Misi Kik Kun Selamatkan Anak-Anak Beltim dari Candu Gadget Lewat Permainan Tradisional
Asmadi Pandapotan Siregar June 24, 2026 11:36 AM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Tawa puluhan anak sekolah dasar (SD) menggema di Lapangan Balai Serba Guna Desa Lilangan, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, saat mereka diajak memainkan kembali permainan tradisional khas Belitong yang mulai ditinggalkan generasi muda.

Di tengah kegiatan tersebut, perhatian tertuju pada sosok Syahiril (63),  tetua adat sekaligus dukun kampung Desa Lilangan yang lebih akrab disapa dengan panggilan Kik Kun oleh warga setempat. Wajahnya yang dihiasi kerutan yang wajar muncul di usianya kini. Namun, sore itu Kik Kun karena mengemban tugas penting melestarikan kekayaan masa lalu yang perlahan mulai terkikis oleh zaman.

Di bawah panduan langsung dari Kik Kun, puluhan murid SD yang hadir berkumpul dan membagi diri ke dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka bersiap untuk mempraktikkan tiga permainan tradisional legendaris asal tanah Belitong, yakni Pong Pong Along, Jajak Setunju, dan Sapu Sapu Rengit.

Bagi Kik Kun, pemandangan ini tentunya terbilang amat mewah. Ada rasa haru yang muncul di hatinya saat melihat permainan tradisional ini kembali dimainkan di depan umum.

"Permainan-permainan ini adalah permainan tahun-tahun lama. Dari tahun 1950-an itu sudah ada, dan sampai tahun 1975-an itu masih sangat sering dimainkan oleh anak-anak di kampung," ujar Kik Kun kepada Posbelitung.co, Selasa (23/6/2026).

Sembari memandangi anak-anak itu, ingatan Kik Kun sempat terbawa ke masa masa kecilnya dulu. Ia mengenang sebuah masa di mana kehidupan masih sangat bersahaja dan bergantung penuh pada hasil alam di ladang.

Pada masa itu, benda seperti motor, musik rekaman, apalagi telepon genggam sama sekali belum ada di Desa Lilangan. Hiburan satu-satunya bagi anak-anak di kala itu adalah kreativitas dari interaksi sosial selama di ladang.

PERMAINAN LAWAS - Sejumlah murid Sekolah Dasar (SD) dipandu oleh Tetua Adat sekaligus Dukun Kampung Desa Lilangan, Syahiril atau Kik Kun (63), saat mempraktikkan permainan tradisional Belitong di atas panggung Festival Seni Budaya Desa Lilangan, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Selasa (23/6/2026). Lewat tiga permainan legendaris yaitu Pong Pong Along, Jajak Setunju, dan Sapu Sapu Rengit, generasi muda diajak untuk kembali melatih kekompakan, kejujuran, dan sportivitas sekaligus mengalihkan ketergantungan dari gawai.
PERMAINAN LAWAS - Sejumlah murid Sekolah Dasar (SD) dipandu oleh Tetua Adat sekaligus Dukun Kampung Desa Lilangan, Syahiril atau Kik Kun (63), saat mempraktikkan permainan tradisional Belitong di atas panggung Festival Seni Budaya Desa Lilangan, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Selasa (23/6/2026). Lewat tiga permainan legendaris yaitu Pong Pong Along, Jajak Setunju, dan Sapu Sapu Rengit, generasi muda diajak untuk kembali melatih kekompakan, kejujuran, dan sportivitas sekaligus mengalihkan ketergantungan dari gawai. (Posbelitung.co/ Kautsar Fakhri Nugraha/Kautsar Fakhri Nugraha)

"Kalau zaman dulu, HP kan pasti tidak ada, musik pun belum pernah tahu, bahkan motor saja kayaknya masih belum ada. Kegiatan kami cuma diam di ladang saja bersama orang tua," katanya.

Kik Kun mengisahkan bahwa ketiga permainan tradisional ini pada awalnya lahir sebagai pengisi waktu luang bagi anak-anak kecil saat sore hari. Permainan ini biasa dilakukan ketika mereka harus menunggu orang tua selesai memasak makanan di dapur pondok ladang.

