BI Rate Naik, Rupiah Diselamatkan, Pertumbuhan Dikorbankan?
Abdul Azis Alimuddin June 22, 2026 07:06 PM

Oleh: Anas I. Anwar Makkatutu
Guru Besar FEB-Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,75 persen pada 18 Juni 2026 menimbulkan berbagai pertanyaan.

Banyak yang bertanya, mengapa suku bunga dinaikkan ketika inflasi masih terkendali dan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup baik?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu melihat kondisi ekonomi global yang sedang dihadapi saat ini. Ketidakpastian dunia masih tinggi.

Konflik geopolitik di berbagai kawasan, perubahan arah kebijakan ekonomi negara-negara besar, serta gejolak pasar keuangan global membuat aliran modal internasional bergerak sangat cepat dan sulit diprediksi.

Dalam situasi seperti ini, menjaga stabilitas ekonomi menjadi semakin penting.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa kenaikan BI Rate merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menjaga inflasi agar tetap berada dalam sasaran pemerintah, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.

Dengan kata lain, kebijakan ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga sebagai langkah antisipasi terhadap berbagai risiko yang mungkin muncul di masa depan.

Setiap kali BI mengumumkan perubahan suku bunga, perhatian masyarakat biasanya langsung tertuju pada pergerakan rupiah.

Hal ini wajar karena nilai tukar rupiah memengaruhi banyak aspek kehidupan sehari-hari.

Ketika rupiah melemah, harga barang impor cenderung naik, biaya pendidikan di luar negeri menjadi lebih mahal, dan industri yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi kenaikan biaya produksi.

Secara sederhana, kenaikan suku bunga membuat instrumen keuangan di dalam negeri menjadi lebih menarik bagi investor.

Ketika investor tertarik menempatkan dananya di Indonesia, permintaan terhadap rupiah meningkat sehingga tekanan terhadap nilai tukar dapat berkurang.

Karena itulah suku bunga sering digunakan sebagai salah satu instrumen untuk menjaga stabilitas kurs.

Namun hubungan antara suku bunga dan nilai tukar tidak selalu sesederhana teori ekonomi.

Pergerakan rupiah saat ini juga dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti kondisi ekonomi Amerika Serikat, harga komoditas dunia, ketegangan geopolitik, hingga sentimen investor global.

Tidak jarang rupiah tetap menghadapi tekanan meskipun suku bunga domestik berada pada level yang relatif tinggi.

Karena itu, BI Rate tidak dapat dipandang sebagai "obat ajaib" yang otomatis membuat rupiah menguat.

Suku bunga hanyalah salah satu instrumen yang digunakan untuk menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Ketika tekanan eksternal meningkat, kenaikan suku bunga dapat membantu menjaga kepercayaan investor dan mengurangi risiko gejolak yang lebih besar.

Di sisi lain, kebijakan ini juga memiliki konsekuensi.

Suku bunga yang lebih tinggi biasanya diikuti oleh kenaikan biaya pinjaman.

Dunia usaha harus menghadapi kredit yang lebih mahal, sementara sebagian masyarakat mungkin menunda konsumsi atau investasi yang membutuhkan pembiayaan dari perbankan.

Akibatnya, aktivitas ekonomi berpotensi tumbuh lebih lambat.

Di sinilah tantangan terbesar Bank Indonesia.

Di satu sisi, BI harus menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi.

Namun di sisi lain, BI juga perlu memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tetap berjalan. 

Menjaga keseimbangan antara dua tujuan tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah.

Meski demikian, pengalaman berbagai krisis ekonomi menunjukkan bahwa dampak dari ketidakstabilan nilai tukar sering kali jauh lebih besar dibandingkan dampak sementara dari kenaikan suku bunga.

Pelemahan rupiah yang berlebihan dapat meningkatkan harga barang impor, memicu inflasi, mengurangi kepercayaan investor, dan menciptakan ketidakpastian bagi dunia usaha.

Oleh karena itu, kenaikan BI Rate menjadi 5,75 persen sebaiknya tidak dipahami semata-mata sebagai upaya mengendalikan inflasi atau menguatkan rupiah.

Lebih dari itu, kebijakan ini merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah memastikan rupiah selalu menguat, melainkan menjaga agar pergerakannya tetap stabil dan terkendali.

Stabilitas ekonomi yang terjaga akan memberikan ruang bagi dunia usaha untuk berkembang, investor untuk tetap percaya, dan masyarakat untuk merencanakan kegiatan ekonominya dengan lebih baik. Itulah tujuan utama yang ingin dicapai melalui kebijakan BI Rate saat ini.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.