Oleh: Ronaldus Asto Dadut
Pegiat Sosial di KAREKA Sumba, Tinggal di Tambolaka, Sumba Barat Daya.
POS-KUPANG.COM - Bayangkan Anda sedang duduk di depan layar, mengetikkan pertanyaan rumit tentang hukum, kesehatan, atau strategi bisnis. Dalam hitungan detik, jawaban panjang dan terstruktur muncul di hadapan Anda.
Tidak perlu antre, tidak perlu membayar konsultan, tidak perlu menunggu balasan email.
Itulah realitas yang kini kita jalani. Dan pertanyaan yang kemudian menghantui bukan soal seberapa canggih AI itu, melainkan: apa yang masih membuat manusia bernilai?
World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 mencatat bahwa keterampilan yang paling sulit digantikan AI justru bukan keterampilan teknis, melainkan kepemimpinan dan pengaruh sosial, empati, serta kemampuan mendengar secara aktif.
Baca juga: Komunitas KAREKA Sumba Buka Pendaftaran Calon Pasien Operasi Bibir Sumbing dan Langit-langit
Laporan itu juga memproyeksikan 39 persen keterampilan kerja saat ini akan berubah fundamental pada 2030.
Artinya, generasi yang kini duduk di bangku sekolah Indonesia sedang belajar untuk dunia yang sebagian besarnya belum ada. Pertanyaannya: apakah yang kita ajarkan sudah tepat?
Pada 25 Mei 2026, sebuah jawaban datang dari tempat yang tidak terduga: Vatikan. Paus Leo XIV merilis ensiklik pertamanya, Magnifica Humanitas — Kemanusiaan yang Agung.
Dokumen lebih dari dua ratus halaman yang secara khusus membahas tantangan moral dan etika di era kecerdasan buatan.
Dalam pembukanya, Paus menulis bahwa umat manusia kini berdiri di persimpangan: membangun menara Babel baru yang angkuh, atau membangun kota tempat martabat setiap manusia dijunjung tinggi.
Paus menyerukan agar AI "dilucuti" dari logika dominasi dan pengucilan lalu diarahkan untuk melayani, bukan menguasai. Seruan itu bukan hanya milik umat Katolik. Ia adalah cermin bagi seluruh peradaban yang sedang bingung meletakkan teknologi di antara nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam pengalaman kami di KAREKA Sumba — Komunitas Relawan Kemanusiaan yang berdiri sejak 14 Oktober 2014 di Waitabula, Sumba Barat Daya, NTT.
Batas antara yang bisa dijawab mesin dan yang hanya bisa disentuh manusia terasa nyata setiap hari. KAREKA Sumba lahir dari kepedulian anak-anak muda Pulau Sumba dari berbagai latar profesi dan keilmuan, namun satu dalam semangat karya kemanusiaan.
Fokus kami menjangkau isu literasi, pendidikan, bahaya trafficking dan kesehatan masyarakat. Justru di sinilah kami menyaksikan sendiri apa yang tidak pernah bisa dikerjakan oleh mesin.
Seorang pemuda yang baru saja gagal masuk perguruan tinggi tidak butuh AI yang memberinya daftar opsi beasiswa. Ia butuh seseorang yang duduk bersamanya, menatap matanya, dan berkata: kegagalan ini bukan akhir dari ceritamu.
Seorang warga di pedalaman Sumba Barat Daya yang berjuang melawan TBC tidak butuh algoritma yang merekomendasikan obat generik.
Ia butuh pendamping yang hadir, yang mau berjalan bersama ke kampung-kampung, yang mendengar tanpa menghakimi, yang rela menggalang dana demi paket sembako untuk meringankan beban pengobatan.
Itulah yang kami lakukan bersama PERDHAKI (Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia) dalam peringatan Hari TBC Sedunia: berkolaborasi, menggalang lebih dari Rp15 juta, lalu menyerahkannya langsung ke tangan pasien di Sumba Barat Daya.
Seorang anak dengan bibir sumbing dan langit-langit yang terbelah juga tidak butuh diagnosis instan dari mesin.
Ia butuh relawan yang mau menjaring dan mendampinginya dari pedalaman Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, hingga Sumba Barat Daya, lalu mengantarnya ke meja operasi.