"Permainan ini dulunya untuk menunggu emak bapak memasak. Sambil nunggu nasi belum masak, kami waktu kecil-kecil dulu ya itulah kerjaannya bermain sapu-sapu rengit, jajak setunju, dan pong-pong along," ucapnya. 

Lebih lanjut, Kik Kun menjelaskan bahwa dalam adat Desa Lilangan, ketiga permainan ini wajib hadir di setiap tradisi desa, seperti Maras Taun contohnya. 

Sayangnya, seiring derasnya arus digitalisasi, tradisi ini perlahan-lahan mulai dilupakan oleh generasi muda, bahkan oleh para orang tua sekalipun.

"Sekampung Lilangan memang setiap ada orang ladang betaun (syukuran hasil bumi) dan ada dukun kampung, pasti ada permainan itu. Cuma paling sekarang orang sudah banyak yang lupa," kata Kik Kun.

Pong Pong Along

Di atas panggung, permainan pertama bertajuk Pong Pong Along pun dimulai. Kik Kun mengajak anak-anak untuk membentuk lingkaran dengan anggota minimal tiga orang. Mereka kemudian mengepalkan tangan masing-masing dan menumpuknya secara selang-seling ke atas, dimana anak dengan posisi tangan paling atas bertugas memasukkan jari telunjuknya ke dalam lubang tumpukan kepalan.

Sembari tangan anak-anak bertumpuk, Kik Kun mulai menyanyikan lagu Pong Pong Along. Tepat pada penggalan kata "prok" di akhir lirik, kepalan tangan yang berada di posisi paling bawah harus membuka telapak tangannya dan proses ini diulang hingga seluruh tangan terbuka.

Setelah semua tangan "pecah", anak-anak langsung saling mencubit telapak tangan temannya sembari tertawa riang mengikuti irama lagu lanjutan hingga permainan selesai.

Kik Kun pun menceritakan makna di balik lirik Pong Pong Along yang terdengar jenaka. Kisah di balik lagu itu merepresentasikan potret kemiskinan dan keterbatasan pangan masyarakat Belitong zaman dulu, di mana sebutir telur ayam adalah barang mewah yang harus dijaga.

"Tahun dulu kan orang tidak punya lauk, toko juga tidak ada. Jadi kalau beli telur ayam, dijaga betul jangan sampai pecah. Makanya ada lirik 'pecah pula telur tadi sebiji', itu maksudnya telur itu akhirnya digoreng pakai minyak untuk lauk makan kita orang di rumah," jelasnya.

PERMAINAN LAWAS - Sejumlah murid Sekolah Dasar (SD) dipandu oleh Tetua Adat sekaligus Dukun Kampung Desa Lilangan, Syahiril atau Kik Kun (63), saat mempraktikkan permainan tradisional Belitong di atas panggung Festival Seni Budaya Desa Lilangan, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Selasa (23/6/2026). Lewat tiga permainan legendaris yaitu Pong Pong Along, Jajak Setunju, dan Sapu Sapu Rengit, generasi muda diajak untuk kembali melatih kekompakan, kejujuran, dan sportivitas sekaligus mengalihkan ketergantungan dari gawai.
PERMAINAN LAWAS - Sejumlah murid Sekolah Dasar (SD) dipandu oleh Tetua Adat sekaligus Dukun Kampung Desa Lilangan, Syahiril atau Kik Kun (63), saat mempraktikkan permainan tradisional Belitong di atas panggung Festival Seni Budaya Desa Lilangan, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Selasa (23/6/2026). Lewat tiga permainan legendaris yaitu Pong Pong Along, Jajak Setunju, dan Sapu Sapu Rengit, generasi muda diajak untuk kembali melatih kekompakan, kejujuran, dan sportivitas sekaligus mengalihkan ketergantungan dari gawai. (Posbelitung.co/ Kautsar Fakhri Nugraha/Kautsar Fakhri Nugraha)

Jajak Setunju

Setelah Pong Pong Along selesai, anak-anak bergeser ke permainan kedua yang dinamakan Jajak Setunju. Masih dengan formasi melingkar beranggotakan minimal tiga orang, anak-anak menapakkan satu telapak tangan mereka ke lantai, sementara satu orang anak mengitari dan menunjuk tangan-tangan tersebut secara acak mengikuti ketukan lagu.

