Wasit asal Slovenia, Slavko Vincic, telah ditunjuk untuk memimpin pertandingan antara Yordania dan Aljazair, dengan dua asisten senegaranya, Tomaz Klancnik dan Andraz Kovacic, turut mendampinginya di lapangan.
Pria berusia 46 tahun ini sudah pernah memimpin satu laga di turnamen ini sebelumnya, yakni pertandingan bergengsi antara Brasil dan Maroko yang berakhir imbang 1-1 di New Jersey — lokasi yang juga akan menjadi tuan rumah partai final pada 19 Juli mendatang.
Dalam pertandingan tersebut, Vinicius Junior mencetak gol untuk Brasil saat Vincic bertindak sebagai wasit. Selain pengalaman di level internasional, Vincic juga memiliki rekam jejak panjang di kompetisi klub Eropa papan atas. Musim lalu, ia memimpin laga penuh drama antara Bayern Munchen dan Real Madrid, yang dimenangkan Bayern dengan skor 4-3 pada leg kedua perempat final.
Wasit berpengalaman ini juga dikenal oleh para penggemar Chelsea, setelah sebelumnya memimpin laga leg kedua babak 16 besar Liga Champions antara Chelsea dan Paris Saint-Germain, yang berakhir dengan kekalahan 0-3 bagi The Blues. Vincic juga memimpin kemenangan 3-0 Chelsea atas Barcelona di fase grup kompetisi tersebut.
Dalam kemenangan Bayern atas Real, Vincic mengeluarkan enam kartu kuning dan dua kartu merah. Namun, secara umum ia dikenal bukan sebagai wasit yang mudah mengeluarkan kartu. Berdasarkan data dari 27 pertandingan yang ia pimpin sejak awal musim 2025/26, Vincic telah memberikan total 106 kartu kuning dan lima kartu merah — rata-rata hampir empat kartu kuning per pertandingan dan satu kartu merah setiap lima pertandingan.
Wasit asal Slovenia itu dikenal memiliki pendekatan tegas namun jarang berlebihan dalam penggunaan kartu di lapangan.
Selain Vincic dan timnya, ofisial keempat dalam pertandingan ini adalah Oshane Nation dari Jamaika, sementara Caleb Wales dari Trinidad dan Tobago ditunjuk sebagai asisten wasit cadangan. Pertandingan akan digelar di San Francisco.
Bagi Yordania, laga ini menjadi kesempatan untuk meraih poin pertama mereka di ajang Piala Dunia. Namun, mereka juga menyadari bahwa kemenangan akan sangat penting, mengingat lawan berikutnya adalah juara bertahan, Argentina.
Sementara itu, Aljazair — yang dijuluki Rubah Gurun — bertekad untuk mengulangi pencapaian bersejarah mereka di Piala Dunia 2014, saat mereka berhasil melaju hingga babak gugur untuk pertama kalinya.