Lewat Film Teman Tegar: Maira, Pemkot Jambi Perkuat Pendidikan Karakter dan Kesadaran Lingkungan
Suci Rahayu PK June 23, 2026 02:04 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Pemerintah Kota Jambi menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan sosialisasi film anak Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua yang dihadiri kepala sekolah dari berbagai jenjang pendidikan.

Kegiatan dihadiri Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, sebagai bentuk dukungan Pemerintah Kota terhadap penguatan pendidikan karakter, kepedulian lingkungan, serta pengembangan media pembelajaran kreatif bagi peserta didik.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Jambi mendorong pemanfaatan film sebagai sarana edukasi yang mampu menanamkan nilai-nilai karakter, empati, keberagaman dan tanggung jawab sosial kepada generasi muda.

Kehadiran para kepala sekolah menandai komitmen bersama antara pemerintah daerah dan satuan pendidikan dalam menghadirkan proses pembelajaran yang lebih kontekstual, inspiratif, dan dekat dengan kehidupan peserta didik.

Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha menyampaikan, pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kepedulian sosial anak-anak sejak dini.

“Film menjadi salah satu media yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan kepada anak-anak. Melalui cerita yang dekat dengan kehidupan mereka, nilai-nilai seperti kepedulian terhadap lingkungan, persahabatan, toleransi, dan keberanian dapat ditanamkan dengan cara yang lebih menyenangkan dan mudah dipahami,” ujarnya.

Baca juga: Yayasan Pendidikan Bintang Sembilan Jambi Mangkir dari Sidang Perdana Gugatan PHK Dosen

Baca juga: Cendol Durian Bang Saka di Jambi Kian Berkembang dengan Dukungan Layanan BRI

Ia juga mengajak seluruh kepala sekolah untuk memanfaatkan berbagai media kreatif sebagai bagian dari proses pembelajaran karakter di lingkungan sekolah.

“Kita ingin melahirkan generasi muda Kota Jambi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan, menghargai keberagaman dan mampu menjadi agen perubahan bagi masyarakat di masa depan,” tambahnya.

Sebagai daerah yang dilintasi Sungai Batanghari dan memiliki kekayaan sumber daya alam yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat, kesadaran menjaga lingkungan menjadi salah satu nilai yang perlu terus ditanamkan kepada generasi muda melalui berbagai pendekatan pendidikan yang relevan dan menarik.

Pemerintah Kota Jambi berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, satuan pendidikan, pelaku industri kreatif, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya guna memperkuat ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Dari Inklusi ke Krisis Iklim

Jika film pertama yang diproduksi Aksa Bumi Langit berjudul Tegar berbicara tentang inklusi dan hak anak penyandang disabilitas, maka Maira memperluas semangat tersebut ke isu global yakni climate crisis dan ketahanan masyarakat adat. Film ini tidak memposisikan anak-anak sebagai korban, melainkan sebagai subjek yang punya suara, keberanian dan kemampuan untuk bertindak.

Produser film, dr. Chandra Sembiring, seorang dokter kemanusiaan yang telah bertugas dari satu bencana ke bencana lain, termasuk misi internasional di Afghanistan, menyebut film sebagai alat kampanye yang paling efektif dan berdaya ingat panjang.

“Di lapangan kemanusiaan, kita selalu bicara soal kampanye dan sosialisasi, tapi film punya keunggulan: ia masuk ke ingatan orang,” kata Chandra.

“Lewat satu film, kita bisa menjangkau jutaan orang dan menggerakkan empati dengan cara yang lebih manusiawi.”

Berangkat dari pengalaman panjangnya di wilayah konflik, bencana, hutan dan gunung-gunung, Chandra melihat bahwa masyarakat adat justru memiliki konsep resiliensi yang kuat, sesuatu yang sering terabaikan dalam narasi pembangunan modern.

“Kami ingin membangun ekosistem. Setiap film adalah alat edukasi, alat kampanye dan benih gerakan,” ucap Chandra.

Baca juga: Perhiasan di Jambi Rp8,650 Juta per Mayam, 23/6/2026 Emas Antam Naik Tipis Rp2.673.000

Diproduksi Bersama Papua

Maira – Whisper from Papua tidak hanya mengambil lokasi di Papua, tetapi juga diciptakan bersama Papua. Sebanyak 70 persen kru adalah anak muda Papua, dan mayoritas pemeran merupakan masyarakat lokal yang menjalani pelatihan intensif selama empat bulan.

Film ini mengambil gambar langsung di kawasan pedalaman Papua, tempat hutan hujan tropis masih berdiri megah, dengan kehadiran burung cendrawasih, rangkong dan lanskap alam yang nyaris tak tersentuh. Seluruh proses produksi dilakukan dengan pendekatan kolaboratif bersama masyarakat adat, kepala suku, dan seniman lokal.

“Kami tidak ingin Papua hanya jadi latar. Kami ingin ini menjadi karya bersama, dari Papua untuk hutan Indonesia,” tegas Anggi.

