Kebohongan Taufik Hidayat Pria yang Sekap Pacar 3 Tahun di Bandung, Sebut Ortu Korban Ada di Jawa
Febriana Nur Insani June 23, 2026 10:44 PM

TRIBUNSTYLE.COM - Sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat keji kini sedang menjadi sorotan tajam di seluruh negeri.

YTR, wanita berusia 29 tahun asal Rancaekek, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat menjadi korban penyekapan dan penganiayaan brutal yang dilakukan oleh kekasihnya sendiri, Taufik Hidayat (TH).

Tak main-main, penderitaan tersebut terjadi selama kurang lebih tiga tahun.

Awal malapetaka ini bersemi dari sebuah pertemuan biasa di tengah keramaian konser musik di Tritan Point, Kota Bandung.

Taufik bahkan sempat menunjukkan itikad baik dengan bertamu ke rumah orang tua YTR.

Namun, kepulangan Taufik dari rumah tersebut menjadi awal hilangnya jejak YTR.

Hingga akhirnya pada Juni 2026, YTR akhirnya ditemukan kembali oleh keluarganya.

Namun bukannya kebahagiaan yang didapat, keluarga justru dihadapkan pada kenyataan yang amat menyakitkan.

YTR ditemukan dalam kondisi fisik yang dipenuhi luka-luka di sekujur tubuh.

Lebih tragis lagi, kekejaman Taufik selama bertahun-tahun telah merenggut bibir serta penglihatan korban.

Penjaga kos pun mengurai cerita Taufik terkait identitas YTR yang ternyata hanya kebohongan semata. Seperti apa?

Baca juga: Mau Rp250 Juta dari KDM? Temukan Taufik Pria Sekap Pacar di Bandung, Tak Harus Tangkap Langsung

WANITA DISEKAP 3 TAHUN - Akal-akalan Pria Sekap Kekasih 3 Tahun di Bandung, Korban Dianiaya Sampai Buta, Sebut Kecelakaan
WANITA DISEKAP 3 TAHUN - Akal-akalan Pria Sekap Kekasih 3 Tahun di Bandung, Korban Dianiaya Sampai Buta, Sebut Kecelakaan (Kolase Tribun Bogor)

Cara Taufik Hidayat Tutupi Kondisi YTR

Sebuah kontrakan yang berada di pinggir Griya Cinunuk di Jalan Raya Cinunuk, Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung menjadi saksi bisu perbuatan biadab penyekapan dan penyiksaan Taufik Hidayat terhadap perempuan berinisial YTR (29).

Kontrakan itu memiliki dua lantai dengan masing-masing lantai memiliki empat kamar. 

Kamar kontrakan yang sempat ditinggali pelaku dan korban berada di bagian tengah. Lokasi kontrakannya pun tak jauh dari Jalan Raya Cinunuk dengan hanya berjarak sekitar 50 meteran.

Kondisi sekitar kontrakan memang terasa sepi lantaran yang menghuni di sana rata-rata para pekerja seperti bekerja di Griya Cinunuk di Jalan Cinunuk. Sebelah barat kontrakan, area persawahan dan bagian depan kontrakan ada sebuah tower telekomunikasi. 

Akses menuju kontrakan merupakan akses jalan aktif yang sering dilalui masyarakat, karena gangnya bersebelahan dengan Griya Cinunuk. Istri penjaga kontrakan, Mulyati menceritakan awal mula Taufik Hidayat tinggal di sana.

Katanya, pada 9 Maret 2026, Taufik Hidayat sempat datang dan menanyakan ketersediaan kamar kosong di kontrakan tersebut. Ketika itu, Taufik datang hanya sendiri ke kontrakan, sedangkan YTR diminta diam di jalan masuk yang jaraknya hanya 10 meter dari kontrakan.

"Saat mau mengisi kontrakan, saya melihat YTR ada. Kondisinya bisa berjalan tetapi seperti orang yang sakit,  jalannya pelan-pelan. YTR juga wajahnya tak terlihat, tertutup pakai helm dan jaket warna abu dengan wajah tertutup juga," katanya ditemui di kontrakan, Selasa (23/6/2026).

Mulyati mengaku memang kerap mendengar suara-suara mencurigakan, tapi bukan suara rintihan atau meminta pertolongan, serta sering terdengar suara batuk pelaku yang terdengar keras.

Baca juga: Dedi Mulyadi Tanggung Biaya Pengobatan Wanita Korban Penyekapan di Bandung, Minta Keluarga Tenang

WANITA DISEKAP DI BANDUNG - Kolase potret kondisi YTR setelah dan sebelum disekap pacar selama tiga tahun. Alami luka berat terutama di bagian wajah dan kepala
WANITA DISEKAP DI BANDUNG - Kolase potret kondisi YTR setelah dan sebelum disekap pacar selama tiga tahun. Alami luka berat terutama di bagian wajah dan kepala (Tribun Jabar/Adi Ramadhan Pratama/TikTok)

"Kalau suara perempuan atau rintihan dan meminta tolong belum pernah. Hanya suka dengar suara pukulan atau tendangan ke tembok itu sering. Tapi, saat ibu mendekat ke sumber suara atau bahkan mengetuk kamarnya bilangnya enggak ada apa-apa," ujar Mulyati.