Begitu bait lagu berakhir, telapak tangan yang ditunjuk terakhir dinyatakan terpilih. Anak yang terpilih itu harus melipat tangannya, sementara dua rekan lainnya menepuk-nepuk tangan yang terlipat itu menyesuaikan ketukan lagu susulan.

Permainan memuncak ketika lirik "Dor!", di mana anak yang melipat tangan tadi harus menjatuhkan badannya berbaring telentang ke belakang.

Rupanya, Jajak Setunju menyimpan sebuah kisah yang cukup kelam mengenai peristiwa hilangnya seorang warga di tengah belantara hutan Belitong pada masa lalu. Kik Kun menceritakan permainan ini adalah visualisasi dari proses pencarian orang hilang yang dibantu oleh petunjuk spiritual dukun kampung.

"Jajak Setunju itu ceritanya ada orang hilang selama tiga bulan lebih tidak datang-datang. Jadi ditunjuk oleh dukun kampung, ditunjukkan lokasinya ada di sini, sampai akhirnya ketemu di hutan setelah 100 hari," ceritanya. 

Sapu Sapu Rengit

Terakhir, puluhan anak SD tadi diajak Kik Kun untuk memainkan permainan ketiga, yaitu Sapu Sapu Rengit. Berbeda dengan dua permainan sebelumnya, kali ini anak-anak diminta duduk berderet ke samping sembari melonjorkan kedua kaki mereka ke depan secara lurus.

Satu di antara anak yang berada di posisi tengah memegang kendali untuk menepuk satu per satu kaki temannya secara berurutan dari ujung ke ujung mengikuti alunan irama lagu. Ketika lirik lagu menyentuh kata "potong", maka kaki yang kebetulan sedang ditepuk harus dilipat, menandakan kaki tersebut telah gugur.

Proses ini terus bergulir hingga menyisakan kaki terakhir yang ikut "terpotong", memaksa seluruh anggota kelompok untuk telentang ke belakang bersama-sama diiringi tawa setiap anak.

Kik Kun lagi-lagi menjelaskan bahwa permainan Sapu Sapu Rengit ini lahir dari kebiasaan para pemburu pelanduk (kancil) di Belitong zaman dulu. Ketika sedang mengintai buruan di dalam semak-semak, kaki para pemburu kerap digigit oleh kawanan rengit (nyamuk kecil), sehingga mereka harus berulang kali menyapu kaki mereka untuk mengusir serangga tersebut.

"Sapu-sapu rengit itu ceritanya tentang orang di hutan yang sedang berburu pelanduk, tahu-tahu banyak rengit di kakinya, lalu disapu-sapu sama dia," papar Kik Kun.

Jangan Berhenti Disini

Melalui ketiga permainan tradisional ini, Kik Kun mengatakan tujuan utama yang ingin ditanamkan kepada anak-anak bukan sekadar mencari siapa yang menang atau kalah. Terdapat nilai-nilai karakter yang sangat kuat yang tertanam secara implisit di setiap gerakan.

Permainan tradisional ini, menurut Kik Kun, secara alami melatih kekompakan tim, kerja sama yang solid, kerukunan, kejujuran dalam bertindak, serta sportivitas sejak usia dini.

"Permainan lama ini mendidik anak-anak kita untuk selalu kompak, bekerja sama, hidup rukun, jujur, dan memiliki sifat sportivitas. Hal-hal seperti ini yang tidak akan pernah bisa didapatkan anak-anak jika mereka hanya duduk diam menatap layar HP terus," jelasnya. 

Oleh karena itu, sebagai penjaga adat di Belitung Timur, Kik Kun berharap momentum festival ini menjadi titik balik kebangkitan kebudayaan lokal di kalangan generasi muda ini. Ia bermimpi agar permainan tradisional ini bisa dilestarikan ke dalam skala event yang jauh lebih besar, seperti kabupaten ataupun provinsi.

Kik Kun berpesan kepada seluruh pihak agar bahu-membahu menyosialisasikan kembali permainan tradisional ini di lingkungan sekolah dan rumah demi menyelamatkan masa depan anak-anak dari ketergantungan digital.

"Harapan dari aku sebagai dukun, permainan ini harus berlanjut lagi ke tingkat yang lebih besar. Untuk anak-anak kecil, jangan cuma main HP terus, ayo kita mainkan lagi permainan lama ini sehingga tidak tenggelam oleh zaman," tutupnya. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.