Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Saat sebagian wilayah Indonesia telah menikmati akses jalan yang mulus, kendaraan darurat yang siaga, dan layanan kesehatan yang mudah dijangkau, warga Desa Lohia Sapalewa, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), masih harus mengandalkan tenaga manusia untuk menjalani situasi paling menyedihkan dalam hidup mereka.
Tercatat Senin 22 Juni 2026, puluhan warga kembali berjalan kaki menyusuri jalan setapak pegunungan sejauh kurang lebih empat kilometer.
Mereka bukan sedang membawa hasil kebun atau material bangunan, melainkan mengantar jenazah seorang ibu lanjut usia menuju kampung halamannya.
Almarhumah Balandina Tibalimeten (70) meninggal dunia sekitar pukul 05.00 WIT akibat sakit yang dideritanya.
Namun perjalanan terakhirnya menuju tempat peristirahatan tidak dapat dilakukan menggunakan mobil jenazah ataupun ambulans.
Tidak ada jalan yang memungkinkan kendaraan roda empat mencapai desa tersebut.
Baca juga: Kemarau Melanda, Polres SBT Kerahkan Mobil AWC Suplai Air Bersih untuk Warga Fattolo
Baca juga: Sumur Mengering, Warga Wailola Bula Mulai Kesulitan Air Bersih saat Musim Kemarau
Saat matahari mulai tenggelam, warga berkumpul di rumah duka.
Dengan penerangan seadanya, mereka mengangkat peti jenazah dan memulai perjalanan panjang menembus medan berbatu, tanjakan curam, dan jalan berlumpur yang selama puluhan tahun menjadi satu-satunya akses menuju Desa Lohia Sapalewa.
Pemandangan itu menghadirkan ironi yang sulit disembunyikan.
Di tengah berbagai program pembangunan yang terus digaungkan, masih ada masyarakat yang harus memikul jenazah di pundak karena negara belum mampu menghadirkan akses jalan yang layak.
Duka yang Selalu Berulang
Bagi masyarakat Lohia Sapalewa, kejadian tersebut bukan peristiwa luar biasa.
Justru sebaliknya, kondisi itu telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ketika ada warga yang sakit keras, mereka harus ditandu berjam-jam menuju titik yang bisa dijangkau kendaraan.
Ketika ibu hamil mengalami komplikasi, keluarga dan warga harus berjibaku melintasi jalur pegunungan untuk mendapatkan pertolongan medis.
Dan ketika ada warga yang meninggal dunia, perjalanan duka seperti yang dialami keluarga almarhumah Balandina kembali terulang.
"Kami sudah terlalu sering mengalami kondisi seperti ini. Kalau ada yang sakit atau meninggal dunia, masyarakat harus bergotong royong mengangkut sendiri karena kendaraan tidak bisa masuk," kata Kepala Desa Lohia Sapalewa, Thomas Soriale.
Menurutnya, masyarakat tidak pernah berhenti berharap agar akses jalan menuju desa dapat segera dibangun.
Sebab persoalan yang mereka hadapi bukan lagi soal kenyamanan, melainkan menyangkut keselamatan dan kemanusiaan.
Jalan yang Tak Kunjung Tiba
Sebagai salah satu wilayah pegunungan di Kecamatan Taniwel, Desa Lohia Sapalewa masih menghadapi keterisolasian yang cukup tinggi.
Kondisi geografis yang berat membuat mobilitas warga sangat terbatas.
Hasil pertanian sulit dipasarkan, biaya transportasi menjadi mahal, dan akses terhadap layanan dasar pemerintah menjadi tidak maksimal.
Di sisi lain, warga merasa pembangunan yang mereka harapkan selama ini belum sepenuhnya menjangkau daerah pedalaman.
Padahal bagi masyarakat setempat, keberadaan jalan bukan sekadar proyek infrastruktur.
Jalan adalah penghubung menuju sekolah, akses menuju puskesmas dan jalan adalah harapan ketika nyawa seseorang harus diselamatkan.
Jalan juga adalah bentuk kehadiran negara di wilayah-wilayah yang selama ini berada jauh dari pusat perhatian.
Menunggu Perhatian yang Nyata
Malam itu, setelah perjalanan panjang yang menguras tenaga, jenazah almarhumah akhirnya tiba di Desa Lohia Sapalewa.
Tangis keluarga pecah ketika peti diturunkan untuk terakhir kalinya.
Sementara warga yang ikut memikul perlahan membubarkan diri, kembali ke rumah masing-masing dengan tubuh lelah namun hati lega karena telah menyelesaikan kewajiban kemanusiaan mereka.
Namun di balik peristiwa itu, tersimpan pesan yang lebih besar, bahwa hingga hari ini masih ada masyarakat di pedalaman Maluku yang berjuang melawan keterisolasian.
Masih ada desa yang menunggu akses dasar yang seharusnya menjadi hak setiap warga negara.
Perjalanan empat kilometer memikul jenazah Balandina Tibalimeten mungkin telah berakhir.
Tetapi perjalanan panjang masyarakat Lohia Sapalewa untuk mendapatkan jalan yang layak masih terus berlangsung.
Dan mereka berharap, suatu hari nanti, tidak ada lagi keluarga yang harus mengantar orang tercinta ke peristirahatan terakhir dengan memikul duka di atas pundak mereka sendiri. (*)