Menpora Erick Thohir Ungkap Target Realistis dan Tantangan Indonesia di Asian Games 2026
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan pentingnya perubahan pola pembinaan atlet nasional menjelang Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang.
Menurutnya, Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan persiapan jangka pendek jika ingin bersaing dan meraih prestasi di level internasional.
Asian Games 2026 yang tinggal menghitung bulan disebut Erick memiliki tantangan tersendiri bagi kontingen Indonesia.
Pasalnya, dari tujuh medali emas yang diraih Indonesia pada edisi sebelumnya, tiga nomor pertandingan yang menyumbang emas dipastikan tidak lagi dipertandingkan di Jepang.
“Kalau tidak salah ada satu nomor dari menembak dan dua nomor dari dayung yang tidak dipertandingkan lagi. Artinya peluang mempertahankan medali emas yang ada menjadi lebih berat," ujar Erick Thohir di Kemenpora, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Kondisi tersebut membuat pemerintah mulai memikirkan strategi jangka panjang dalam pembinaan atlet.
Erick bahkan telah menyampaikan langsung kepada Presiden agar sistem pemusatan latihan nasional (pelatnas) tidak lagi menggunakan pendekatan tahunan, melainkan dirancang dalam program multi-tahun.
Menurutnya, kesuksesan atlet meraih medali di Olimpiade maupun ajang multi-event internasional tidak bisa dibangun dalam waktu singkat.
“Penyiapan atlet tidak bisa selalu jangka pendek. Kalau kita melihat negara lain, banyak atlet juara Olimpiade yang dibina sejak usia sekolah dan menjalani program bertahun-tahun. Jadi pelatnas harus multi-years, bukan per tahun,” terang Erick.
Erick mencontohkan persiapan menuju Olimpiade 2032 yang seharusnya sudah dimulai sejak sekarang.
Dengan demikian, atlet memiliki waktu yang cukup untuk berkembang dan mencapai performa terbaik saat tampil di panggung dunia.
“Jangan satu atau dua tahun sebelum Olimpiade baru mulai serius mempersiapkan atlet. Itu sudah terlambat,” ucapnya.
Erick mengungkapkan gagasan tersebut mendapatkan dukungan langsung dari Presiden.
Bahkan pemerintah saat ini tengah berkoordinasi dengan sejumlah kementerian terkait untuk mencari formulasi pendanaan yang memungkinkan program pembinaan atlet berjalan secara berkelanjutan.
Komunikasi juga dilakukan dengan Kementerian Keuangan agar kebutuhan pelatnas tidak terdampak oleh kebijakan efisiensi anggaran yang saat ini diterapkan pemerintah.
Menurut Erick, anggaran pelatnas berbeda dengan belanja birokrasi karena menyangkut langsung kebutuhan atlet dan pelatih yang tengah menjalani persiapan menuju ajang internasional.
"Saya sudah sampaikan bahwa ini bukan perjalanan dinas menteri atau birokrat. Ini kebutuhan atlet dan pelatih yang sedang berjuang mengharumkan nama bangsa," katanya.
Dalam waktu dekat, Kemenpora juga terus berkoordinasi dengan Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), serta berbagai induk cabang olahraga untuk menyamakan pandangan mengenai pentingnya sistem pembinaan jangka panjang.
Sejumlah pimpinan cabang olahraga, lanjut Erick, telah memberikan dukungan terhadap gagasan pelatnas multi-tahun karena dinilai menjadi salah satu kunci peningkatan prestasi olahraga Indonesia.
Meski belum berbicara mengenai target medali secara spesifik di Asian Games 2026, Erick mengakui tantangan yang dihadapi tidak ringan. Terlebih beberapa program pelatnas sempat mengalami kendala akibat keterbatasan anggaran.
Untuk itu, ia berharap ada dukungan penuh dari seluruh pemangku kepentingan agar atlet-atlet Indonesia dapat menjalani persiapan secara optimal.
"Kasihan atlet-atlet kita yang sudah berlatih, meninggalkan keluarga dan sekolah demi membawa nama Indonesia. Kalau pelatnas tidak maksimal tentu akan sangat disayangkan,” pungkasnya.