TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG – Event budaya tahunan masyarakat Jawa, Grebeg Suro 2026, resmi dibuka dan berlangsung semarak di Taman Parkir Kridasana, Kota Singkawang.
Tak sekadar menjadi ajang pelestarian tradisi, festival yang akan berlangsung hingga 27 Juni 2026 ini membuktikan bahwa kebudayaan mampu menjadi motor penggerak ekonomi riil di tingkat akar rumput.
Ketua Panitia Pelaksana Singkawang Grebeg Suro 2026, Supardiana, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memfasilitasi 59 stan khusus untuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), dengan menonjolkan kuliner legendaris dan jamu tradisional khas Jawa.
"Grebeg Suro membuktikan bahwa budaya itu bisa menjadi sumber penghidupan. Event ini bukan hanya melestarikan tradisi dan menguatkan persatuan, tetapi juga nyata menggerakkan ekonomi masyarakat," kata Supardiana pada Selasa, 23 Juni 2026.
Panitia memproyeksikan pergelaran tahun ini akan menyedot animo hingga 20 ribu sampai 25 ribu pengunjung.
Dengan estimasi rata-rata belanja per kapita berkisar antara Rp75 ribu hingga Rp150 ribu, nilai perputaran uang selama perhelatan ini ditaksir menembus angka miliaran rupiah.
"Perputaran uang selama Grebeg Suro kami perkirakan bisa mencapai Rp2,5 miliar hingga Rp3,5 miliar," papar Supardiana optimis.
Dampak ekonomi ini diyakini tidak hanya dinikmati oleh para pedagang di lokasi acara.
Baca juga: Tjhai Chui Mie Minta Perhatian Kemendikdasmen untuk Fasilitas Sekolah Rusak di Singkawang
Melainkan juga memberikan efek domino (multiplier effect) terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Singkawang serta sektor pariwisata penunjang seperti perhotelan, homestay, rumah kos, restoran, hingga pedagang kaki lima.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Singkawang, Muhammadin, mengapresiasi eksistensi Grebeg Suro yang kini telah bertransformasi menjadi ruang perjumpaan lintas budaya di "Kota Toleransi" tersebut.
Menurutnya, tradisi Grebeg yang berakar dari kebudayaan Mataram ini dimaknai ulang oleh masyarakat Singkawang sebagai simbol kerukunan.
Prosesi pembagian tumpeng, hasil bumi, dan gunungan menjadi momen epik di mana sekat-sekat perbedaan melebur.
"Tak ada sekat, berbagai suku antre bersama, bersalaman dengan warga Jawa di Kridasana. Semua adalah warga Singkawang," tutur Muhammadin.
Menariknya, atmosfer Grebeg Suro kali ini juga diwarnai oleh asimilasi budaya lokal Kalimantan Barat.
Lapak UMKM tidak hanya menjajakan kuliner Jawa, tetapi juga kuliner lokal seperti lemang dan bubur pedas, hingga produk kerajinan anyaman khas Dayak yang laris manis diburu pengunjung.
Muhammadin menilai, keterlibatan aktif ini menjadi sinyal positif bahwa estafet kebudayaan berhasil ditangkap oleh generasi baru.
"Budaya tidak dilestarikan dengan cara disimpan di museum, tetapi dengan dihidupkan bersama generasi baru melalui kreativitas mereka. Semoga semangat gotong royong ini menjadi kekuatan untuk membangun Singkawang yang harmonis, maju, dan sejahtera," pungkasnya. (*)