TRIBUNGORONTALO.COM-- Cerita Yusran Yusuf (52) warga di Perumahan Awara Karya, Kelurahan Liluwo, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo yang alami kebakaran rumah pada Senin (15/6/2026) sekitar pukul 11.25 Wita.
Memang dalam peristiwa itu, tidak ada korban jiwa. Namun seluruh isi rumah nyaris tak sempat diselamatkan. Mulai dari perabot rumah tangga, pakaian, dokumen penting, hingga peralatan kerja habis terbakar.
Saat ditemui Tribun Gorontalo di lokasi kebakaran, Rabu pagi (17/6/2026), Yusran menceritakan bagaimana dirinya mengetahui rumah yang ditempati bertahun-tahun itu terbakar.
Berikut wawancara Tribun Gorontalo bersama Yusran Yusuf dalam program Saksi Kata yang sudah tayang di Youtube dan Facebook TribunGorontalo, Kamis (18/6/2026).
Tribun Gorontalo: Pak, sebelum kebakaran terjadi aktivitas bapak pagi itu seperti apa?
Yusran Yusuf: Waktu itu dini hari sekitar jam tiga saya antar istri bekerja di MBG (SPPG). Setelah itu saya pulang ke rumah lalu tidur. Pagi sekitar jam enam lewat saya keluar lagi mencari nafkah membawa bentor. Jadi waktu kejadian saya tidak ada di rumah, saya ada di pangkalan bentor.
Tribun Gorontalo: Saat bapak keluar rumah pagi itu, kondisi di rumah bagaimana?
Yusran Yusuf: Biasa saja. Tidak ada apa-apa. Anak-anak juga beraktivitas seperti biasa. Ada yang keluar rumah, ada yang bermain. Anak saya yang besar masih ada di rumah karena pulang pagi habis nonton bola lalu tidur di kamar.
Tribun Gorontalo: Kapan bapak pertama kali tahu rumah bapak terbakar?
Yusran Yusuf: Saya dikasih tahu anak-anak yang sedang bermain di kompleks sini. Mereka lihat api dari atas rumah. Mereka langsung lari ke pangkalan bentor tempat saya mangkal dan bilang rumah saya terbakar.
Tribun Gorontalo: Apa yang bapak lakukan setelah mendengar kabar itu?
Yusran Yusuf: Saya langsung lari ke rumah. Tidak pikir panjang lagi. Begitu sampai di sini saya lihat api sudah ada di bagian atas rumah.
Tribun Gorontalo: Waktu tiba di lokasi, apa yang pertama kali terlintas di pikiran bapak?
Yusran Yusuf: Saya cuma berpikir masuk dulu ke dalam rumah. Saya masih berharap ada yang bisa diselamatkan atau memastikan tidak ada orang yang tertinggal di dalam.
Tribun Gorontalo: Jadi bapak sempat masuk ke dalam rumah?
Yusran Yusuf: Sempat. Saya masuk lewat dapur. Waktu itu api masih di bagian atas rumah, di plafon dan atap.
Tribun Gorontalo: Apa yang bapak lihat saat berada di dalam?
Yusran Yusuf: Api sudah mulai menjalar. Saya lihat kondisi rumah dan buka kamar-kamar. Saya takut masih ada orang di dalam karena anak saya yang besar sedang tidur.
Tribun Gorontalo: Saat itu bapak tahu anak masih berada di rumah?
Yusran Yusuf: Iya. Dia pulang pagi habis nonton bola lalu langsung tidur. Itu yang membuat saya panik.
Tribun Gorontalo: Bagaimana akhirnya anak bapak bisa keluar?
Yusran Yusuf: Warga yang bangunkan dia. Orang-orang di sekitar sini yang panggil dia keluar. Syukur dia bisa keluar dengan selamat.
Tribun Gorontalo: Setelah itu bapak masih mencoba masuk lagi?
Yusran Yusuf: Masih. Saya sempat keluar lalu mau masuk lagi. Tapi warga langsung melarang.
Tribun Gorontalo: Apa alasan warga melarang bapak masuk?
Yusran Yusuf: Karena api sudah besar. Mereka bilang jangan masuk lagi karena berbahaya. Kalau saya tetap masuk mungkin bisa terjebak di dalam.
Tribun Gorontalo: Seberapa cepat api membesar waktu itu?
Yusran Yusuf: Cepat sekali. Angin juga kencang. Baru sebentar sudah menjalar ke banyak bagian rumah.
Tribun Gorontalo: Apakah warga sempat berusaha memadamkan api?
Yusran Yusuf: Iya. Ada yang membantu semampunya. Ada juga yang langsung menghubungi pemadam kebakaran.
Tribun Gorontalo: Saat menunggu pemadam datang, bagaimana kondisi rumah?
Yusran Yusuf: Api terus membesar. Kami hanya bisa melihat karena sudah tidak memungkinkan lagi masuk ke dalam.
Tribun Gorontalo: Ketika mobil pemadam tiba, apakah masih ada barang yang bisa diselamatkan?
Yusran Yusuf: Sudah tidak ada. Rumah sudah habis terbakar. Yang diselamatkan pemadam itu bangunan di sekitar supaya api tidak merembet lebih jauh.
Tribun Gorontalo: Apa saja barang yang ikut terbakar?
Yusran Yusuf: Semua habis. Televisi, kulkas, mesin cuci, pakaian, perabot rumah tangga, surat-surat penting, ijazah, semuanya tidak ada yang tersisa.
Tribun Gorontalo: Termasuk alat kerja bapak juga?
Yusran Yusuf: Iya. Saya punya dua mesin pemangkas rumput. Itu juga ikut terbakar.
Tribun Gorontalo: Saat melihat semua barang habis terbakar, apa yang bapak rasakan?
Yusran Yusuf: Sedih sekali. Karena semua yang kami kumpulkan selama bertahun-tahun habis dalam satu hari.
Tribun Gorontalo: Setelah kejadian ini keluarga tinggal di mana?
Yusran Yusuf: Sementara tinggal di rumah keluarga, dan ada yang di Birman.
Tribun Gorontalo: Bagaimana kondisi anak-anak sekarang?
Yusran Yusuf: Mereka juga kehilangan banyak barang. Seragam sekolah dan perlengkapan lainnya ikut terbakar.
Tribun Gorontalo: Apakah sudah ada bantuan yang diterima?
Yusran Yusuf: Sudah ada bantuan dari pemerintah dan masyarakat. Kami bersyukur karena banyak yang peduli.
Tribun Gorontalo: Apa yang paling bapak syukuri dari peristiwa ini?
Yusran Yusuf: Yang paling penting semua keluarga selamat. Rumah dan barang memang habis, tapi nyawa masih ada.
Tribun Gorontalo: Apa harapan bapak ke depan?
Yusran Yusuf: Saya berharap ada bantuan supaya rumah ini bisa dibangun kembali. Sekarang yang penting puing-puingnya dibersihkan dulu. Setelah itu pelan-pelan kami mulai lagi dari awal .(*/Jefri)