Laporan Wartawan TribunJatim.com, Yusron Naufal Putra
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Gedung Negara Grahadi Surabaya yang berlokasi di Jalan Gubernur Suryo belakangan ini kian kerap dikepung oleh gelombang aksi unjuk rasa.
Berbagai elemen masyarakat, mulai dari aliansi sipil hingga kelompok mahasiswa, bergantian memanfaatkan area depan bangunan bersejarah tersebut untuk menyuarakan kritik tajam terhadap berbagai kebijakan pemerintah pusat.
Menyikapi eskalasi aksi massa yang terus berulang di depan salah satu aset ikonik Pemprov Jawa Timur tersebut, Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, angkat bicara.
Ia menegaskan bahwa jajaran pemprov sama sekali tidak mempersoalkan hal tersebut dan sepenuhnya menghormati hak konstitusional warga negara.
Baca juga: Pemprov Jatim Targetkan Bongkar Ratoon 54 Ribu Hektare di Jawa Timur, Tersebar di 24 Kabupaten
"Kita menghormati saja apa yang menjadi aspirasi dari rekan-rekan (kelompok masyarakat dan mahasiswa)," ujar Emil Dardak saat ditemui usai menghadiri Rapat Paripurna di Gedung DPRD Provinsi Jatim, Jalan Indrapura, Senin (22/6/2026).
Secara historis dan fungsional, Gedung Grahadi bukan sekadar arsitektur kuno peninggalan zaman kolonial, melainkan pusat kegiatan kenegaraan dan simbol pemerintahan Jawa Timur. Namun dari sisi geografis, letak Grahadi memang sangat strategis karena berada tepat di urat nadi atau titik sentral Kota Surabaya.
Jalan Gubernur Suryo yang membentang di depan gedung tersebut merupakan jalur protokol yang selalu padat dan ramai.
Jalan ini juga menjadi akses perlintasan utama bagi masyarakat yang hendak menuju pusat penting lain, seperti Gedung DPRD Kota Surabaya maupun Balai Kota Surabaya. Faktor keramaian dan eksposur visual yang tinggi inilah yang dinilai menjadi alasan kuat mengapa para koordinator aksi gemar memilih halaman luar Grahadi sebagai panggung orasi agar suara mereka lebih didengar luas.
Catatan di lapangan menunjukkan, dalam beberapa pekan terakhir saja, area luar cagar budaya ini telah berkali-kali dipadati massa. Paling anyar, eskalasi gerakan kembali terlihat pada Senin (22/6/2026) sore, di mana ratusan massa dari elemen mahasiswa dan masyarakat sipil terkonsentrasi melakukan aksi damai di sana.
Selain halaman luar Gedung Negara Grahadi, episentrum pergerakan massa di Kota Pahlawan sejauh ini masih terbagi dengan kawasan di depan Gedung DPRD Jawa Timur yang berada di Jalan Indrapura.
Kedua titik ini seolah telah menjadi ruang publik yang sah bagi pergulatan ide dan penyaluran aspirasi politik arus bawah.
Meski arus lalu lintas di tengah kota kerap kali mengalami kepadatan atau pengalihan rute saat demonstrasi berlangsung, Pemprov Jatim berkomitmen untuk tetap menjaga situasi kondusif.
Wagub Emil Dardak menegaskan, di lokasi manapun masyarakat memilih untuk menyuarakan pendapatnya, koridor utamanya adalah menjaga kedamaian, ketertiban umum, serta saling menghormati antar-elemen bangsa.