Bukan di Amerika, Penembakan di Sekolah Terjadi di Filipina: 3 Tewas, 2 Siswa Ditangkap
Nanda Lusiana Saputri June 23, 2026 10:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Tiga siswa tewas dan tujuh lainnya luka-luka setelah terjadi penembakan di sebuah sekolah menengah di Tacloban, Filipina.

Jika ditarik garis lurus dari Manado, Sulawesi Utara, Tacloban berjarak sekitar 1.200-1.300 kilometer.

Pada Senin (22/6/2026), Kantor Polisi Kota Tacloban (TCPO) menyatakan dalam sebuah rilis bahwa mereka menanggapi laporan penembakan aktif yang melibatkan siswa di Sekolah Menengah Nasional San Jose.

Insiden itu terjadi sekitar pukul 09.00 waktu setempat, kata TCPO dalam pernyataan sebelumnya.

Setelah tiba di lokasi kejadian, pihak berwenang mengamankan area tersebut dan segera membawa para korban yang terluka ke rumah sakit setempat.

Polisi mengonfirmasi semua korban adalah anak di bawah umur, dan tiga di antaranya dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit.

Pelaku penembakan, yang diidentifikasi dengan nama samaran "Rod" dan "Nash", telah ditahan oleh polisi.

"Dokumentasi dan penyelidikan dilakukan sesuai dengan prosedur peradilan anak dan perlindungan anak," tambah rilis TCPO.

Baca juga: Konflik Keluarga Berujung Penembakan di India, Lansia Tewas dan Empat Orang Terluka

Keduanya berusia 14 dan 15 tahun serta merupakan siswa di sekolah menengah tersebut, kata kepala polisi regional Brigjen Jason Capoy kepada wartawan, menurut Associated Press.

"Saya melihat seorang penembak berjalan menuju area kami, jadi saya menyuruh siswa untuk tenang dan bersembunyi di bawah meja mereka, lalu saya mengunci pintu. Mereka menangis dan panik," katanya.

"Para tersangka menerobos masuk ke dua ruangan. Setelah penembakan di ruangan pertama, anak-anak berlarian dan para tersangka tampaknya mengejar beberapa korban ke ruangan lain," kata Kepala Polisi Capoy kepada wartawan, menurut AP.

Meskipun salah satu tersangka ditangkap di tempat kejadian, tersangka kedua melarikan diri ke rumah terdekat.

Pihak berwenang kemudian menangkapnya setelah warga memberi tahu keberadaannya, kata polisi kepada media tersebut.

Setelah penyelidikan lebih lanjut, polisi meyakini penembakan itu kemungkinan dipicu oleh dendam pribadi yang diduga berakar dari perundungan di sekolah.

"Pihak berwenang saat ini sedang melakukan penyelidikan menyeluruh untuk mengetahui keadaan lengkap seputar kasus ini," lanjut pernyataan tersebut.

TCPO menemukan dua senjata api di lokasi kejadian yang akan menjalani pemeriksaan forensik.

"Insiden tragis yang melibatkan anak di bawah umur ini sangat menyedihkan," kata Direktur TCPO Kota Tacloban, Noelito A. Getigan, dalam sebuah pernyataan.

"Kami meyakinkan publik bahwa investigasi menyeluruh dan tidak memihak sedang dilakukan untuk mengungkap kebenaran dan memastikan pertanggungjawaban, sambil tetap memperhatikan hukum yang berlaku, terutama yang melindungi anak di bawah umur."

Departemen Pendidikan Filipina juga mengatakan dalam sebuah rilis bahwa mereka bekerja sama dengan lembaga pemerintah untuk memberikan bantuan medis dan intervensi psikososial yang tepat bagi mereka yang terdampak.

"Kami mengutuk keras tindakan kekerasan ini dan menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga para korban, serta doa tulus kami untuk kesembuhan yang cepat bagi mereka yang terluka. Kantor pusat saat ini sedang memobilisasi bantuan untuk para siswa yang terdampak," kata departemen tersebut.

Dari Mana Pelaku Mendapatkan Senjatanya?

Mengutip Philstar.com, salah satu pelaku diduga mendapatkan senjata api dari bibinya yang merupakan seorang polisi.

Polisi tersebut terancam hukuman karena gagal menyimpan senjatanya dengan benar.

Polisi mengatakan tersangka Nash menggunakan pistol Glock 9 mm yang terdaftar atas nama bibinya.

Tersangka lainnya, Rod, diduga membawa revolver kaliber .38 yang terdaftar atas nama sebuah agen keamanan yang berbasis di Kota Cebu.

Belum diketahui dari mana Rod mendapatkan senjata tersebut.

Kasus Penembakan di Sekolah

Meski ada, penembakan di sekolah di Filipina tergolong jarang terjadi, menurut Australian Broadcasting Corporation (ABC).

Hal ini berbeda dengan kasus penembakan di sekolah-sekolah Amerika Serikat, di mana kepemilikan dan penggunaan senjata api diperbolehkan dengan syarat tertentu.

Menurut Gun Violence Archive, pada 2024 lebih dari 1.400 anak dan remaja berusia 0-17 tahun meninggal akibat senjata api dan lebih dari 3.700 lainnya terluka.

Senjata api bahkan menjadi penyebab utama kematian di kalangan anak-anak dan remaja di Amerika Serikat.

Dalam sebuah studi tahun 2022 yang dikutip Sandy Hook Promise, senjata api merupakan penyebab utama kematian bagi anak-anak dan remaja berusia 1-17 tahun.

Diperkirakan 4,6 juta anak-anak di Amerika Serikat tinggal di rumah yang memiliki setidaknya satu senjata api yang disimpan dalam keadaan terisi peluru dan tidak terkunci.

Penyimpanan senjata yang tidak aman tersebut telah berkontribusi terhadap berbagai kasus penembakan.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.