TRIBUNNEWS.COM - Seorang pendukung Timnas Republik Demokratik Kongo mencuri perhatian dunia setelah aksinya yang tidak biasa berdiri mematung di tribun stadion.
Pria itu bernama Michel Kuka Mboladinga yang dikenal karena berdiri tanpa bergerak sama sekali selama pertandingan, layaknya patung hidup, bahkan di tengah riuhnya dukungan ribuan suporter, dikutip dari The Sun.
Miche yang kini berusia 49 tahun, kembali menjadi sorotan saat mendukung RD Kongo dalam ajang besar seperti Piala Afrika hingga Piala Dunia 2026.
Di Piala Dunia 2026, Michel Kuka Mboladinga sempat tidak terlihat saat laga RD Kongo berakhir imbang 1-1 kontra Portugal.
Hasil tersebut menjadi kejutan, mengingat Kongo yang berada di peringkat 46 FIFA mampu menahan Portugal yang menempati posisi 5 dunia.
Sebelumnya, Ketua Juventini Banten, Arizqi Romadhoni, juga sempat menantikan kejutan dari Kongo.
“Saya menanti kejutan dari tim ini (Kongo), kemungkinan mereka akan lolos lewat jalur peringkat ketiga terbaik,” kata Arizqi Romadhoni dalam Podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Kabar gembira kemudian datang pada matchday kedua melawan Kolombia pada Rabu (24/6/2026) pagi WIB. Suporter Kongo yang dijuluki “patung hidup” tersebut terlihat di tribun Guadalajara Stadium dengan mengenakan jas berwarna merah.
Kehadirannya dikonfirmasi oleh fanbase pecinta sepak bola Amerika, Liberta Depre, melalui platform X.
Di saat para suporter lain berteriak, bernyanyi, dan menabuh drum, ia justru tetap berdiri diam di satu titik tanpa melakukan gerakan sedikit pun. Bahkan selama 90 menit pertandingan penuh, dan terkadang hingga perpanjangan waktu.
Aksi tersebut bukan hal baru. Ia disebut telah melakukan “ritual diam” itu sejak tahun 2013 di berbagai pertandingan tim nasional Kongo, hingga akhirnya dijuluki “Manusia Patung” oleh para penggemar sepak bola di dunia maya.
Baca juga: Ironi Inggris di Piala Dunia 2026: Rekor Penguasaan Bola Berujung Nirgol
Michel kerap tampil dengan setelan retro bergaya tahun 1960-an, lengkap dengan kacamata klasik dan gaya rambut rapi.
Ia biasanya berdiri di atas pijakan kayu sederhana di tribun, membuat dirinya tampak seperti monumen hidup di tengah atmosfer stadion yang penuh emosi.
Aksi tersebut membuatnya viral saat Piala Afrika (AFCON) di Maroko, ketika kamera televisi beberapa kali justru menyorot dirinya alih-alih jalannya pertandingan di lapangan.
Meski terlihat seperti atraksi, Michel menegaskan bahwa aksinya merupakan bentuk “misi patriotik”.
Ia percaya bahwa ketenangan total yang ia jaga adalah cara untuk menyalurkan dukungan spiritual dan energi positif kepada tim yang ia bela.
Menurutnya, diam bukan berarti pasif, melainkan bentuk konsentrasi penuh untuk memberi kekuatan kepada para pemain di lapangan.
Bagi sebagian pendukung, pose diamnya juga dianggap memiliki makna simbolis.
Gerakan tangan yang ia lakukan sering dikaitkan dengan penghormatan terhadap tokoh kemerdekaan Kongo, Patrice Lumumba, yang dikenal sebagai simbol perjuangan anti-kolonial negara tersebut.
Popularitas Michel bahkan membuat Federasi Sepak Bola Kongo dikabarkan memberikan dukungan untuk membawanya ke Piala Dunia 2026.
Para pemain disebut secara khusus meminta kehadirannya sebagai “jimat keberuntungan” tim.
Meski demikian, menjalani aksinya bukan hal mudah.
Berdiri tanpa bergerak dalam waktu lama di tengah kondisi stadion yang panas dan penuh tekanan fisik menjadi tantangan tersendiri.
Michel bahkan disebut melakukan latihan khusus sebelum turnamen untuk melatih ketahanan tubuhnya agar mampu tetap diam sepanjang pertandingan.
Dari sekadar suporter, Michel kini berubah menjadi fenomena global yang memperlihatkan sisi unik budaya suporter sepak bola.
Aksinya yang sederhana namun konsisten menjadikannya salah satu figur paling viral di dunia olahraga, sekaligus simbol dedikasi ekstrem terhadap tim nasionalnya.
(Tribunnews.com/Ali)