Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Andika Satria Bharata
TRIBUNPALU.COM, SIGI - Ketika bumi berguncang hebat dan warga berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri, sebuah tangis bayi justru terdengar dari tenda pengungsian di Desa Kamarora B, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi.
Tangis itu adalah suara pertama Efker, bayi laki-laki yang lahir di tengah situasi darurat akibat gempa bumi Magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Sigi pada (16/6/2026).
Ibunya, Arciana, tak pernah membayangkan proses persalinan anak ketiganya akan berlangsung di pengungsian.
Saat kontraksi mulai terasa sore hari, kondisi wilayah masih diliputi kepanikan akibat gempa dan rentetan guncangan susulan.
Jalan menuju fasilitas kesehatan sulit dilalui, sementara warga lebih memilih bertahan di lokasi pengungsian demi keselamatan.
Baca juga: Relawan Perusahaan Asal Morowali Gelar Trauma Healing untuk Anak Korban Gempa di Kamarora B
“Sudah mulai sakit dari sore. Malamnya sekitar jam delapan anak saya lahir,” kenang Arciana.
Di bawah tenda sederhana, dengan penerangan seadanya dan fasilitas yang sangat terbatas, proses persalinan berlangsung.
Sejumlah keluarga, warga, dan tenaga kesehatan yang berada di lokasi turut membantu hingga bayi tersebut lahir dengan selamat.
Meski sempat dilanda kekhawatiran, Arciana mengaku berusaha tetap kuat menghadapi keadaan.
“Takut pasti ada, apalagi sedang gempa. Tapi semuanya berjalan baik,” ujarnya.
Kelahiran Efker menjadi kabar yang membawa senyum di tengah kesedihan warga yang kehilangan rumah akibat bencana.
Baca juga: Bupati Morowali Sambut Danrem 132/Tadulako, Perkuat Sinergi Jaga Stabilitas Daerah
Nama Efker pun dipilih bukan tanpa alasan.
Nama tersebut diambil dari kata “gempa”, sebagai penanda bahwa dirinya lahir saat bencana besar mengguncang kampung halamannya.
Suami Arciana yang sehari-hari bekerja sebagai petani turut mendampingi proses persalinan hingga selesai.
Beberapa hari kemudian, petugas kesehatan datang ke lokasi pengungsian untuk memeriksa kondisi ibu dan bayi. Hasilnya, keduanya dinyatakan sehat.
Di tengah tenda-tenda pengungsian yang berdiri di antara puing-puing bangunan, kisah kelahiran Efker menjadi cerita yang memberi harapan bagi warga Nokilalaki.
Saat banyak orang kehilangan tempat tinggal akibat bencana, sebuah kehidupan baru justru hadir, membawa pesan sederhana bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang, bahkan ketika bumi sedang bergetar.(*)