TRIBUNNEWS.COM - Gelombang ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu semakin menguat setelah hasil survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Israel menilai perang melawan Iran justru berdampak negatif terhadap keamanan nasional mereka.
Survei yang dilakukan oleh Hebrew University of Jerusalem bersama Institut Agam pada 17–20 Juni terhadap 3.644 responden menggambarkan menurunnya kepercayaan publik pasca konflik Iran serta kesepakatan diplomatik antara Teheran dan Amerika Serikat.
Dalam temuan utama, sebanyak 92,1 persen responden percaya bahwa Iran justru menjadi pihak yang memenangkan konflik dan negosiasi lanjutan dengan Amerika Serikat.
Angka ini tergolong tinggi karena tidak hanya berasal dari kelompok oposisi, tetapi juga mencakup 93,1 persen pemilih blok sayap kanan pendukung Netanyahu.
Temuan tersebut memperlihatkan adanya persepsi luas di masyarakat bahwa Iran berhasil memperoleh keuntungan strategis dari rangkaian konflik, sementara Israel dinilai tidak mencapai hasil signifikan sesuai tujuan operasi militer yang sebelumnya diumumkan pemerintah.
Sebelumnya, pemerintah Israel menyatakan bahwa operasi terhadap Iran bertujuan melemahkan program nuklir, menekan kemampuan rudal, dan mengurangi pengaruh Teheran di kawasan Timur Tengah. Namun, hasil survei menunjukkan mayoritas publik justru menilai hasil tersebut tidak tercapai secara maksimal.
Survei juga mengungkap penurunan tajam kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Netanyahu. Sebanyak 72,5 persen responden tidak mempercayai klaim bahwa Israel telah mencapai kemajuan signifikan dalam konflik dengan Iran maupun berhasil mengurangi ancaman eksistensial.
Selain itu, mengutip dari The Times of Israel sebanyak 56,4 persen responden menilai penanganan perang oleh Netanyahu sebagai “gagal” atau “buruk”, sementara hanya 26,5 persen yang menilai kinerjanya “baik” atau “sangat baik”.
Dukungan politik terhadap Netanyahu juga dilaporkan menurun dari 40,5 persen pada awal Maret menjadi 29,4 persen pada Juni.
Tidak hanya itu, mayoritas responden juga menilai perang tersebut memperburuk situasi keamanan jangka panjang Israel.
Baca juga: Hubungan AS-Israel Goyang, Survei: Cuma 11 Persen Warga Israel Yakin Negaranya Menang atas Iran
Sebanyak 82,9 persen percaya kampanye militer selama enam minggu terhadap Iran justru melemahkan keamanan negara, sementara 87,8 persen menilai tujuan utama operasi militer tidak tercapai atau hanya sebagian berhasil.
Secara keseluruhan, hasil survei ini menunjukkan adanya jurang kepercayaan yang semakin lebar antara pemerintah Israel dan publik, terutama terkait efektivitas strategi militer dan arah kebijakan keamanan nasional.
Lebih lanjut, survei terbaru tidak hanya menyoroti penilaian publik terhadap kepemimpinan dalam negeri Israel, tetapi juga memperlihatkan pandangan negatif terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kesepakatan dengan Iran.
Dalam hasil survei tersebut, banyak warga Israel menilai bahwa kesepakatan antara Washington dan Teheran tidak sepenuhnya mempertimbangkan kepentingan keamanan Israel. Persepsi ini muncul di tengah ketegangan regional yang masih berlangsung serta dampak konflik yang belum sepenuhnya mereda.
Sebanyak 69,1 persen responden menyatakan bahwa penanganan konflik oleh Donald Trump dinilai “gagal” atau “buruk”. Sementara itu, hanya sekitar 10,8 persen responden yang menilai kebijakan tersebut berjalan baik.
Temuan ini menunjukkan adanya ketidakpuasan signifikan terhadap pendekatan diplomasi Amerika Serikat, terutama karena kesepakatan AS–Iran dianggap memberikan ruang politik dan diplomatik lebih besar kepada Teheran di tengah situasi keamanan kawasan yang masih sensitif.
Dengan hasil survei tersebut, posisi politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dinilai menghadapi tekanan yang semakin besar di dalam negeri.
Penurunan kepercayaan publik menunjukkan adanya jurang antara klaim pemerintah dan persepsi masyarakat terhadap hasil konflik yang terjadi.
Di saat yang sama, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah masih belum sepenuhnya stabil dan terus diwarnai ketegangan.
Kondisi ini membuat pemerintah Israel tidak hanya menghadapi tantangan eksternal di tingkat regional, tetapi juga persoalan internal berupa menurunnya dukungan politik dan meningkatnya kritik publik terhadap arah kebijakan yang ditempuh.
(Tribunnews.com / Namira)