Dia pun menegaskan, jika diketahui ada keributan atau penganiayaan mungkin dia sudah mencurigai dan meminta pertolongan untuk diselidiki.

Pelaku ini disebut bekerja sebagai debt collector (DC). Keseharian pelaku ketika di kontrakan pun sering berinteraksi dengannya atau suaminya, Resa Rohendi.

"Ya biasanya membahas soal YTR yang katanya sakit matanya mau dioperasi di rumah sakit dan harus pakai BPJS serta perlu uang Rp 10 juta. Pelaku bilang YTR sudah minus 17 matanya dan enggak melihat sejak kecil dan dia katakan orang tua si cewek berada di Jawa," katanya

Disinggung terkait kondisi kamar kontrakan yang selalu tertutup apakah ada kecurigaan, Mulyati menyebut pelaku hendak membeli nasi atau keluar sebentar pun selalu mengunci kamarnya khawatir jika ada orang-orang yang hendak masuk.

Kontrakan yang dihuni pelaku ini memiliki kamar mandi di bagian dalam dengan biaya per bulan untuk dua orang Rp 600 ribu dan satu orang Rp 500 ribu. Lanjut Mulyati, pelaku kerap meminjam kerudungnya, termasuk saat mau ke RSUD Ujungberung membawa YTR.

"Waktu mau ke RSUD kan grab mobilnya saja menunggu lama mungkin lama mendandani korban agar tak ketahuan luka-luka. Korban dibawa ke RSUD Ujungberung itu pada 9 Juni 2026," katanya.

Mulyati juga mengatakan, saat pelaku hendak mengontrak pun dia sempat dimintai identitasnya, seperti KTP dan surat nikah. Tetapi, pelaku hanya memberikan identitas KTP

"Kalau surat nikah, dia bilangnya mau ke Nagreg dahulu nanti mau difotokan (surat nikah). Mengakunya sih pelaku ini orang Nagreg. Dan bilang si YTR enggak diperdulikan keluarga. Saat dibawa ke mobil grab juga istrinya itu dibopong pelaku dengan wajah YTR ditutupi. Tapi, saat di dalam mobil justru suami saya bukan si pelaku, sementara si pelaku mengikuti mobil grab dari belakang menggunakan motor," katanya 

Mulyati juga sempat mengaku ada kecurigaan terhadap pelaku yang memang sudah memiliki sikap tempramen tinggi dan tiba-tiba suka mengajak berkelahi ke suaminya.

"Pernah suatu waktu teriak om buka pintu om, saya mau keluar (motor di dalam gerbang). Suami saya mau tidur pun kaget. Apalagi tempramen tinggi itu saat pelaku mabuk tapi tak dilayani dengan keras oleh suami khawatir justru berkelahi," katanya.

Resa Rohendi pun mengaku memang pernah beberapa kali mendapatkan ancaman pembunuhan atau diajak berkelahi oleh pelaku.

"Sempat ada pengancaman setelah dari RSUD Ujungberung bertemu dengan dokter dan memberikan keterangan di rumah sakit. Kan RS ingin ada pihak keluarga tapi saya enggak tahu kontak keluarga YTR, akhirnya saya suruh si Taufik ini menghadap pihak rumah sakit, mungkin setelah diinterogasi rumah sakit dan saya menunggu di luar, pelaku ini tiba-tiba marah ke saya dan mengajak berkelahi," katanya.

Korban dari RSUD Ujungberung lantas dirujuk ke RSHS Bandung. Saat ditanya pihak rumah sakit Resa diminta pelaku beralasan bahwa YTR jatuh dari kamar mandi. Namun, pihak rumah sakit sempat curiga karena tak mungkin jatuh dari kamar mandi kondisinya seperti itu.

"Itu terjadi di RSHS Bandung, pihak rumah sakit meminta mana suami atau keluarga korban, ya akhirnya saya minta Taufik yang menghadap karena saya enggak paham kan. Dan di RSHS si Taufik ini sempat mencak-mencak dan arogan yang bilang kalau tak ditangani mau lapor ke KDM (Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat) kata si pelaku," katanya.

Taufik Hidayat memang kerap berpindah-pindah kontrakan. Dan tinggal di kontrakan Cinunuk ini sejak 9 Maret 2026.

(TribunStyle.com)(TribunJabar.id/Muhamad Nandri Prilatama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.