Musik sebagai Suara Alam

Keunikan Maira juga terletak pada pendekatan musikalnya. Film ini memadukan dongeng, musik dan lanskap alam sebagai satu kesatuan narasi.

Penyanyi dan aktris asal Papua Joanita Chatarine memimpin pengembangan musik film. Bersama musisi lokal dan nasional, ia menciptakan komposisi orisinal yang menggabungkan ritme tradisional Papua dengan orkestrasi sinematik.

“Banyak anak di Papua yang mungkin tidak bisa membaca, tapi mereka tidak buta nada,” ujar Anggi.

“Musik menjadi bahasa universal yang menjembatani cerita, alam dan emosi.”

Jejak Prestasi Film Tegar di Panggung Internasional

Kesuksesan Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua tidak lahir dari ruang hampa. Film ini merupakan kelanjutan dari Tegar (2022), film anak karya Anggi Frisca yang telah menjelma menjadi fenomena sosial dan meraih pengakuan luas di tingkat nasional maupun internasional.

Sejak dirilis di Indonesia pada 24 November 2022, Tegar telah ditonton oleh lebih dari 1,7 juta pelajar dari jenjang SD hingga SMA di lebih dari 4.000 sekolah di seluruh Indonesia, serta menjadi bagian dari program edukasi karakter dan inklusi di berbagai daerah.

Di panggung internasional, Tegar membuktikan bahwa kisah lokal dengan nilai kemanusiaan universal mampu menembus batas geografis dan budaya. Film ini meraih berbagai penghargaan bergengsi di lebih dari 22 negara, antara lain:

Golden Taiga Award, Rusia (2024) – Film Terbaik (Kategori Keluarga)

Universal Kids Film Festival, Turki (2024) – Film Terbaik

Golden Butterfly Awards, Iran (2023) – Film Internasional Terbaik & Aktor Terbaik (Pilihan Juri Anak)

Bulbul Children Film Festival, India (2023) – Film Terbaik

Children Care International Film Festival, Paris (2023) – Film Terbaik

Chinese International Children’s Film Festival (2024) – Pemeran Anak Terbaik

Hungarian Special Film Festival (2024) – Sutradara Terbaik & Aktor Terbaik

Children’s Film Festival of Wales, Inggris (2024) – Nominasi Sutradara Terbaik & Aktor Terbaik

Pemeran utama Tegar, M Aldifi Tegarajasa, juga mencatat prestasi internasional dengan meraih penghargaan Aktor Terbaik di berbagai festival film anak di Iran, Rusia, Hungaria dan negara lainnya, menjadikannya salah satu aktor anak Indonesia paling diakui di kancah global.

“Kesuksesan Tegar memberi kami keberanian untuk melangkah lebih jauh,” ujar Anggi Frisca.

“Lewat Maira, kami ingin memperluas percakapan, dari inklusi disabilitas ke isu krisis iklim dan hak masyarakat adat, tanpa kehilangan kejujuran dan keberpihakan pada anak-anak,” jelasnya.

Anggi menambahkan, “Saya menyebut diri saya petani film. Film ini adalah bibit yang kami tanam dengan puluhan tahun pengalaman, kegelisahan, dan cinta pada Indonesia,” ungkapnya.

Melanjutkan Semangat Tegar

Aktor muda M Aldifi Tegarajasa kembali memerankan karakter Tegar, tokoh yang sebelumnya meraih berbagai penghargaan internasional. Ia hadir sebagai sahabat setia Maira, membawa kehangatan, rasa ingin tahu dan perspektif baru tentang dunia di luar kota.

Seperti film pertamanya, Maira tetap mengusung prinsip “Nothing About Us Without Us”, dengan pendekatan produksi yang inklusif, beretika, dan berpihak pada komunitas.

Teman Tegar: Maira menjadi langkah strategis Aksa Bumi Langit sebagai rumah produksi, bersama KUN Humanity sebagai mitra gerakan sosial.

Tentang Film
Judul: Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua
Genre: Film Anak, Petualangan, Musikal
Tema: Persahabatan, Hutan Adat, Krisis Iklim, Ketahanan Masyarakat Adat
Produksi: Aksa Bumi Langit
Mitra: KUN Humanity

Di tengah hutan Papua, dua anak dari latar belakang berbeda memulai perjalanan yang mengubah hidup mereka, berawal dari rasa ingin tahu terhadap burung cendrawasih, hingga keberanian untuk memperjuangkan hak hutan sebagai masa depan bersama. (Tribunjambi.com/M Yon Rinaldi)

 

Simak informasi lainnya di media sosial Facebook, Instagram, Thread dan X Tribun Jambi

Baca juga: Kalender Pendidikan 2026/2027 untuk SD, SMP dan SMA/K di Jambi

Baca juga: Yayasan Pendidikan Bintang Sembilan Jambi Mangkir dari Sidang Perdana Gugatan PHK Dosen

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.