Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Muhammad Nasir | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Meski dipadati penonton, ruangan Arifa Safura Studio tetap sunyi dan gelap saat monolog Kurông dipentaskan pada Sabtu (20/6/2026).
Di bawah temaram cahaya merah, penonton duduk berjejal. Dari belakang ruangan, seorang perempuan yang membawa cemeti perlahan muncul, membuka pertunjukan yang sejak awal menghadirkan suasana mencekam sekaligus mengundang rasa penasaran.
Tanpa banyak properti, monolog Kurông mampu menghadirkan pengalaman yang kuat melalui gerak tubuh, suara, dan ekspresi yang intens. Pertunjukan yang dipersembahkan Cut Nyak Institute ini dimainkan oleh Zikrayanti.
Baca juga: Drama ‘tarik menarik’ JKA, Nasrul Sufi: Tontonan yang Membingungkan Masyarakat
Melalui bahasa tubuh dan simbol-simbol visual, Kurông berbicara tentang keterbatasan, pengawasan, serta perjuangan manusia mempertahankan ruang kebebasannya. Sepanjang pementasan, penonton diajak menyelami berbagai lapisan emosi, mulai dari rasa takut, tekanan, hingga kemarahan ketika hak atas tubuh dan diri sendiri dibatasi oleh aturan maupun norma sosial.
Pertunjukan ini tidak berhenti sebagai sajian seni semata. Usai pementasan, acara dilanjutkan dengan diskusi yang melibatkan penonton, seniman, dan pegiat komunitas dalam suasana hangat dan reflektif.
Zikrayanti mengungkapkan, karya tersebut lahir dari kegelisahannya terhadap berbagai realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Menurutnya, seni dapat menjadi medium untuk menyampaikan keresahan sekaligus membuka ruang percakapan mengenai isu-isu yang kerap sulit dibahas dalam forum formal.
“Seni memberi ruang untuk bertanya dan merefleksikan banyak hal yang mungkin selama ini kita anggap biasa,” ujarnya.
Diskusi semakin berkembang ketika Arifa Safura selaku moderator mengangkat isu relasi tubuh, gender, dan kekuasaan. Ia menilai tubuh perempuan masih kerap menjadi objek pengawasan sekaligus perdebatan dalam berbagai konteks sosial.
Menurut Arifa, kekuatan Kurông tidak hanya terletak pada pesan yang disampaikan, tetapi juga pada keberhasilannya membangun pengalaman emosional melalui pendekatan artistik yang matang. Permainan cahaya merah, bunyi logam, hingga elemen tangga yang menyerupai jeruji menciptakan suasana yang membuat penonton ikut merasakan keterbatasan yang ingin disampaikan.
“Penataan ruangnya membuat penonton tidak hanya melihat pertunjukan, tetapi juga merasakan pengalaman yang dibangun di dalamnya,” kata Arifa.
Sejumlah penonton turut membagikan pengalaman dan pandangan mereka. Beberapa mengaku merasa dekat dengan tema yang diangkat, terutama terkait tekanan sosial, stereotip gender, dan ruang kebebasan berekspresi.
Penata artistik pertunjukan, Rozhatul Valica, menyoroti dampak stereotip gender yang tidak hanya dialami perempuan, tetapi juga laki-laki. Menurutnya, berbagai konstruksi sosial yang membatasi ekspresi emosi maupun perilaku seseorang perlu terus dikritisi.
“Sering kali masyarakat memberikan penilaian yang berbeda terhadap tindakan yang sama hanya karena dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Stereotip yang dialami secara masif membuat orang menganggapnya sebagai norma,” ujarnya.
Diskusi juga menyinggung sejarah Aceh yang melahirkan banyak tokoh perempuan berpengaruh. Para peserta memandang warisan tersebut sebagai pengingat bahwa ruang partisipasi perempuan telah lama menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Aceh.
Sementara itu, unsur musikal dalam pertunjukan turut mendapat perhatian. Penata musik Farhan Ali menghadirkan komposisi yang memperkuat suasana batin sepanjang pementasan. Bunyi-bunyian yang muncul tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi juga membangun ketegangan dan emosi yang mengiringi setiap gerak pemain.
Melalui Kurông, Cut Nyak Institute menghadirkan seni pertunjukan sebagai ruang refleksi bersama. Karya ini menunjukkan bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk mengangkat berbagai isu sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.(*)