Laporan Reporter SURYAMALANG.COM, Fatimatuz Zahro/Bobby Koloway
SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Masyarakat di kawasan Kota Surabaya dan Sidoarjo diimbau oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur (Jatim) untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sampai Rabu (24/6/2026).
Peringatan ini dikeluarkan setelah hujan deras yang mengguyur sejak subuh memicu genangan air di sejumlah titik vital seperti Sukolilo, Rungkut, hingga Gunung Anyar.
Untuk mereduksi dampak banjir, petugas gabungan lintas instansi langsung diterjunkan ke lapangan guna mengoperasikan rumah pompa serta melakukan penyedotan genangan air secara masif.
Kalaksa BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan adanya anomali cuaca yang perlu diantisipasi masyarakat dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi tersebut merupakan dampak adanya gangguan konvergensi lokal di wilayah Jawa Timur yang memicu pertumbuhan awan hujan.
“BMKG sudah menyampaikan bahwa beberapa hari ini memang ada anomali cuaca yang perlu diantisipasi. Kondisi ini dapat menyebabkan hujan di sejumlah wilayah, termasuk Surabaya dan Sidoarjo,” kata Gatot, Selasa (23/6/2026).
Menurut keterangan BMKG yang diterima pihak BPBD, perubahan cuaca yang terjadi saat ini dipengaruhi gangguan konvergensi lokal di wilayah Jawa Timur.
Baca juga: Dampak Hujan Ekstrem Jatim: Genangan Rendam 16 Titik Surabaya, Pohon Tumbang Tutup Jalan Mojokerto
Selain itu, suhu muka laut yang relatif hangat memicu aktivitas penguapan cukup tinggi sehingga mendukung pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan sedang hingga lebat sampai 24 Juni 2026.
Gatot menjelaskan, kondisi tersebut terjadi di tengah musim kemarau yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah Jawa Timur.
Beberapa daerah seperti Bangkalan, Pasuruan, Lumajang, Banyuwangi, dan Bondowoso bahkan telah mengalami kekeringan.
Oleh karena itu, menurutnya, pemerintah daerah harus melakukan antisipasi terhadap dua potensi bencana sekaligus, yakni kekeringan dan banjir akibat hujan yang masih berpotensi turun di beberapa wilayah.
“Di satu sisi ada wilayah yang mulai mengalami kekeringan sehingga perlu penanganan seperti dropping air bersih dan pengaturan pola tanam. Namun di sisi lain, daerah seperti Surabaya dan Sidoarjo perlu mengantisipasi potensi banjir akibat perubahan cuaca yang terjadi,” ujarnya.
BPBD Jatim mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Selain itu, masyarakat yang tengah memanfaatkan masa libur sekolah untuk berwisata juga diminta memperhatikan perkembangan cuaca sebelum berkunjung ke destinasi wisata, terutama kawasan pantai, perbukitan, dan air terjun.
“Terutama bagi yang akan berwisata ke pantai, karena ada potensi peningkatan tinggi gelombang akibat perubahan cuaca. Begitu pula untuk destinasi perbukitan dan air terjun, perlu memastikan kondisi cuaca aman sebelum berkunjung,” pungkas Gatot.
Dalam dua hari terakhir, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur Kota Surabaya.
Termasuk hari ini, Selasa, hujan terjadi sejak pukul 04.00 WIB mengakibatkan genangan di sejumlah titik.
Berdasarkan data BPBD Jatim, genangan terjadi di sejumlah kawasan seperti Sukolilo, Tenggilis Mejoyo, Rungkut, Gubeng, Wiyung, Sukomanunggal hingga Gunung Anyar.
Baca juga: 2 Hari Surabaya Diterjang Hujan Deras dan Banjir, Keberadaan Bozem Harus Diperbanyak
Menindaklanjuti kondisi tersebut, BPBD Jatim bersama BPBD Kota Surabaya, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), serta instansi terkait langsung melakukan penyedotan genangan menggunakan pompa air dan mengoperasikan rumah pompa.
