TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Musim kemarau 2026 diprediksi akan berlangsung lebih panjang dan kering dari biasanya akibat fenomena El Nino. BMKG memprakirakan puncak kemarau di Nusa Tenggara Timur (NTT) akan terjadi pada bulan Juli hingga September 2026.
Menyikapi hal tersebut, dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, Mario Malado, membagikan sejumlah siasat dan inovasi teknologi pertanian yang realistis bagi para petani di Nusa Tenggara Timur dan Pulau Flores khususnya.
Dalam program Flores Bicara Jumat (19/6/2026), Mario menegaskan bahwa ketahanan suatu bangsa sangat bergantung pada fundasi pangannya. Oleh karena itu, keterbatasan air di wilayah lahan kering seperti Sikka, Ende, Flores Timur, hingga Lembata harus disiasati dengan cerdas.
Ia merekomendasikan strategi agroteknologi ramah kantong yang bisa diterapkan petani untuk menghadapi puncak kemarau 2026.
Baca juga: Musim Kemarau di Indonesia Tahun 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Panjang Dibanding Normalnya
Mario mengimbau petani untuk mulai beralih ke komoditas pangan lokal yang jauh lebih tahan terhadap cuaca panas ekstrem.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan padi. Ketika bicara pangan, jangan langsung berpikir padi. Kita bisa tanam jagung, sorgum, atau umbi-umbian lokal seperti Ubi Paluwe," ujar Mario.
Ia mencontohkan beberapa kelompok tani di Kotadoen (Flores Timur) dan Pulau Solor yang hingga kini masih gencar memproduksi dan mengolah sorgum sebagai alternatif pangan yang adaptif di lahan kering.
Bagi petani hortikultura, menanam sayuran daun di puncak kemarau dinilai memiliki risiko gagal panen yang sangat besar akibat suhu yang terlalu tinggi.
Sebagai solusinya, Mario menyarankan budidaya tanaman terung dan cabai. Terung merupakan tipe tanaman yang justru terganggu pertumbuhannya jika kelebihan air, sehingga sangat cocok untuk musim kering. Sementara cabai tidak memerlukan pasokan air intensif setiap hari, melainkan bergantung pada fase pertumbuhannya.
Baca juga: Musim Kemarau di Indonesia Bagian Selatan Menguat, BMKG: Waspada Kekeringan Meteorologis
Menjawab tantangan mahalnya teknologi pertanian berskala besar seperti irigasi tetes pabrikan atau mulsa plastik, Unipa menawarkan alternatif sederhana yang memanfaatkan barang-barang di sekitar:
Irigasi Tetes Botol Bekas & Infus: Memanfaatkan botol air mineral bekas yang dimodifikasi dengan selang infus baru untuk mengalirkan air secara presisi ke perakaran tanaman.
Sistem Sumbu (Wick System) Karpet Lantai
Untuk tanaman dalam polybag, petani bisa menggunakan potongan karpet lantai bekas atau pakaian bekas yang dililit sebagai sumbu. Karpet lantai dinilai memiliki daya serap air yang sangat tinggi dibanding sumbu kompor.
Mulsa Organik dari Rumput dan Jerami
Guna menekan penguapan (evaporasi) akibat terik matahari, petani tidak perlu membeli mulsa plastik. Cukup gunakan rumput sisa penyiangan lahan, jerami, atau dedaunan kering untuk menutup tanah di sekitar perakaran tanaman.
Irigasi Gravitasi
Jika menanam di lahan terbuka, petani bisa meletakkan tandon di tempat tinggi dan mengalirkan air lewat selang yang dilubangi kecil-kecil, memanfaatkan gaya gravitasi tanpa perlu pompa bertenaga besar.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya di kawasan persawahan Magepanda, Mario mematahkan mitos bahwa padi harus digenangi air secara terus-menerus.
"Padi digenang itu sebenarnya hanya untuk menekan pertumbuhan gulma atau rumput liar, bukan untuk meningkatkan produksi. Pengairan berselang (intermittent) dengan interval 2 sampai 3 hari sekali sama sekali tidak memengaruhi hasil panen," jelasnya.
Selain menghemat air, Mario juga menyarankan pemanfaatan sistem padi ratun, yaitu menumbuhkan kembali tunas dari sisa batang padi yang telah dipanen untuk memaksimalkan sisa air dan curah hujan yang singkat tanpa harus melewati fase pembibitan ulang.
Berdasarkan data Bappeda Sikka tahun 2024, terdapat kurang lebih 53 embung yang tersebar di Kabupaten Sikka. Mario mendesak agar seluruh elemen mengoptimalkan embung-embung yang masih aktif, seperti di Wairita dan Magepanda, lengkap dengan pembenahan saluran irigasinya.
Terakhir, ia mengingatkan pentingnya gerakan tanam serempak di satu hamparan wilayah demi memutus siklus hidup hama seperti wereng coklat, ulat grayak pada jagung, dan kutu putih pada tomat yang tetap mengancam di musim kemarau.