TRIBUNSUMSEL.COM – Kondisi ekonomi keluarga YTR (29), korban penyekapan dan penganiayaan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, turut menjadi perhatian publik.
Di tengah proses pemulihan korban yang diperkirakan membutuhkan penanganan medis jangka panjang, kedua orang tua YTR diketahui bukan berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi mapan.
Ayah korban bekerja sebagai buruh pabrik, sementara ibunya menjalani pekerjaan serabutan dengan membantu pekerjaan orang lain.
Informasi tersebut disampaikan adik kandung ibu korban, Erni, melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, @erni1.986.
Baca juga: Menkes Budi Gunadi Sedih, Pastikan YTR Yang Disekap 3 Tahun Akan Jalani Perawatan Hingga Tuntas
Erni mengungkapkan kakaknya bersama sang suami memiliki penghasilan terbatas, sementara kebutuhan biaya perawatan YTR diperkirakan cukup besar.
"Kakak saya ini hanya bantu-bantu orang. Suaminya juga hanya kerja di pabrik gitu ya, bukan dengan penghasilan yang besar. Ini butuh biaya besar buat ke depannya," ungkap Erni saat mendampingi kakaknya di rumah sakit, dikutip Selasa (23/6/2026).
Kondisi tersebut membuat keluarga korban harus menghadapi tantangan tersendiri di tengah upaya pemulihan YTR yang masih menjalani perawatan intensif.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan YTR mendapatkan penanganan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dan akan menjalani perawatan hingga proses rekonstruksi wajah.
Beban ekonomi ini terasa semakin menyesakkan dada karena selama tiga tahun terakhir, kedua orang tua YTR sudah sangat tersiksa secara batin akibat kehilangan sang putri yang pergi tanpa kabar.
Erni menceritakan, sang kakak saban hari selalu menangis dan mencurahkan isi hatinya karena mengkhawatirkan nasib YTR.
Di setiap kesempatan ibadah salat, kakaknya ini tidak pernah absen menyelipkan doa agar putri mereka bisa segera pulang ke rumah.
Kini, setelah penantian panjang, sang anak memang telah kembali berkumpul bersama mereka.
Namun, kondisi YTR yang terluka parah membuat hati sang ayah dan ibu kembali tersayat.
"Saya udah datang di rumah sakit, di Bandung untuk melihat keponakan saya Yuvita, kebetulan ini ada kakak saya, yang menjadi ibu korban. Sekarang posisi Yuvita lagi tidur," kata Erni.
"Minta doanya ya gais buat semuanya, semoga keponakan saya cepet sembuh. Si pelakunya juga bisa segera ditemukan. Dan ini kakak saya sebagai ibu dari korban." tutupnya.
Ketika ditanya mengenai proses hukum yang sedang berjalan, ibu kandung korban meluapkan kemarahannya terhadap tindakan keji yang menimpa sang anak dan berharap pelaku bisa segera ditangkap.
"Cepat ketangkaplah, kalo ada mah di massa dulu sebelum dibawa ke polisi teh, biar ngerasain dulu sakitnya anak saya." jawab ibu korban.
Di akhir rekaman video tersebut, Erni kembali menyampaikan permohonan doa kepada seluruh masyarakat agar kepolisian bisa segera mengamankan terduga pelaku yang saat ini masih buron.
Ia juga memberikan pesan terbuka agar terduga pelaku berinisial Taufik memiliki iktikad baik untuk menyerahkan diri.
"Doain ya, semoga pelaku cepat di tangkap dan bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya. Pelaku terduga Taufik, kalo memang kamu laki-laki, kamu punya ibu, kalo seandainya nih, anak dari ibu kamu, adik kamu diperlakukan seperti itu gimana? kalo kamu emang laki-laki, menyerahkan diri kamu bertanggung jawab atas perbuatan yang udah kamu buat sama keluarga kami. Itu aja," pungkas Erni.