SURYA.co.id, SURABAYA – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan penyebab hujan deras yang masih mengguyur Kota Surabaya meski saat ini telah memasuki musim kemarau.
Menurutnya, fenomena tersebut berkaitan dengan kondisi cuaca yang dalam ilmu meteorologi dikenal sebagai kemarau basah.
Pernyataan itu disampaikan Eri saat sambutan pada kegiatan penyaluran bantuan oleh 10Regentstraat bersama Happy Puppy Group dan Yayasan Suryani Setyadi kepada warga Surabaya, Selasa (23/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia turut menyinggung kondisi cuaca yang belakangan menyebabkan sejumlah wilayah di Surabaya terdampak genangan dan banjir.
Cak Eri mengatakan, secara kalender musim saat ini seharusnya sudah memasuki periode kemarau. Namun, intensitas hujan yang turun justru masih cukup tinggi.
"Ini musim kemarau, musim panas. Tapi hujannya juga deras dan tidak menentu. Dalam ilmu meteorologi ada siklus yang menyebabkan kondisi seperti ini sehingga terjadi kemarau basah," kata Eri di hadapan warga.
Meski demikian, Eri mengajak masyarakat untuk tidak hanya melihat fenomena tersebut dari sisi ilmiah.
Ia menilai setiap kondisi alam yang terjadi merupakan ketetapan Tuhan yang harus dihadapi dengan ikhtiar dan doa bersama.
Baca juga: Simo Kalangan Surabaya Barat Banjir Setinggi Lutut, Jalur Banyu Urip Macet Total
"Sejatinya, bagi kita yang beriman, setiap ketetapan ini datang dari Allah. Karena itu ketika kita ingin kota ini aman meskipun hujannya deras, maka mari kita berdoa bersama," ujarnya.
Wali Kota Eri berharap seluruh warga Surabaya diberikan keselamatan dan kelancaran dalam menjalani aktivitas sehari-hari di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.
"Saya mohon doa panjenengan semua. Semoga panjenengan, saya, dan seluruh warga Surabaya diberikan keamanan dan kelancaran," tuturnya.
Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih beberapa kali mengguyur Surabaya, sejak Senin (22/6/2026) hingga Selasa (23/6/2026) meski telah memasuki musim kemarau.
Kondisi tersebut menyebabkan genangan hingga banjir di sejumlah titik, terutama saat hujan turun dalam durasi yang cukup lama.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi 31,6 persen luas daratan Indonesia masuk musim kemarau pada bulan Juni 2026.
Dengan demikian, awal musim kemarau di Indonesia maju pada 308 ZOM yang mencakup 39,77 persen luas daratan Indonesia.
Sebanyak 482 ZOM yang mencakup 56,18 persen luas daratan Indonesia diprediksi berada pada kategori Bawah Normal atau lebih kering dari biasanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda mengungkapkan faktor yang mendorong terjadinya banjir akibat hujan di tengah musim kemarau.
Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa hujan yang mengakibatkan banjir disebabkan oleh pola angin konvergensi.
Pola itu adalah wilayah pertemuan atau pemusatan massa angin dari dua arah yang berlawanan atau lebih yang mengakibatkan perlambatan kecepatan angin dan memaksa massa udara yang kaya uap air terangkat secara vertikal (konveksi).
“Hal itu sehingga memicu pertumbuhan awan hujan lebat yang didukung kondisi atmosfer yang labil dan lembap dari lapisan bawah hingga menengah,” kata Taufiq, Selasa (23/6/2026).
Situasi itu, menurut dia, menyebabkan terjadinya pertumbuhan awan kumulonimbus yang signifikan dan menghasilkan hujan sedang hingga lebat di wilayah Surabaya.
“Meski, Surabaya saat ini telah memasuki musim kemarau, tapi tetap dapat berpotensi terjadi hujan lebat akibat faktor lokal,” ujarnya.