Jangan Lupa Puncak Puasa Asyura Besok, Begini Hukum dan Bacaan Niat Arabnya
ferri amiril June 24, 2026 11:20 AM

TRIBUNPRIANGAN.COM - Akhir Juni masuk dalam 10 hari pertama bulan Hijriah awal yakni Muharam.

Pasa momen ini Umat Muslim dianjurkan untuk melaksanakan satu ibadah Sunnah yang ditekankan untuk dikerjakan, yakni Berpuasa.

Muharram sendiri merupakan bulan pertama dalam sistem penanggalan Islam atau kalender Hijriah, yang saat ini baru saja masuk pada tahun ke 1448.

Dimana jika dibawa dalam kalender Masehi, tahun ini, 1 Muharram akan jatuh pada bulan Juni 2026, dimana berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026, Tahun Baru Islam 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026 dan ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Dengan demikian, perjalanan bulan Muharam baru sampai pada 9 hari pertama, yang menandakan berada di 10 hari awal, yang juga menjadi penekanan aktifitas ibadah dalam Islam.

Adapun, penanggalan kalender Qamariah ini juga menjadi awal dari perjalanan berabgai aktifitas seluruh muslim di berbagai belahan dunia.

Satu diantaranya adalah ibadah bulanan yang kerap menjadi sunnah yang ditekankan dan dikerjakan RasuluLlah semasa hidup, yakni Puasa Tasua dan Asyura.

Berpuasa disepanjang bulan Muharram adalah sebaik baik bulan untuk puasa seperti disebutkan oleh Rasulullah Shallallaahu `alayhi wa sallam dalam hadits yang disebutkan Oleh Imam Muslim dan Abu Hurairah :

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ اْلمُحَرَّمِ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

”Sebaik baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan sebaik-baiknya salat setelah salat fardhu adalah salat malam” (HR. Muslim No: 2755).

Terdapat dua amalan puasa dalam bulan Muharam, yaitu puasa Tasua dan puasa Asyura.

Tepat di hari ini, Rabu (24/6/2026), masuk pada hari kesembilan maka hari inilah puasa Tasu'a dikerjakan.

Baca juga: Bolehkan Kerjakan Puasa Asyura Tanpa Tasua di 10 Hari Awal Muharam, Begini Penjelasannya

Puasa Tasua merupakan puasa sebelum hari 10 Muharam atau yang dilaksanakan pada 9 Muharam.

Dalam riwayat dijelaskan di akhir hayatnya Rasulullah pernah berkeinginan jika ia masih hidup di tahun depan maka ia akan berpuasa pada 9 dan 10 Muharam.

عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – يَقُولُ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ, قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: (( فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ.)) قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berpuasa di hari ‘Asyura’ dan memerintahkan manusia untuk berpuasa, para sahabat pun berkata, ‘Ya Rasulullah!

Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ‘Apabila tahun depan -insya Allah- kita akan berpuasa dengan tanggal 9 (Muharam).’

Belum sempat tahun depan tersebut datang, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.”

Hal inilah yang menjadikan pelengkap bagi puasa Asyura.

Puasa Asyura merupakan puasa yang dilaksanakan pada 10 Muharam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“… Dan puasa di hari ‘Asyura’ saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu.” (HR Muslim no. 1162/2746)

Di Indonesia, puasa Asyura ini puasa yang paling dikenal masyarakat.

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

(كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَه.)

“Dulu hari ‘Asyura, orang-orang Quraisy mempuasainya di masa Jahiliyah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mempuasainya. Ketika beliau pindah ke Madinah, beliau mempuasainya dan menyuruh orang-orang untuk berpuasa.

Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau meninggalkan puasa ‘Asyura’. Barang siapa yang ingin, maka silakan berpuasa. Barang siapa yang tidak ingin, maka silakan meninggalkannya.”

Selain puasa pada 9 dan 10 Muharam, ada pula ulama yang berpendapat adanya puasa sesudah 10 Muharam yakni pada 11 Muharam.

Di antara dalil yang menyatakan ini terdapat dalam hadis Ibnu Abbas.

Baca juga: Penjelasan Puasa Asyura Tanpa Tasua di 10 Hari Awal Muharam

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا

“Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi. Berpuasalah sebelumnya atau berpuasalah setelahnya satu hari." HR Ahmad no. 2153.

Untuk itu, bagi masyarakat yang akan melakasanakan puasa di esok hari, berikut ini niat yang bisa dibaca waktu sahur.

Niat Puasa Asyura

نَوَيْتُ صَوْمَ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاء سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shouma fii yaumi aasyuuroo’ sunnatan lillaahi ta’aalaa

Artinya: Saya niat puasa Asyura, sunah karena Allah Ta’ala

Lantas bolehkan mengerjakan Asyura saja tanpa Tasua?

Hukum Puasa Asyura Tanpa Tasua

Dibeberkan Ustadz Khalid Basalamah, sebagian ulama berpendapat puasa di tanggal 10 Muharram saja tanpa diikuti puasa 9 Muharram hukumnya makruh.

Ustadz Khalid Basalamah menuturkan Nabi Muhammad SAW berencana Puasa Tasua 9 Muharram di tahun selanjutnya anjuran Puasa Asyura sebagaimana termaktub dalam hadits shahih.

