Piala Dunia 2026 - Lebih Tokcer dari Ronaldo dan Henry, Pembenci Mbappe Harus Tahu!
Dwi Setiawan June 23, 2026 06:30 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Kylian Mbappe kembali menjadi sorotan utama di Piala Dunia 2026. Penyerang andalan Prancis itu tampil tajam dengan mencetak dua gol ke gawang Senegal pada laga pembuka, lalu menambah dua gol lagi saat menghadapi Irak.

Namun, performa impresif tersebut ternyata belum cukup untuk meredam kritik yang terus mengiringi langkahnya selama dua tahun terakhir, baik ketika membela Real Madrid maupun timnas Prancis.

Di tengah derasnya kritik, dukungan kuat datang dari sosok yang sangat memahami tekanan di level tertinggi.

Legenda Prancis sekaligus juara dunia Piala Dunia edisi 1998, Bixente Lizarazu, tampil membela Mbappe secara terbuka dan tegas.

Sebelumnya, Mbappe dinilai sebagai 'pisau bermata dua', karena memiliki ego yang sangat tinggi. Berulang kali dia terjerat kontroversi karena sikapnya.

Wanita asal Karanganyar mengenakan stiker Prancis di wajah sebagai bentuk dukungan dalam Piala Dunia 2026, di Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (15/6/2026). (Tribun-Video.com/Akmal Khoirul Habib) (Tribunnews.com/Akmal KhoirulHabib)

"Mbappe itu ketika namanya muncul merupakan pemain bernomor 7 yang beroperasi sebagai winger. Di Piala Dunia sekarang, dia menjadi nomor 9, target-man," ujar Gigih dalam opininya di podcast Super Taktik berjudul "Prediksi Grup G-L Piala Dunia 2026, Grupnya Para Calon Juara" di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

"Mbappe jelas akan menjadi tumpuan dari Deschamps, dia itu tipikal pelatih mirip Ancelotti. Yakni memiliki pemain kunci dan membangun tim di sekeliling pemain kunci itu."

"Masalah ego yang akan menjadi tantangan bagi Deschamps. Ini yang akan menjadi faktor x, apakah Prancis bisa melaju jauh atau enggak. Tetapi jika ditanya apakah Prancis masih favorit? Masih favorit," sambung pria yang mengidolakan klub Liga Inggris, Manchester United.

Eks Bayern Munchen Nilai Kritik Terhadap Mbappe Tidak Adil

Setelah kemenangan Prancis 3-1 atas Senegal, sebagian pihak tetap menyoroti berbagai aspek permainan Mbappe meski ia menjadi penentu kemenangan dengan dua golnya.

Situasi itu membuat pria yang pernah membela Bayern Munchen, Lizarazu, merasa perlu memberikan pembelaan.

"Di usianya yang baru 27 tahun, Mbappe adalah pencetak gol terbanyak sepanjang masa timnas Prancis dengan 58 gol dalam 99 pertandingan, serta salah satu pencetak gol terbaik di Piala Dunia dengan 14 gol dalam hanya 15 pertandingan," ucapnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa kontribusi Mbappe bagi Les Bleus sudah berada di level historis, meski kariernya masih jauh dari kata selesai.

Statistik yang Menempatkan Mbappe di Level Legenda

Lizarazu tidak hanya berbicara berdasarkan opini. Ia memaparkan sederet statistik yang menunjukkan betapa luar biasanya produktivitas Mbappe.

Sepanjang kariernya bersama klub dan tim nasional, Mbappe telah mencetak 427 gol dalam 570 pertandingan.

Rata-rata 0,75 gol per pertandingan itu bahkan melampaui sejumlah legenda sepak bola dunia.

"Selama kariernya bersama klub dan tim nasional, ia telah mencetak 427 gol dalam 570 pertandingan, dengan rata-rata 0,75 gol per pertandingan; angka ini melampaui legenda-legenda seperti Ronaldo dari Brasil (0,65 gol), Raul (0,42), Thierry Henry (0,45), dan Marco van Basten (0,70), itulah sebabnya kritik yang terus-menerus selama dua tahun terakhir ini mengganggu saya," sambung pria yang juga pernah bermain bagi Marseille dan Athletic Bilbao.

Bagi Lizarazu, angka-angka tersebut cukup untuk membuktikan bahwa kritik yang terus-menerus selama dua tahun terakhir terasa berlebihan.

"Itulah sebabnya kritik yang terus-menerus selama dua tahun terakhir ini mengganggu saya,"

Salah satu kritik yang paling sering diarahkan kepada Mbappe adalah minimnya kontribusi dalam bertahan. Bahkan ada yang berpendapat ia sebaiknya dipindahkan ke sayap kiri agar lebih banyak membantu pertahanan.

Lizarazu menolak pandangan tersebut dengan sangat tegas.

"Mereka yang menganggap kurangnya kontribusinya dalam bertahan sebagai kelemahan mendasar, dan ingin memindahkannya ke sayap kiri agar dipaksa lebih banyak bertahan, benar-benar salah."

Bagi mantan bek Bayern Munchen itu, tugas utama seorang pemain dengan kualitas seperti Mbappe adalah memberikan ancaman maksimal di lini depan, dan sejauh ini ia terus melakukannya dengan konsisten.

(Tribunnews.com/Giri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.