Pernah Kelaparan Ini Sekarang Hidup MewahIlustrasi Foie Gras. Foto: Malaysia Mail

Di bawah perusahaan miliknya, Changhao Biotechnology, produksi foie gras terus meningkat seiring melonjaknya permintaan di China.

Tahun lalu perusahaannya menghasilkan sekitar 300 ton foie gras. Tahun ini, Li menargetkan produksi mencapai 500 ton.

Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan produsen foie gras rata-rata di Prancis yang umumnya hanya menghasilkan sekitar 10 ton per tahun.

Popularitas foie gras di China memang meningkat pesat dalam satu dekade terakhir.

Jika dulu makanan ini identik dengan hidangan mewah ala Barat, kini foie gras hadir dalam berbagai kreasi yang lebih dekat dengan selera masyarakat lokal.

Foie gras bisa ditemukan dalam nasi goreng, hotpot, hingga dessert berbentuk ceri dan mawar yang disajikan dengan saus blueberry serta red wine.

Bisnis Foie Gras, Pria yang Pernah Kelaparan Ini Sekarang Hidup MewahFoie gras disajikan untuk hidangan sup. Foto: Malaysia Mail

Harga yang relatif terjangkau juga membuat konsumsi produk ini semakin luas. Sepotong foie gras di restoran China dibanderol sekitar Rp 68.000-Rp 160.000.

Lonjakan konsumsi tersebut ikut mendorong produksi nasional. Sejumlah analis industri memperkirakan produksi foie gras China mencapai sekitar 14.000 ton pada 2025, naik tajam dibanding sekitar 2.000 ton satu dekade lalu.

Dengan pertumbuhan tersebut, China diperkirakan segera menyalip Prancis sebagai produsen foie gras terbesar dunia.

Li optimistis produk buatannya suatu hari akan mendunia. "Produk foie gras kami pada akhirnya akan hadir di banyak meja makan di luar negeri. Itu tidak bisa dihindari," ujarnya.

Meski ekspor masih menghadapi berbagai kendala regulasi, beberapa perusahaan China mulai menembus pasar internasional.

Changhao Biotechnology, misalnya, telah mengirim 6.000 kaleng foie gras ke Dubai tahun lalu.

Kesuksesan Li juga ditopang dukungan pemerintah. Ia mengungkapkan subsidi yang diterima dapat menanggung lebih dari 50% biaya infrastruktur dan vaksin peternakan.

Namun menurut Li, faktor terpenting tetap kerja keras. Pada 10 hari terakhir masa pemeliharaan angsa, para pekerja harus memberi makan secara paksa hingga enam kali sehari.

Proses ini berlangsung hampir tanpa henti selama 24 jam. "Orang Eropa sudah tidak mampu lagi memelihara angsa dalam jumlah besar karena pekerjaan ini sangat berat," kata Li.

Di peternakannya, bobot hati angsa bisa mencapai lebih dari 1 kilogram per ekor. Angka tersebut jauh lebih besar dibanding standar foie gras di Prancis.

Kini Li bahkan tengah berdiskusi dengan perusahaan robotik untuk mengembangkan teknologi pemberian pakan otomatis.

Di tengah kontroversi soal kesejahteraan hewan yang terus mengiringi industri foie gras, para produsen China tetap percaya diri. Mereka menilai permintaan global terus bertumbuh dan peluang ekspor masih sangat besar.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.