TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah muncul pernyataan keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait eskalasi serangan Israel ke wilayah Lebanon.
Dalam komentarnya, Donald Trump disebut-sebut mengaku marah atas meningkatnya intensitas gempuran yang dinilai dapat memperburuk situasi kawasan yang sudah sangat rapuh.
Pernyataan tersebut memicu perhatian luas karena dianggap tidak biasa, mengingat Trump dikenal sebagai salah satu sekutu dekat Israel selama masa kepemimpinannya.
Namun kali ini, ia justru menyinggung perlunya pengendalian terhadap langkah-langkah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Trump bahkan secara blak-blakan menyebut bahwa dirinya harus berperan menjaga Netanyahu agar “tetap waras” di tengah tekanan konflik yang terus membesar.
Komentar itu muncul di saat ketegangan antara Israel dan kelompok di Lebanon dilaporkan meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Serangan dan balasan militer yang terjadi dinilai berpotensi memicu konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan Trump tersebut kemudian memicu berbagai reaksi dari publik dan pengamat politik internasional.
Sebagian menilai ucapan itu sebagai bentuk kekhawatiran terhadap eskalasi konflik yang tak terkendali.
Sementara lainnya melihatnya sebagai sinyal adanya pergeseran sikap dalam dinamika hubungan politik antara Amerika Serikat dan Israel.
Baca juga: Isu Israel Dikendalikan Trump Dibantah Keras Netanyahu, Tanda Ketegangan 2 Sekutu Menguat?
Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap bahwa dirinya harus menjaga Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu “sedikit lebih waras” terkait kebijakan Israel di Lebanon.
Pernyataan itu muncul dalam wawancara dengan Axios yang dirilis pada Jumat (19/6/2026), ketika Trump membahas hubungan dengan Netanyahu serta peran Washington dalam konflik Israel-Hizbullah.
“Saya harus membuatnya sedikit waras mengenai Lebanon,” kata Trump, seperti dikutip Anadolu.
Trump kemudian mengatakan bahwa Amerika Serikat memiliki pengaruh kuat terhadap Israel karena dukungan militer yang diberikan Washington.
“Mereka sangat menghormati saya, dan mereka melakukan apa yang saya katakan,” ujar Trump ketika ditanya apakah ia mampu mencegah Israel menyerang Hizbullah di Lebanon demi mempertahankan kesepakatan gencatan senjata.
Trump juga menekankan peran Amerika Serikat dalam memperkuat kemampuan militer Israel.
"Kamilah yang memiliki senjata, kamilah yang mengendalikan semuanya, kamilah yang memiliki pesawat pembom B-2, dan lain sebagainya," kata Trump.
Ia kemudian mengeklaim bahwa tanpa dukungan Amerika Serikat, Israel akan berada dalam kondisi yang sangat sulit.
“Kalau bukan karena Donald Trump, Israel akan musnah,” ujarnya.
Sebelumnya, Trump juga mengatakan bahwa dirinya telah menyarankan Netanyahu untuk mengambil pendekatan yang lebih lunak di Lebanon.
Ia menilai Israel tidak harus menghancurkan sebuah bangunan setiap kali ada seseorang yang diduga terkait dengan Hizbullah memasuki lokasi tersebut.
Pernyataan Trump tersebut muncul bersamaan dengan berlakunya gencatan senjata baru antara Israel dan Hizbullah pada Jumat pukul 16.00 waktu setempat.
Kesepakatan itu diumumkan setelah meningkatnya konflik yang menyebabkan 47 orang tewas di Lebanon selatan dan empat tentara Israel tewas sejak Jumat pagi.
Konflik Israel-Hizbullah juga menjadi salah satu bagian penting dalam pembicaraan terkait kesepakatan Amerika Serikat dengan Iran. Salah satu ketentuan utama dalam nota kesepahaman tersebut adalah penghentian pertempuran di seluruh front, termasuk Lebanon.
Iran sebelumnya menyatakan tidak akan mengikuti putaran pertama pembicaraan terkait kesepakatan itu selama Israel dan Hizbullah masih terlibat pertempuran.
Kekhawatiran Iran terhadap situasi di Lebanon membuat pemerintahan Trump menunda perjalanan Wakil Presiden AS JD Vance ke Swiss untuk memulai pembicaraan lanjutan.
Meski Trump dan Netanyahu selama ini dikenal memiliki hubungan dekat, ketegangan antara keduanya mulai terlihat dalam beberapa pekan terakhir.
Trump mengatakan bahwa dirinya kehilangan rasa hormat terhadap sejumlah pihak yang mendorong kelanjutan perang, terutama kelompok garis keras yang ingin terus melakukan serangan.
“Saya kehilangan rasa hormat terhadap beberapa orang. Anda tahu, kelompok garis keras, ‘Oh, saya akan menghancurkan mereka,’” kata Trump.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin melihat banyak korban jiwa.
“Saya tidak ingin membunuh orang. Saya punya satu keinginan utama sebagai presiden, dalam hal kemanusiaan. Saya tidak pernah ingin menjadi Herbert Hoover berikutnya,” ujar Trump.
Menurut Trump, konflik yang terus berlanjut dapat berdampak buruk terhadap kondisi ekonomi global.
Ketegangan antara Trump dan Netanyahu sebelumnya juga terlihat setelah Trump mengonfirmasi bahwa ia pernah menyebut Netanyahu dengan istilah kasar dalam percakapan telepon terkait serangan Israel terhadap target Hizbullah di Lebanon selatan.
Trump juga pernah menyatakan bahwa dirinya berhasil membuat Israel dan Hizbullah sepakat menghentikan pertempuran, tetapi kedua pihak kemudian tetap saling menyerang.
Selain itu, Trump pekan lalu mendesak Israel agar tidak membalas serangan Iran, namun Netanyahu tetap mengambil langkah tersebut.
Trump dan Wakil Presiden AS JD Vance selama ini menyampaikan bahwa kesepakatan dengan Iran merupakan cara efektif untuk menghentikan ambisi nuklir Teheran serta dukungannya terhadap kelompok proksi.
Namun, sejumlah pendukung kebijakan perang, termasuk anggota senior Partai Republik di Kongres, menilai kesepakatan tersebut terlalu menguntungkan Iran.
Trump membela kesepakatan itu dengan menyebut dampaknya terhadap ekonomi.
“Pasar saham naik ribuan poin. Semua orang menjadi lebih kaya. Sekarang, apakah Anda lebih memilih itu, atau menjadi seperti orang-orang bodoh?” kata Trump.
Sementara itu, Vance sebelumnya memperingatkan anggota pemerintah Israel agar tidak menentang kesepakatan tersebut. Ia mengatakan bahwa Trump merupakan satu-satunya pemimpin negara yang masih menunjukkan dukungan kuat terhadap Israel.
“Masalah bagi Israel bukanlah Donald Trump,” kata Vance.
“Siapa pun di Israel yang berpikir masalah terbesar mereka adalah presiden Amerika Serikat perlu bangun dan melihat kenyataan situasi yang mereka hadapi.”
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)