Solusi Sampah Organik ala Dosen ITB di Bandung: Ubah Limbah Dapur Jadi Sumber Protein Ayam
Muhamad Syarif Abdussalam June 22, 2026 03:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Deretan kandang ayam bertingkat berdiri rapi di sebuah pekarangan di kelurahan Pasirlayung, Padasuka, Kota Bandung. Di bawah kandang-kandang itu, ember-ember besar berisi maggot yang tampak sibuk mengurai sisa makanan rumah tangga. Di sekelilingnya, tumbuh aneka tanaman yang memanfaatkan pupuk hasil olahan maggot dan kotoran ternak.

Pemandangan tersebut menjadi gambaran bagaimana sampah organik yang selama ini dianggap masalah, justru diubah menjadi sumber pangan dan nilai ekonomi di Bersemi Farm.

Program yang dijalankan oleh Dosen Program Studi Fisika, FMIPA ITB, Dr.rer.nat. Linus Ampang Pasasa, M.S. yang menerapkan konsep ekonomi sirkular (circular economy), yaitu memanfaatkan kembali limbah organik menjadi berbagai produk bermanfaat sehingga hampir tidak ada yang terbuang.

Di lokasi tersebut, sampah dapur dari warga diolah oleh maggot BSF. Larva itu kemudian menjadi sumber protein untuk pakan ayam. Sementara sisa pengolahan maggot atau kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.

“Kita harus mencari alternatif pakan. Pakan ayam ada tiga komponen, pertama daun-daunan, kemudian protein dari maggot, dan karbohidrat dari SOD atau sisa olahan dapur dari warga sekitar, seperti nasi dan sebagainya,” ujar Linus saat ditemui di Bersemi Farm, Sabtu (20/6/2026).

Menurutnya, kombinasi pakan tersebut membuat ayam tumbuh sehat sekaligus menekan biaya produksi yang selama ini menjadi tantangan utama peternak.

Di area kebun yang berada tepat di samping kandang, Linus menunjukkan tanaman pepaya Jepang yang sengaja ditanam untuk memenuhi kebutuhan hijauan ternak.

Daun-daunnya dicacah yang kemudian bisa langsung diberikan kepada ayam dan entog yang ada di Bersemi Farm.

Di kandang utama, ayam-ayam tampak berebut pakan yang dituangkan ke tempat makan. Sebagian ayam pedaging berwarna putih memenuhi kandang, sementara ayam petelur dan ayam kampung berada di kandang lain.

Linus mengatakan saat ini terdapat delapan kandang dengan kapasitas masing-masing sekitar 15 ekor ayam. 

Total kapasitasnya mencapai 120 ekor, meski sebagian kandang lain yang berada di area belakang masih belum terisi penuh.

Linus mengaku sengaja tidak memperbanyak populasi ayam sebelum pasokan sampah organik tersedia secara cukup.

“Masih banyak kandang kosong karena SOD yang datang masih terbatas. Kita harus impor sampah ke sini. Kalau ayamnya ada tapi makanannya tidak ada, kasihan,”katanya.

Ia menjelaskan konsep utama Bersemi Farm adalah sistem pertanian terintegrasi atau Integrated Farming System.

Dalam sistem tersebut, hampir seluruh hasil samping dari satu proses dimanfaatkan kembali untuk proses lainnya.

“Kotoran ayam langsung jatuh ke bagian bawah kandang dan menjadi makanan maggot. Maggot yang tumbuh selama sekitar dua pekan kemudian dipanen untuk pakan ayam maupun ikan. Sementara itu, kasgot dimanfaatkan sebagai media tanam dan pupuk organik bagi berbagai tanaman yang tumbuh di sekitar lokasi. Air dari kolam ikan juga digunakan untuk menyiram tanaman sehingga seluruh komponen saling terhubung dalam satu ekosistem,” tuturnya.

Menurutnya, konsep serupa sebenarnya bisa diterapkan di pekarangan rumah dengan skala yang lebih kecil.

Ia menilai jika setiap lingkungan memiliki sistem pengolahan organik mandiri, persoalan sampah organik di Kota Bandung dapat berkurang secara signifikan.

Berdasarkan data yang ia pelajari, sekitar 40 hingga 50 persen sampah Kota Bandung merupakan sampah organik.

Oleh karen itu, pengelolaan dari sumber menjadi langkah penting untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir.

Menurut Linus, kapasitas pengolahan sampah organik di Bersemi Farm dihitung berdasarkan jumlah biopon yang digunakan.

Setiap biopon atau ember besar mampu menampung sekitar 25 kilogram sampah organik dapur. 

“Dengan total delapan biopon di area luar yang setara dengan sekitar 200 kilogram, ditambah kapasitas di bagian dalam sekitar 150 kilogram, maka secara keseluruhan sistem ini memiliki kemampuan mengolah hingga 350 kilogram sampah organik dapur per hari,” ucapnya.

Namun, jumlah sampah yang masuk saat ini masih berkisar 50 hingga 75 kilogram per hari.

Meski demikian, angka itu dinilai cukup menggembirakan karena menunjukkan meningkatnya kesadaran warga untuk memilah sampah.

“Target pemerintah kota kan tiap RW itu 25 kilogram. Kami sudah menerima 50 sampai 75 kilogram. Artinya warga sudah care terhadap pengelolaan sampah,” katanya.

Linus bahkan membuka peluang kerja sama dengan berbagai komunitas maupun lembaga yang memiliki sampah organik dalam jumlah besar.

Menurutnya, selama mekanisme pengangkutan dan pengelolaan dapat disepakati bersama, sampah organik tersebut bisa dimanfaatkan menjadi sumber protein dan pangan bagi masyarakat.

Meski menawarkan banyak manfaat, peternakan perkotaan tetap menghadapi tantangan sosial. Salah satunya adalah kekhawatiran warga terhadap bau maupun suara ayam.

Linus mengaku persoalan itu kerap muncul ketika konsep peternakan dibawa ke lingkungan permukiman.

Namun ia menilai sistem yang diterapkan di Bersemi Farm telah berhasil menekan bau seminimal mungkin karena kotoran ayam langsung dimanfaatkan oleh maggot.

Menurutnya, keberadaan lalat yang masih muncul justru lebih banyak berasal dari sampah rumah tangga yang datang dalam kondisi sudah terlalu lama tersimpan.

Untuk mengatasinya, ia menggunakan cairan EM4 berbahan sereh yang disemprotkan secara rutin.

“Kalau baunya minim, yang masih ada kadang lalat karena sampah yang datang sudah berhari-hari. Tapi bisa dikendalikan dengan EM4 dan sereh,” ujarnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.