Kini kaum muslimin memasuki tahun baru yakni bulan Muharram 1446 Hijriyah, bulan pertama sistem penanggalan Islam.

Bulan Muharram salah satu bulan mulia, sebab itu kaum muslimin dianjurkan memperbanyak amal shaleh di antaranya puasa.

Ada dua puasa sunnah yang khusus hanya ada di bulan Muharram, yaitu Puasa Tasua dikerjakan pada 9 Muharram dan Puasa Asyura dilaksanakan pada 10 Muharram.

Ustadz Khalid Basalamah menerangkan pada zaman dulu Nabi Muhammad SAW masuk ke Madinah melaksanakan Puasa Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.

Namun, pada saat bulan Ramadhan disyariatkan untuk wajib berpuasa, maka Nabi SAW tidak lagi mewajibkan Puasa Asyura, para sahabat dan umat muslim diberikan kelowongan untuk berpuasa atau tidak sebagaimana hukum Puasa Asyura adalah sunnah.

"Artinya Puasa Asyura di awal Islam hukumnya wajib, dan menjadi sunnah setelah adanya perintah Puasa Ramadhan," jelas Ustadz Khalid Basalamah dari kanal youtube Khalid Basalamah Official.

Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan selain menjaga Puasa Asyura 10 Muharram juga menambah puasa sehari sebelumnya yakni Puasa Tasua 9 Muharram.

Hal ini berawal dari para sahabat yang merasa resah dengan kesamaan ibadah yang dilakukan umat Islam dengan kaum Yahudi pada 10 Muharram, yakni sama-sama berpuasa.

Kaum Yahudi puasa di 10 Muharram adalah hari dimana Allah selamatkan Nabi Musa As dari kejaran Fir'aun, sebagai tanda syukur kepada Allah.

Adanya puasa di Hari Tasua pada 9 Muharram, tak lain agar umat muslim berbeda atau menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi yang juga berpuasa pada hari Asyura 10 Muharram. Hal ini menjadi pelengkap puasa Asyura.

Baca juga: Niat Puasa Muharam 2026, Ada Puasa Asyura dan Tasua

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ الْيَوْمَ التَّاسِعَ

Artinya: “Jika Muharram tahun depan saya masih hidup, saya akan puasa tanggal 9,” (HR. Ahmad 1971, Muslim 2723 dan yang lainnya).

"Hanya saja sebelum tiba Muharram tahun depan pascasabda tersebut, Rasulullah SAW wafat," papar Ustadz Khalid Basalamah.

Adapula anjuran puasa di tanggal 11 Muharram sebagaimana hadits berikut:

صوموا يوم عاشوراء وخالفوا فيه اليهود وصوموا قبله يوما أو بعده يوما

Artinya: “Puasalah hari Asyura’ dan jangan sama dengan model orang Yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (HR. Ahmad, Al Bazzar).

Namun sebagian ulama mengatakan puasa di tanggal 11 Muharram tidak dianjurkan atau disyariatkan, jika dalam kondisi penentuan awal bulan Muharram tidak jelas maka bisa berpuasa tiga hari 9, 10, dan 11 Muharram.

Sering dipertanyakan sebagian umat Islam hukum Puasa Asyura saja tanpa mengikutkan Tasua atau berpuasa di 10 dan 11 Muharram karena tanggal 9 Muharram ada halangan.

"Sebagian ulama berpendapat puasa di tanggal 10 Muharram saja hukumnya makruh. Nabi Muhammad SAW berencana akan Puasa Tasu'a 9 Muharram di tahun depan jika masih hidup sebagaimana disebutkan dalam hadits untuk menyelisihi kaum Yahudi," terang Ustadz Khalid Basalamah.

Pendapat yang lain mengatakan Puasa Asyura 10 Muharram saja tidak makruh, sebab hukum asalnya sunnah. Akan tetapi lebih afdhol diiringi puasa sehari sebelumnya, jika ada halangan dilaksanakan sehari sesudahnya untuk membedakan dengan umat Yahudi.

Walaupun saat ini ulama menyatakan sudah tidak ada lagi orang Yahudi mengerjakan Puasa Asyura bahkan tidak ada puasa yang rutin dikerjakan.

Jadwal Puasa Sunnah Lain di Sepanjang Muharam

Adapun, selain puasa Tasu'a dan Asyura terdapat pula puasa sunnah lain seperti puasa Senin-Kamis dan Ayaumil Bidh.

Sebagai pengngat berikut jadwalnya:

  • Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Juli 2026

Ahad, 28 Juni 2026 M/13 Muharram 1448 H
Senin, 29 Juni 2026 M/14 Muharram 1448 H
Selasa, 30 Juni 2026 M/15 Muharram 1448 H

  • Jadwal Puasa Senin-Kamis Juli 2026

25 Juni 2026 (10 Muharram 1448 H)

29 Juni 2026 (14 Muharram 1448 H)

2 Juli 2026 (17 Muharram 1448 H)

6 Juli 2026 (21 Muharram 1448 H)

9 Juli 2026 (24 Muharram 1448 H)

13 Juli 2026 (28 Muharram 1448 H)

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.