Lionel Messi Membuktikan, Kisah Terbesar Lahir dari Mereka yang Memilih Bertahan
Suci BangunDS June 23, 2026 09:30 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Sepuluh tahun yang lalu, Lionel Messi sudah ingin pensiun dari Argentina, kegagalan demi kegagalan yang dia rasakan membuatnya jengah dan ingin mengakhiri perjalanan bersama timnas.

Saat itu, Juni 2016, Argentina kalah dari Chile di final Copa Amerika di New Jersey, Amerika Serikat, final besar keempat dalam sembilan tahun karier Lionel Messi dengan Albiceleste.

Messi menjadi salah satu sosok yang paling disorot dalam kegagalan itu karena tidak mampu mencetak gol dari titik penalti dalam babak adu penalti.

Messi yang frustasi dan emosi berkata, "Bagi saya, tim nasional sudah berakhir."

"Saya sudah melakukan semua yang saya bisa. Rasanya sakit tidak menjadi juara," sambungnya dikutip dari BBC.

Tapi tidak sampai dua bulan kemudian, Messi membatalkan niatnya pensiun.

Pelatih Argentina, Edgardo Bauza terbang langsung ke Barcelona untuk berdiskusi dengan Messi. Tujuannya jelas, yakni membujuk sang megabintang agar kembali memperkuat timnas Argentina.

Bauza menegaskan bahwa Messi adalah pemain yang masing sangat dibutuhkan oleh skuad Albiceleste.

Hingga akhirnya Messi kembali. Keputusan itu mendapat dukungan besar dari para penggemar Messi dan rakyat Argentina yang rela turun ke jalan-jalan di ibu kota Buenos Aires di bawah guyuran hujan untuk memberikan dukungan kepada Messi.

Tak ketinggalan, sang Presiden Argentina saat itu, Mauricio Macri ikut turun tangan langsung merayu Messi.

"Kecintaan saya pada negara saya dan kemeja (jersey timnas) ini terlalu besar," katanya pada tahun 2016.

Keputusan untuk membatalkan pensiun dini dari ajang internasional telah mengantarkan Messi dan Argentina pada era kesuksesan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam satu dekade terakhir Messi dapat menjadi jiwa bagi Argentina untuk mencapai final dan trofi-trofi bersejarah yang mereka impikan selama ini.

Argentina juara Copa America dalam dua edisi beruntun, tahun 2021 di Brasil dan 2024 di Amerika Serikat.

Di antara waktu tersebut, Lionel Messi mencapai tonggak sejarah dengan meraih gelar juara dunia untuk pertama kalinya setelah tahun 1986 pada masa Diego Maradona.

Perjalanan itu terus berlanjut, dengan harapan Argentina bisa mempertahankan mahkota juara Piala Dunia.

Dan untuk pertama kalinya setelah Brasil (tahun 1958 dan 1962) yang berhasil juara Dunia secara beruntun, serta menjadi yang ketiga setelah Italia dan Brasil.

Komentator BBC, Steve Bower berkata ini adalah momen abadi Lionel Messi.

Jika Messi tidak mengurungkan niatnya saat itu, sepak bola modern mungkin tidak akan seberwarna dan sekaya cerita seperti sekarang. Messi dengan segala kisah pencapaiannya telah menjadi yang terbaik di dunia.

Bahkan ketika dia tampil dan bermain di Piala Dunia 2026 dengan mencetak lima gol di dua pertandingan (Aljazair dan Austria), banyak orang kembali bersorak menyaksikan aksi Lionel Messi.

"Saya menikmatinya (bermain) dan bersenang-senang di lapangan," ucap Messi usai laga, dikutip dari BBC.

"Kami juga senang melihat orang-orang seperti ini, bisa memberi mereka kegembiraan," tambahnya.

Baca juga: Lionel Messi dan Gol yang Mengubah Energi Argentina di Piala Dunia 2026

Tugas Messi saat ini jauh lebih berat dari apa yang sudah dia capai, yakni bagaimana menjaga emosi itu agar dapat menularkan kebahagiaan ke banyak orang.

Jurnalis kenamaan asal Spanyol, Guillem Balague berkata di BBC, dia pernah melihat Messi hancur dalam 90 menit pertandingan.

Tapi saat ini adalah hal terbaik yang pernah dia saksikan dari seorang Lionel Messi.

"Di sini, pada akhirnya, dia berlari seperti orang lain, sekarang dia sangat mengenal tubuhnya," kata Balague.

"Messi tidak perlu berlari. Dia bahkan tidak membutuhkan kecepatan eksplosif untuk mengalahkan para pemain bertahan lawan, dia melakukannya dengan cerdas."

Balague masih berharap Messi dapat mengakhiri turnamen dengan baik dan menjalani masa-masa dengan konsisten meskipun tidak dipungkiri faktor usia akan menjadi kendala.

"Saya pikir kita akan melihatnya dalam empat tahun ke depan," jelasnya.

Mantan bek timnas Wales, Ashley Williams menyebutkan bahwa kita beruntung bisa berada di era seorang pesepak bola terbaik di dunia masih dapat menari-nari di lapangan dengan aksi individunya, mengkreasikan permainan dan peluang, sampai mencetak gol yang berujung rekor.

"Apakah kita sedang menyaksikan pemain terhebat sepanjang masa? Itu mungkin dan jelas layak diperdebatkan," jawab Williams di BBC One.

"Kita mungkin baru saja menyaksikan pemain terhebat yang pernah ada dalam sejarah sepak bola," tambahnya.

Dari air mata di New Jersey pada 2016 hingga sorak-sorai Piala Dunia 2026, Messi membuktikan bahwa kisah terbesar lahir dari mereka yang memilih bertahan.

Warisan terbesar Messi bagi Argentina mungkin bukan trofi yang ia menangkan, melainkan rasa percaya yang ia tanamkan kepada rekan-rekannya setiap kali berada di lapangan.

"Karena ada Lionel Messi, secara moral dan mental para pemain Argentina lebih percaya diri. Secara taktikal, satu dua sentuhannya masih menjadi yang terbaik di dunia, dan melahirkan momen krusial untuk tim," ujar Football Enthusiast Gigih W saat dikonfirmasi Tribunnews.

"Mindset para pemain Argentina begini, 'Dari 22 pemain yang ada di atas lapangan (jumlah pemain kedua tim), bagi pemain Argentina siapa yang paling jago? Ya Messi'," ungkap Gigih dengan analoginya.

(Tribunnews.com/Sina)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.