TRIBUNNEWSMAKER.COM - Dugaan praktik suap yang menyeret nama Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK), Muhammad Abdimaludin alias Abdi, kini menjadi sorotan publik dan memicu kegelisahan di lingkungan kampus.
Kasus ini mencuat setelah Abdi mengakui menerima uang sebesar Rp20 juta dari pihak kepolisian yang diduga berkaitan dengan aksi demonstrasi mahasiswa terhadap pemerintah.
Pengakuan tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai independensi gerakan mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai suara kritis masyarakat.
Apalagi, Abdi merupakan koordinator lapangan dalam aksi unjuk rasa yang digelar oleh BEM Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UBK di kawasan Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Senin (15/6/2026).
Isu tersebut semakin memanas setelah ramai diperbincangkan di media sosial dan memicu reaksi dari berbagai elemen mahasiswa di kampus.
Untuk merespons polemik yang berkembang, mahasiswa UBK dari berbagai fakultas menggelar forum terbuka pada Senin (22/6/2026) petang.
Forum itu dihadiri mahasiswa dari BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), BEM Fakultas Teknik, serta sejumlah mahasiswa lainnya yang ingin memperoleh penjelasan langsung terkait isu yang beredar.
Dalam forum tersebut, menurut keterangan mahasiswa Fakultas Hukum UBK angkatan 2022 bernama Nailah, Abdi awalnya tidak hadir untuk memberikan klarifikasi.
Ketidakhadirannya justru semakin memicu rasa penasaran peserta forum yang ingin mengetahui kebenaran kabar dugaan suap tersebut.
Sementara itu, perwakilan BEM FISIP dan Fakultas Teknik menyampaikan bahwa mereka tidak memiliki keterlibatan maupun informasi terkait dugaan penerimaan uang tersebut.
Nailah menjelaskan bahwa suasana forum berubah ketika muncul bukti berupa rekaman percakapan yang diperdengarkan kepada peserta.
Baca juga: Terkuak Fakta Baru Kasus Suap Bea Cukai, Terdakwa John Field Alirkan Total Rp 91 M ke Sejumlah Pihak
Rekaman itu disebut berisi pembicaraan antara Abdi dengan seorang senior di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta Pusat Utara.
"Setelah mereka memberikan penjelasan, ada satu orang yang akhirnya menyetel sebuah percakapan antara Abdimaludin ini, Ketua BEM FH, dengan salah seorang seniornya di Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI Cabang Jakpustara, bernama Raja Olowan Rambe, terkait tindakan suap-menyuap tersebut," tutur Nailah via telepon kepada Kompas.com, Selasa (23/6/2026).
Munculnya rekaman tersebut membuat perbincangan di forum semakin intens dan memancing berbagai tanggapan dari mahasiswa yang hadir.
Banyak pihak menilai kasus ini berpotensi mencoreng kredibilitas gerakan mahasiswa apabila terbukti benar terjadi.
Di sisi lain, sejumlah mahasiswa meminta agar seluruh fakta dibuka secara transparan demi menjaga kepercayaan publik terhadap organisasi kemahasiswaan.
Hingga kini, polemik tersebut masih menjadi perhatian di lingkungan kampus dan memunculkan desakan agar seluruh pihak terkait memberikan penjelasan secara terbuka mengenai dugaan suap yang tengah menjadi perbincangan luas tersebut.
Rekaman suara tersebut semakin memantik amarah para mahasiswa yang hadir.
"Karena memang di rekaman itu terdengar suara Abdi dan orang-orang itu saling bercakap-cakap," lanjut Nailah.
Forum terbuka ini juga direkam lewat video dan diunggah oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) UBK Marhaen @marhaenpress.
Isu yang berkembang uang suap tersebut terkait dengan pemindahan titik aksi demonstrasi dari Istana Negara ke depan Gedung DPR RI.
Demonstrasi kemarin pada akhirnya memang tetap dilaksanakan di depan Istana Negara yang berujung dengan ajakan dari Wapres Gibran Rakabuming di mana 15 orang perwakilan mahasiswa boleh masuk dan diskusi bersamanya di dalam gedung istana.
"Betul tetap tapi beberapa mahasiswa curiga uang tersebut juga berhubungan dengan pertemuan Wapres tersebut," ungkap Nailah.
Baca juga: Mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Dipolisikan, Isi Konten Video Kritik MBG Dijadikan Bukti Pelapor
Setelah beberapa waktu Abdi akhirnya hadir di muka forum terbuka. Sejumlah dosen dan pihak rektorat juga muncul dan ikut mengawal jalannya forum, menurut Nailah.
Abdi menyatakan bahwa menjelang hari demonstrasi banyak pihak yang ingin menyuapnya dan ia menolak.
"Terkait uang itu memang saya terima, 20 persen," kata Abdi awalnya dalam video di akun @marhaenpress.
Pada pernyataan lebih lanjut Abdi mengungkapkan nominal uang yang ia terima.
"Saya mengakui kesalahan, saya menerima uang tersebut. Rp 20 juta dengan pembagian dengan kawan-kawan. Dari pihak Kepolisian. (Namanya) Aan, enggak tahu (nama lengkapnya). Cuma dia datang komunikasi, itu aja," ucap Abdi.
Uang tersebut kemudian dibagikan ke beberapa orang.
Termasuk Ketua BEM FEB, Pujiono dan Wakil Ketua BEM FEB Rafly Bastian yang masing-masing menerima Rp 2 juta. Keduanya mengaku secara langsung di forum itu.
Nailah membeberkan kejadian rinci terkait pemukulan di sela-sela forum tersebut karena ada kehadiran pihak HMI.
"Saat Abdi ini datang ke kampus, dia itu juga bersama dengan kawan-kawan HMI Jakpustara-nya itu," kata Nailah.
Mahasiswa UBK pun kesal atas kehadiranpihak HMI yang tidak berkepentingan dan justru dapat memperkeruh situasi.
Akhirnya terjadilah baku hantam antara mahasiswa dan orang HMI ini.
"Jadi orang ini tuh diduga kuat sih memang HMI Jakpustara, yang memang saat itu mencoba memprovokasi fokus forum hari itu," tutur Nailah.
Diduga senior Abdi di HMI Jakpustara mendapatkan dana tersebut dari aparat polisi.
"Katanya, senior HMI ini kemungkinan besar itu dapat duitnya sih dari polisi. Jadi senior HMI ini dapat distribusi dana dari sana," ucap Nailah.
(Tribunnewsmaker.com/ Kompas.com)