Jakarta (ANTARA) - Sekelompok warga California menuduh operator SPBU besar di negara bagian tersebut menggunakan perangkat lunak penetapan harga bersama untuk mengoordinasikan harga bahan bakar di pompa bensin.

Menurut mereka aksi itu memungkinkan harga dinaikkan sedikit demi sedikit dan berpotensi membebani para pengendara hingga jutaan dolar secara keseluruhan.

Jika tuduhan ini terbukti di pengadilan, kasus tersebut dapat menjadi salah satu ujian hukum paling penting sejauh ini terkait peran kecerdasan artifisial (AI) yang semakin besar dalam penetapan harga.

California terkenal karena banyak hal, tetapi sedikit yang membuat warga kesal seperti harga bahan bakar, yang memang sudah termasuk yang tertinggi di Amerika Serikat.

Laman Carscoops, Selasa (23/6) waktu setempat melaporkan, saat ini, harga bensin reguler mencapai 5,56 dolar AS (Rp99,5​​​​​​ ribu) per galon, bensin mid-grade 5,788 dolar (Rp103,6 ribu) per galon, dan bensin premium 5,95 dolar (Rp106,5 ribu) per galon. Angka itu kurang lebih setara dengan Rp26 ribu hingga Rp28 ribu per liter.

Gugatan yang diajukan ke pengadilan federal di Sacramento pada 22 Juni itu menyebut Walmart, Marathon Petroleum, BP, 7-Eleven, serta penyedia perangkat lunak penetapan harga bahan bakar Kalibrate Fuel Systems sebagai tergugat.

Menurut para penggugat, lebih dari 1.700 SPBU di California menggunakan platform penetapan harga berbasis AI milik Kalibrate untuk secara otomatis menyesuaikan harga bahan bakar dengan memanfaatkan data pasar rahasia yang dibagikan di antara para peritel yang berpartisipasi.

Gugatan tersebut menyatakan bahwa sistem itu membantu operator menaikkan harga bensin hingga 22 sen per galon dan harga solar hingga 33 sen per galon. Para penggugat berpendapat bahwa setiap kenaikan satu sen pada harga bahan bakar membebani pengendara di California sekitar 134 juta dolar AS (Rp2,39 triliun) per tahun.

“Ketika keluarga-keluarga kesulitan membiayai perjalanan mereka ke tempat kerja, para tergugat telah bersekongkol untuk mengakhiri persaingan, bergabung dalam sebuah kelompok berbasis AI guna memastikan bahwa ke mana pun pengendara pergi, harga bensin tetap tinggi secara artifisial," bunyi gugatan tersebut.

Inti dari kasus ini adalah AB 325, undang-undang California yang baru diberlakukan dan disahkan pada tahun 2025. Undang-undang tersebut melarang penggunaan algoritma penetapan harga bersama yang dapat memfasilitasi perilaku anti-persaingan.

Gugatan ini diyakini sebagai salah satu tantangan hukum besar pertama yang diajukan berdasarkan undang-undang baru tersebut dan menuntut ganti rugi atas nama para pengendara yang diduga telah membayar harga bahan bakar lebih mahal dari yang seharusnya.

Semua ini terjadi hanya beberapa minggu setelah otoritas California mengeluarkan surat panggilan kepada sejumlah operator SPBU sebagai bagian dari penyelidikan mengenai tingginya harga bahan bakar.

Untuk saat ini, tuduhan-tuduhan tersebut masih belum terbukti. Di sisi lain, Kalibrate melakukan konfirmasi di situs web resminya.

“Setiap instansi AI milik peritel sepenuhnya terpisah, tanpa data atau model yang dibagikan bersama, dan tanpa interaksi antar-pesaing,” tulis Kalibrate.

Perwakilan Walmart menyatakan bahwa perusahaan tersebut sedang meninjau gugatan dan akan memberikan tanggapan yang sesuai di pengadilan. Sementara itu BP menolak memberikan komentar. Marathon, 7-Eleven, dan Kalibrate tidak menanggapi permintaan komentar.