Bayi Sering Gumoh Setelah Menyusu, Benarkah karena Asam Lambung? Ini Kata Dokter
Anita K Wardhani June 24, 2026 07:18 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orangtua panik ketika melihat bayinya sering mengeluarkan susu dari mulut setelah menyusu.

Tak sedikit yang langsung mengira kondisi tersebut sebagai penyakit asam lambung atau (Gastroesophageal Reflux Disease) GERD pada bayi.

Baca juga: Gumoh, Kolik, hingga Diare pada Bayi Sering Dikira Alergi Makanan, Ini Faktanya

Padahal, menurut Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Sri Kesuma Astuti, Sp.A, Subsp.G.H(K), gumoh pada bayi sebagian besar merupakan kondisi yang normal dan menjadi bagian dari proses tumbuh kembang.

Namun, ada beberapa tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan karena bisa mengarah pada gangguan yang lebih serius.

Gumoh Tidak Sama dengan Muntah

Sri menjelaskan, banyak orang tua masih menyamakan gumoh dengan muntah.

Padahal keduanya merupakan kondisi yang berbeda.

Gumoh terjadi ketika isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan dan keluar melalui mulut secara pasif tanpa usaha dari bayi.

Sementara muntah terjadi karena adanya kontraksi atau usaha aktif tubuh untuk mengeluarkan isi lambung.

"Nah gumoh ini tidak sama seperti muntah. Secara proses kejadiannya kalau gumoh itu terjadi secara pasif, mengalir begitu saja, isi lambung berpindah ke esofagus dan keluar melalui mulut," jelas Sri pada media briefing virtual diselenggarakan IDAI, Selasa (23/6/2026). 

Menurutnya, bayi memang lebih mudah mengalami gumoh karena katup antara lambung dan kerongkongan belum berfungsi sempurna.

Selain itu, makanan utama bayi berupa cairan susu yang lebih mudah mengalir kembali ke kerongkongan.

Hampir 40 Persen Bayi Mengalami Gumoh

Sri mengatakan orang tua tidak perlu langsung panik ketika melihat bayi sering gumoh pada usia awal kehidupan.

Sebab kondisi tersebut sangat umum terjadi.

"Ternyata pada bayi-bayi usia 2-5 bulan itu hampir 40 persen bayi akan secara normal mengalami gumoh atau regurgitasi," ungkapnya.

Kondisi ini biasanya mencapai puncak pada usia 2 hingga 5 bulan.

Seiring bertambahnya usia dan semakin matangnya sistem pencernaan, frekuensi gumoh akan berkurang secara alami.

Pada usia 12 bulan, jumlah bayi yang masih mengalami gumoh normal hanya tersisa sebagian kecil.

Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Diabaikan

Meski sebagian besar gumoh merupakan kondisi fisiologis, Sri mengingatkan ada sejumlah tanda bahaya yang perlu diwaspadai orang tua.

Di antaranya muntah darah, berat badan yang tidak bertambah sesuai usia, bayi menolak menyusu, menangis berlebihan tanpa sebab jelas, gangguan tidur, hingga muncul keluhan pencernaan lain seperti diare atau sembelit.

Jika gejala tersebut muncul, orang tua disarankan segera membawa anak ke dokter.

"Maka memang harus segera bayi tersebut kita konsultasikan ke dokter," katanya.

Menurut Sri, yang terpenting adalah orang tua memahami bahwa tidak semua gumoh berarti penyakit.

Namun kewaspadaan tetap diperlukan agar kondisi yang membutuhkan penanganan medis tidak terlambat terdeteksi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.