Oleh Anita Latupeirissa
TRIBUNAMBON.COM - Meja Kawin, segitu warga di Pulau Saparua menyebutnya.
Merupakan tradisi yang dipahami menjadi bagian utuh dari prosesi pernikahan.
Oleh warga Negeri (Desa Adat) Haria disebut Masutuhulo, sebagai prosesi wajib yang menyempurnakan penyatuan dua keluarga melalui ikatan pernikahan.
Masutuhulo diartikan sebagai ucapan terima kasih, dalam bentuk jamuan makan usai akad pernikahan.
Diadopsi dari kebiasaan bangsa kolonial selama pendudukan di tanah Saparua, tradisi ini masih terjaga.
Dimana keluarga mempelai laki-laki menyajikan aneka hidangan kepada semua orang yang turut andil dalam terselenggaranya perkawinan.
Tak hanya kepada keluarga mempelai perempuan, para saksi pernikahan, pemimpin ibadah, tokoh adat hingga kerabat kedua pihak.
Namun mempertimbangkan konsekuensi biaya dalam proses itu, biasanya jumlah tamu undangan jamuan terima kasih disesuikan.
Baca juga: Inafuka: Suara Hati dari Bumi Bupolo
Berikut tahapan Masutuhulo atau Meja kawin:
Persiapan
Baca juga: Siksikar: Jendela Sejarah dan Identitas Kultural Kepulauan Kei
Pelaksanaan
Biasanya berlangsung usai akad keagamaan maupun pemerintahan; pengantin dan rombongan menuju ke rumah tua atau lokasi dilakukan adat Masutuhulo.
Setiba di tempat pelaksanaan, ada prosesi awal menuju Masutuhulo, yaitu: Atumata.
Dimana tua adat perrintahkan saudara perempuan menjemput pengantin dengan menutup kepala (salo) sambil berjalan menuju pintu rumah tua.
Kemudian dibawa ke kamar untuk didoakan.
Penjemputan dan menutupi kepala atau Salo dengan kain hitam atau merah melambangkan perkenalan pengantin baru atau anggota baru ke mata rumah danjuga pengantin dikenalkan kepada dari mara bahaya serta nenek moyang merestui kehadiran pengantin.
Pelaksanaan masutohulo/meja kawin: