TRIBUNNEWS.COM - Pelatih asal Australia, Graham Arnold, tertawa atas kelucuan jawabannya merespons bagaimana cara menghentikan Kylian Mbappe untuk laga Grup I Piala Dunia 2026 antara Prancis vs Irak.
Sembari tertawa, Graham Arnold berkelakar untuk memainkan tiga penjaga gawang sekaligus guna meredam Kylian Mbappe sebagai monster gol milik timnas Prancis.
Meski demikian, pria yang pernah membesut timnas Australia itu merasa terhormat bisa menghadapi Kylian Mbappe, dan skuad Prancis yang dihuni seabrek pemain bintang.
Apa yang disampaikan Graham Arnold menjadi pertanda bagaimana Irak begitu mewaspadai penyerang Real Madrid tersebut.
Tidak bisa dipungkiri, dalam transformasinya, Kylian Mbappe kini menjadi salah satu penyerang paling menakutkan di dunia.
"Mbappe itu ketika namanya muncul merupakan pemain bernomor 7 yang beroperasi sebagai winger. Di Piala Dunia sekarang, dia menjadi nomor 9, target-man," ujar football enthusiast asal Semarang, Gigih, di podcast Super Taktik berjudul "Prediksi Grup G-L Piala Dunia 2026, Grupnya Para Calon Juara" di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
"Mbappe jelas akan menjadi tumpuan dari Deschamps, dia itu tipikal pelatih mirip Ancelotti. Yakni memiliki pemain kunci dan membangun tim di sekeliling pemain kunci itu."
"Masalah ego yang akan menjadi tantangan bagi Deschamps. Ini yang akan menjadi faktor x, apakah Prancis bisa melaju jauh atau enggak. Tetapi jika ditanya apakah Prancis masih favorit? Masih favorit," sambung pria yang mengidolakan klub Liga Inggris, Manchester United.
Laga yang digelar Selasa (23/6) pagi ini di Lincoln Financial Field, menjadi pertandingan penting bagi kedua tim.
Prancis memburu kemenangan untuk mengamankan langkah ke fase gugur, sementara Irak berusaha bangkit setelah kalah telak pada laga pembuka.
Karena itu, perhatian Arnold kini tertuju penuh pada cara menghentikan lini serang Les Bleus yang dipimpin Mbappe.
Pelatih Timnas Irak, Graham Arnold, melontarkan candaan jelang laga melawan Prancis di pertandingan kedua Grup I Piala Dunia 2026.
Dalam potongan video sesi konferensi pers yang diunggah BBC, Graham Arnold dalam balutan baju polo untuk timnas Irak, ia mengaku sempat berpikir untuk meminta izin memainkan tiga penjaga gawang sekaligus demi menghentikan Kylian Mbappe.
Baca juga: Prediksi Skor Prancis vs Irak di Piala Dunia 2026: Les Bleus Bidik Tiket ke 32 Besar
Bagi Arnold, ide ekstrem itu terasa seperti satu-satunya cara untuk meredam ancaman terbesar yang dimiliki lawan.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Penyerang Real Madrid itu tampil tajam saat menghadapi Senegal dengan mencetak dua gol, sekaligus melewati rekor gol Piala Dunia milik legenda Brasil, Pele.
Ketajamannya kini menjadi ancaman nyata bagi pertahanan Irak.
Tantangan Irak semakin berat karena laga ini juga akan menjadi momen spesial dalam karier internasional Mbappe. Pertemuan kedua tim dipastikan menarik perhatian pencinta sepak bola dari berbagai penjuru dunia.
Irak datang dengan modal yang kurang meyakinkan setelah kebobolan empat gol saat menghadapi Norwegia.
Situasi di lini belakang memaksa Graham Arnold mencari solusi terbaik agar timnya tetap mampu bersaing.
Menghadapi salah satu kandidat kuat juara dunia tentu membutuhkan disiplin dan organisasi permainan yang nyaris tanpa cela.
Sementara itu, Mbappe telah mengoleksi 14 gol sepanjang penampilannya di Piala Dunia.
Catatan itu membuatnya sejajar dengan Gerd Muller dan hanya terpaut dua gol dari rekor sepanjang masa milik Miroslav Klose. Angka-angka tersebut menunjukkan betapa besar ujian yang menanti para pemain belakang Irak.
"Saya sempat bertanya apakah kami diizinkan untuk memainkan tiga penjaga gawang sekaligus. Namun, mereka tentu saja menjawab tidak boleh," ujar Arnold sambil tertawa dalam sesi konferensi pers, Minggu waktu setempat.
Meski begitu, Arnold menegaskan fokus utama timnya tetap pada peningkatan performa di lapangan.
Ia bahkan masih mempertimbangkan siapa yang akan menjaga gawang setelah kapten tim, Jalal Hassan, tampil kurang maksimal pada laga pertama. Irak bertekad memberikan perlawanan terbaik tanpa merasa kalah sebelum bertanding.
"Kami menyadari bahwa kami tidak bisa mengendalikan kualitas permainan yang akan ditunjukkan Prancis, tetapi kami sepenuhnya mengendalikan performa kami sendiri. Kami memastikan seluruh pemain siap turun ke lapangan dan menunjukkan kemampuan terbaik mereka kepada dunia," tutur Graham Arnold mengakhiri
(Tribunnews.com/Giri)