Kondisi Terkini Korban Dugaan Pengeroyokan Senior di SMP Semarang, Masih Trauma ke Toilet
muh radlis June 22, 2026 03:10 PM

 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kasus dugaan kekerasan fisik yang menimpa seorang siswa kelas 1 SMP di Kota Semarang masih menyisakan dampak psikologis bagi korban.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang mengungkapkan bahwa korban hingga kini masih menjalani pendampingan untuk memulihkan kondisi mentalnya setelah diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah siswa yang lebih senior.

Peristiwa yang sempat menjadi sorotan publik di media sosial itu tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga memunculkan trauma yang masih dirasakan korban dalam aktivitas sehari-hari.

Kepala DP3A Kota Semarang, Eko Krisnarto, mengatakan pihaknya telah memberikan pendampingan sejak kasus tersebut mencuat ke publik.

Pendampingan dilakukan dengan melibatkan psikolog klinis, termasuk psikolog anak, guna membantu proses pemulihan korban.

Menurut Eko, peristiwa yang diduga menjadi pemicu konflik sebenarnya berawal dari persoalan sederhana yang kemudian berkembang menjadi tindakan kekerasan fisik.

Baca juga: Kisah Perjuangan Akbar Bocah 7 Tahun Selamatkan Diri dari Jurang Maut Pekalongan, Ayah Tewas

"DP3A sudah melakukan pendampingan terhadap korban dan itu sebenarnya penyebabnya sepele karena handphone, saling mengejek itu tersakiti bisa terjadi kekerasan fisik sehingga menimbulkan trauma pada korban," jelas Eko.

Ia menuturkan kondisi psikologis korban masih terus dipantau.

Dalam beberapa situasi tertentu, korban masih mengingat kejadian yang dialaminya sehingga memunculkan respons trauma.

"Kalau dia mau ke WC itu masih ingat itu wajar, tapi tetap kita dampingi terus.

Sampai psikologisnya itu nyaman atau sudah tidak mengalami trauma jika ada di tempat tersebut," lanjutnya.

DP3A memastikan pendampingan akan terus diberikan hingga korban benar-benar merasa aman dan nyaman untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari tanpa dibayangi rasa takut.

"Jadi DP3A itu ada psikolog-psikolog klinis yang mendampingi ada," kata Eko.

 

Berawal dari Dugaan Pengeroyokan di Kamar Mandi Sekolah

Kasus ini sebelumnya ramai diperbincangkan setelah diunggah oleh akun media sosial @dinaskegelapan_kotasemarang.

Dalam unggahan tersebut, orang tua korban menceritakan bahwa anaknya diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah siswa senior di lingkungan sekolah.

Berdasarkan informasi yang beredar, kejadian tersebut diduga terjadi pada 30 Maret 2026.

Korban disebut diajak menuju kamar mandi sekolah sebelum kemudian mengalami dugaan kekerasan fisik secara bergantian oleh beberapa siswa yang lebih senior.

Tak hanya itu, korban juga disebut mendapat ancaman agar tidak menceritakan kejadian yang dialaminya kepada siapa pun, termasuk kepada orang tua.

Karena merasa takut, korban diduga memilih menyimpan kejadian tersebut seorang diri.

Orang tua baru mengetahui adanya dugaan kekerasan setelah melihat memar pada wajah dan beberapa bagian tubuh anaknya beberapa hari kemudian.

Setelah mendapatkan pendampingan dan dorongan dari keluarga, korban akhirnya mulai menceritakan peristiwa yang dialaminya.

Dalam unggahan yang beredar di media sosial, keluarga korban juga menyampaikan kekecewaan terhadap pihak sekolah.

Mereka menilai informasi terkait dugaan kekerasan tersebut tidak segera disampaikan kepada orang tua, padahal pihak sekolah disebut telah mengetahui adanya kejadian tersebut.

Kasus ini pun menjadi perhatian masyarakat karena menyangkut keamanan dan kenyamanan peserta didik di lingkungan sekolah.

Sementara itu, pendampingan psikologis terhadap korban masih terus dilakukan guna memastikan proses pemulihan berjalan optimal dan trauma yang dialami dapat berangsur pulih. (idy)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.