Tim BPBD Jatim juga melakukan penyedotan genangan di depan Kampus STIKOSA-AWS, Kecamatan Sukolilo, serta di kawasan Gunung Anyar Tambak.
Hingga Selasa siang, sejumlah titik genangan dilaporkan telah surut dan tidak terdapat korban maupun pengungsi akibat kejadian tersebut.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta maaf kepada warga atas munculnya genangan dan banjir di sejumlah wilayah Kota Pahlawan, Senin - Selasa (22-23/6/2026).
Wali Kota mengungkap, bencana tersebut akibat hujan deras yang mengguyur lebih dari empat jam hingga proyek saluran yang sedang berjalan.
Eri menjelaskan, hujan dengan intensitas tinggi terjadi di saat Surabaya telah memasuki musim kemarau.
Menurutnya, kondisi itu di luar perkiraan karena pemerintah kota mengacu pada informasi BMKG yang menyebut Jawa Timur telah memasuki periode kemarau.
"Jadi hari ini saya mohon maaf kepada warga Surabaya. Kita tidak memprediksi karena BMKG tidak mengatakan ini musim hujan. Ini adalah musim kemarau. Sehingga kita besar-besaran menjalankan proyek gorong-gorong dan saluran," kata Cak Eri ketika dikonfirmasi di Surabaya, Selasa (23/6/2026).
Dari hasil koordinasi BMKG tersebut, diketahui bahwa Juni sudah memasuki musim kemarau.
Oleh karena itu, berbagai proyek pengendalian banjir mulai dikerjakan secara masif untuk mengejar target penyelesaian sebelum musim hujan tiba pada akhir tahun.
Eri menjelaskan, pada proyek saluran, kontraktor memasang sandbag atau karung pasir sebagai penahan sementara aliran air agar area galian tetap aman selama proses konstruksi berlangsung.
Penutupan sebagian saluran itu diperlukan agar pekerjaan dapat diselesaikan sebelum musim hujan. Namun, di luar prediksi hujan tiba-tiba datang.
Ketika air deras datang dan biasanya mengalir melalui saluran tersebut, maka aliran tidak dapat bergerak secara normal sehingga mengakibatkan genangan di beberapa titik sekaligus.
Menurut Eri, sandbag berfungsi sebagai pembatas sementara yang menutup atau mempersempit aliran air di lokasi proyek agar pekerjaan pembangunan saluran dan gorong-gorong tidak rusak.
Oleh karena itu, ketika hujan deras turun, kapasitas aliran menjadi berkurang dan air mencari jalur lain yang menyebabkan genangan di sejumlah kawasan.
"Seperti di Simo Kalangan, memang terjadi karena kita sudah melakukan sandbag. Saluran sudah mulai dikerjakan, lalu hujan datang. Ada dua pilihan, proyek ini dibuka dan menjadi rusak, atau kita pertahankan sambil melakukan penanganan genangan," ujarnya.
Akhirnya, pihaknya memutuskan untuk mempertahankan proyek dengan melakukan penanganan genangan tanpa melibatkan saluran.
Pemkot Surabaya mengerahkan mobil pemadam kebakaran, pompa penyedot, serta personel Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Petugas juga membuka sebagian sandbag secara bertahap agar air dapat mengalir tanpa merusak konstruksi yang sedang dikerjakan.
"Kita fungsikan kekuatan mobil PMK dan DLH. Sandbag itu kita buka sedikit demi sedikit supaya air bisa mengalir, tetapi pekerjaan yang sudah terpasang tidak rusak," kata Eri.
Selain curah hujan tinggi, Eri menyebut banjir juga dipengaruhi pasang air laut yang terjadi bersamaan. Kondisi tersebut membuat aliran air dari daratan menuju laut menjadi terhambat.
"Yang pertama, air pasang lautnya tinggi. Yang kedua, hujannya tidak di musim hujan, tapi di musim kemarau dengan curah yang tinggi," ujarnya.
Di kawasan pesisir Wonorejo misalnya, air laut pasang bahkan masuk ke permukiman warga. Menurut Eri, kondisi tersebut sulit diantisipasi karena air bergerak dari laut menuju daratan.