Temuan Minyakita Berbau Minyak Tanah di Wonogiri, Warna Pekat, Masakan Warga Terasa Aneh
TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Kasus Minyakita berbau minyak tanah di Wonogiri masih ditelusuri.
Belum diketahui penyebabnya. Namun dipastikan bukan berasal dari minyak tanah yang dimasukkan karena itu juga termasuk barang mahal.
Baca juga: Polisi Tangkap Pelaku Pelemparan Ibu Hamil di Karanganyar, Kemungkinan Tersangka Bisa Bertambah
PT Kusuma Mukti Remaja (KMR) Karanganyar bergerak melakukan penelusuran internal setelah muncul laporan terkait Minyakita yang memiliki aroma menyerupai minyak tanah di wilayah Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Produk tersebut diketahui berasal dari paket Program Bantuan Pangan (PBP) yang dibagikan kepada warga setempat.
Menindaklanjuti laporan itu, perusahaan langsung melakukan penarikan serta penggantian produk dalam waktu singkat.
Direktur PT KMR, Joko Mukti Wijaya, menyampaikan bahwa langkah penarikan dilakukan untuk meredam keresahan masyarakat sekaligus memastikan produk pengganti segera tersedia.
“Semua kita tarik kembali. Jadi supaya tidak ada keresahan atau pertanyaan dari masyarakat. Dalam 1 x 24 jam kita langsung kirim yang baru untuk menarik yang lama,” kata Joko, dilansir dari Kompas.com, Minggu (21/6/2026).
Jamari selaku Lurah Gesing membenarkan bahwa ada laporan Minyakita yang dipakai warganya berbau minyak tanah.
“Iya benar memang dari warga kami, sekitar enam orang yang menyampaikan keluhan lewat WA sekitar tiga harian yang lalu,” kata Jamari," katanya dikutip dari Kompas.com, Minggu (21/6/2026).
Ia menjelaskan, Minyakita yang diterima warga merupakan bantuan yang sudah didistribusikan kepada 1.203 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada 8 Juni 2026.
Setelah kemasan dibuka, warga menemukan kejanggalan karena rasa makanan menjadi aneh.
"Seperti ada rasa minyak tanah atau solar,” ungkap Jamari.
Warga juga mempertanyakan Minyakita yang berwarna lebih pekat dibandingkan Minyakita yang dijual di pasaran.
Setelah temuan tersebut, penyedia akhirnya menarik dan mengganti produk yang bermasalah.
“Dari 1.203 KPM yang ada di kelurahan ini akan diganti semua,” jelas Jamari.
Sementara itu, Joko menjelaskan, perusahaan saat ini belum dapat memastikan penyebab munculnya aroma tidak lazim pada minyak goreng tersebut.
Untuk itu, KMR tengah melakukan investigasi internal sekaligus mengirim sampel produk untuk diuji di laboratorium.
“Untuk investigasi kami data dan perbaikan ke depannya. Dan ini kita juga sedang tes lab, hasilnya belum keluar," katanya.
"Pemicunya apa belum diketahui, karena kan enggak mungkin itu kan minyak tanah barang mahal, enggak mungkin dimasukkan ke situ,” sambung Joko.
Ia juga menambahkan, proses rekapitulasi masih dilakukan untuk memastikan jumlah pasti produk yang terdampak serta total distribusi awalnya.
Hasil penelusuran sementara, penemuan Minyakita berbau minyak tanah hanya ditemukan pada satu klaster distribusi di wilayah Kismantoro dan tidak meluas ke daerah lain.
Terkait kekhawatiran masyarakat mengenai dampak kesehatan, pihak perusahaan menyebut hingga saat ini belum ada laporan medis yang diterima dari warga.
KMR menegaskan tetap siap bertanggung jawab apabila di kemudian hari ditemukan dampak yang merugikan konsumen.
“Keluhan lain sementara ini enggak ada. Sama sekali tidak ada. Tapi semisal ada ya kita pasti tindak lanjuti dengan kepala desa. Jadi kita full tanggung jawab kalau sampai terjadi yang enggak diinginkan,” ucap Joko.
Joko juga menegaskan, setelah penyebab masalah ditemukan, perusahaan akan melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.
Selama proses produksi Minyakita berjalan, lanjutnya, kasus seperti ini baru pertama kali terjadi dan menjadi perhatian serius perusahaan.
Sementara itu, Kanit II Tipidter Satreskrim Polres Wonogiri, Ipda Wahyu Teguh,menyampaikan bahwa pihak kepolisian tengah menelusuri kasus Minyakita berbau minyak tanah.
Menurutnya, sampel produk telah diamankan untuk kepentingan pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium. Ia menambahkan, kepolisian juga berkoordinasi dengan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Surakarta untuk memastikan kandungan dalam minyak goreng tersebut.
“Ada 37 pouch yang kami ambil. Sebanyak 35 masih utuh dan 2 sudah terbuka,” kata Wahyu dilansir dari TribunSolo, Jumat (19/6/2026). (Kompas.com)