Sejak 2022, lewat program “Senyum untuk Sumba”, kami berkolaborasi dengan Smile Train Indonesia, Sister Forever’89 Jogja, Yayasan KBH Sarneli, Emily 07, Yayasan Anugerah Sentosa Surabaya, dan RS Karitas Waitabula untuk menghadirkan operasi gratis bagi anak-anak yang selama ini tak terjangkau layanan medis karena keterbatasan ekonomi.
AI bisa memahami pertanyaan, tapi tidak bisa merasakan kegelisahan di baliknya. Dan itulah yang tidak bisa diunduh dari internet mana pun. Di Indonesia, tantangan ini terasa berlapis.
Survei Status Literasi Digital Indonesia yang digelar Kominfo bersama Katadata Insight Center mencatat indeks literasi digital kita memang terus naik dari 3,46 pada 2020 menjadi 3,78 pada 2024, namun kenaikannya melandai dan kita masih berkutat di kategori “sedang”, jauh dari “mahir”.
Kita sedang berpacu mengejar kemampuan teknis, sementara kemampuan sosial-emosional yang justru paling dibutuhkan di era AI, nyaris tidak pernah masuk dalam kerangka kurikulum formal.
Kita mengajarkan anak cara menggunakan gawai, tapi jarang mengajarkan cara menatap mata orang yang sedang berbicara.
Komunitas adalah ruang di mana pelajaran itu bisa terjadi. Jika sekolah mengajarkan cara menjawab soal, komunitas mengajarkan cara memahami manusia.
Di KAREKA Sumba, kami menyaksikan sendiri bagaimana seorang relawan muda yang awalnya canggung berbicara di depan orang lain, perlahan tumbuh menjadi pendamping yang peka dan dipercaya.
Bukan karena ia mengikuti pelatihan berbasis modul, melainkan karena ia menghadapi situasi nyata: turun langsung ke desa-desa untuk memberikan edukasi kesehatan dan bahaya trafficking, mengelola dinamika tim yang beragam, memimpin tanpa otoritas formal.
Hal yang sama terjadi ketika relawan-relawan muda kami menghadirkan kelas digital gratis bagi pelajar SMA/K di Waitabula, Sumba Barat Daya.
Materinya bisa saja diakses dari video tutorial mana pun, tapi yang membuat anak-anak itu benar-benar belajar adalah kehadiran relawan yang mau duduk, menunggu, dan mengulang penjelasan sampai mereka mengerti, sesuatu yang mendorong literasi digital bukan sebagai angka, melainkan sebagai pengalaman.
Kecerdasan sosial tidak bisa diajarkan melalui ceramah. Ia hanya bisa ditumbuhkan melalui pengalaman langsung bersama manusia-manusia nyata.
Magnifica Humanitas lahir, menurut Paus Leo XIV sendiri, dari proses mendengarkan secara luas dari para ilmuwan, insinyur, pendidik, pemimpin, dan keluarga biasa yang gelisah soal masa depan generasi muda.
Itulah yang komunitas lakukan setiap hari: mendengarkan. Ensiklik itu mengingatkan bahwa teknologi yang bermartabat hanya bisa dibangun oleh manusia yang telah belajar menghargai sesama. Dan belajar menghargai sesama tidak terjadi di ruang isolasi digital.
Ia terjadi di komunitas, di lingkaran diskusi pemuda, di pendampingan satu-satu, di momen ketika seorang relawan KAREKA Sumba rela berjalan jauh ke desa-desa dan kampung bukan karena kewajiban, melainkan karena peduli.
Kita tidak perlu takut pada AI. Tapi kita perlu jujur bertanya: sudahkah kita mempersiapkan generasi yang tidak hanya mahir menggunakannya, tetapi juga memiliki sesuatu yang tidak bisa diprogram, kemampuan hadir secara penuh untuk sesama?
WEF menyebutnya empati dan kepemimpinan sosial. Paus Leo XIV menyebutnya Magnifica Humanitas. Kami di KAREKA Sumba menyebutnya dengan lebih sederhana: keberanian untuk peduli. (*)