TRIBUNNEWS.COM - Piala Dunia 2026 hadir dengan perubahan format yang mengubah dinamika persaingan menuju fase gugur.
Untuk pertama kalinya, Piala Dunia 2026 yang diikuti 48 tim menyediakan delapan tiket tambahan ke babak 32 besar bagi tim yang finis di posisi ketiga grup.
Sebanyak 24 tim yang menempati peringkat dua teratas dari 12 grup otomatis lolos ke fase gugur.
Sementara itu, delapan slot tersisa akan diperebutkan oleh 12 tim yang finis di posisi ketiga.
Perubahan format tersebut memunculkan beragam pandangan.
Salah satunya datang dari Wakil Ketua Oranje Indonesia (komunitas pendukung Timnas Belanda, Arnan Binafsihi, saat menjadi bintang tamu podcast Super Taktik Tribunnews di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, beberapa waktu lalu.
Arnan menilai adanya format baru akan menambah jumlah pertandingan menarik yang bisa dinikmati penonton.
"Semakin banyak pertandingan, semakin banyak juga yang bisa kita tonton. Semakin banyak juga yang bisa kita bahas."
"Ini yang sebenarnya menjadi bumbu Piala Dunia kali ini, beda dari yang sebelumnya karena kan sebelumnya hanya 32 tim dan formatnya sudah bertahan kurang lebih dua atau tiga dekade," kata Arnan.
Baca juga: Ayyoub Bouaddi Tenteng Buku Aritmatika sebagai Rumus Permainan Maroko di Piala Dunia 2026
Persaingan untuk lolos sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik berlangsung ketat.
Tim-tim kuat seperti Belgia, Portugal, hingga Swedia harus bersaing dengan negara lain seperti Cape Verde dan Ekuador demi menjaga peluang ke babak 32 besar.
Hingga matchday kedua, Swedia dari Grup H memimpin klasemen sementara peringkat ketiga terbaik dengan tiga poin dari dua laga.
Skotlandia (Grup C) dan Paraguay (Grup D) memiliki jumlah poin sama, namun Swedia lebih unggul dalam selisih serta produktivitas gol.
Sementara itu, Portugal dari Grup K harap-harap cemas di peringkat enam dengan satu poin.
Per Senin (22/6/2026) pukul 17.00 WIB
FIFA menetapkan klasemen khusus untuk seluruh tim yang finis di posisi ketiga dari 12 grup.
Delapan tim terbaik dari klasemen tersebut akan melaju ke babak 32 besar.
Skema tersebut bukan hal baru dalam sepak bola internasional.
UEFA telah menerapkannya pada Piala Eropa 2016 ketika jumlah peserta meningkat menjadi 24 tim.
Sistem serupa juga pernah digunakan pada Piala Dunia edisi 1986, 1990, dan 1994.
Penentuan peringkat dilakukan berdasarkan beberapa indikator utama, yakni poin, selisih gol, jumlah gol, dan fair play.
Dengan jumlah pertandingan yang terbatas di fase grup, selisih gol menjadi faktor krusial dalam menentukan kelolosan.
Tim yang lolos sebagai peringkat ketiga nantinya akan menghadapi juara grup di babak 32 besar.
Sebagai ilustrasi, juara Grup E bisa bertemu salah satu tim peringkat ketiga dari Grup A, B, C, D, atau F.
Penentuan soal peluang tim peringkat tiga terbaik akan semakin jelas pada matchday terakhir yang dimulai pada 25 Juni 2026.
(Tribunnews.com/Isnaini)