Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Tokoh adat Sembalun, Mertawi, angkat bicara terkait ramainya penyematan gelar Pawang Rinjani kepada Agam Rinjani yang beredar luas di media sosial.
Agam Rinjani diberikan gelar setelah dirinya menyelamatkan wisatawan asing asal Brazil yang bernama Juliana Marins yang terjatuh dan meninggal di Gunung Rinjani pada tahun 2025.
Mertawi menegaskan bahwa predikat tersebut tidak bisa serta-merta diklaim oleh individu, melainkan harus melalui proses adat yang sakral dan musyawarah komunitas lingkar Gunung Rinjani.
Mertawi menyayangkan adanya pengakuan sepihak yang dinilai mengabaikan nilai-nilai tradisi dan budaya yang telah dijunjung tinggi oleh masyarakat Sembalun sejak masa lalu.
"Menurut tradisi kita, khususnya yang tinggal di lingkar Rinjani, tidak semudah itu untuk menyebut diri sebagai Pawang Rinjani. Kalau mengacu pada sejarah, gelar ini bahkan ditentukan melalui musyawarah dan bisa berlaku turun-temurun," kata Mertawi pada Selasa (23/6/2026).
Baca juga: Alasan Forum Wisata Rinjani Keberatan dengan Agam dan Rencana Konten 1 Tahun Penyelamatan Juliana
Mertawi menjelaskan, pada masa lalu terdapat tiga kewenangan adat yang melekat dan memiliki otoritas tersendiri bagi seseorang yang menyandang gelar tersebut.
Kewenangan itu tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral dan spiritual terhadap gunung serta masyarakat di sekitarnya.
Mertawi mengaku tidak mengenal sosok Agam yang disebut-sebut sebagai pawang tersebut.
"Kalaupun ada yang mau menyandang gelar itu, setidaknya harus ada konsolidasi dengan komunitas yang ada di lingkaran Rinjani. Kontribusi apa saja yang pernah dilakukan, Orang-orang tua kita dulu tidak berani serampangan mengaku menjadi Pawang Rinjani meskipun sudah ratusan kali menyelamatkan pendaki," tegasnya.
Mertawi mengingatkan bahwa tindakan penyelamatan di Gunung Rinjani bukanlah hal baru.
Sejak dulu, masyarakat adat sudah terbiasa melakukan pertolongan tanpa peralatan memadai sekalipun.
Kini, dengan fasilitas yang jauh lebih lengkap, justru tidak lantas memudahkan seseorang menyandang gelar adat tersebut.
"Kalau semudah itu, semua orang bisa melakukannya. Itu artinya tidak ada nilai apa pun dari tradisi budaya kita. Ke depan, akan banyak lagi yang mengaku-ngaku tanpa dasar," imbuhnya.
Mertawi juga menegaskan bahwa hubungan emosional masyarakat lingkar Rinjani dengan gunung tersebut sangat kuat.
Bahkan, ia menyebut fenomena alam seperti hujan, angin, atau gemuruh sering dianggap sebagai bahasa Rinjani kepada warganya.
"Rinjani memiliki hubungan emosional dengan semua masyarakat lingkarannya. Saking kuatnya, terkadang Rinjani seolah berbicara kepada kami melalui tanda-tanda alam," pungkasnya.
Tokoh adat itu berharap masyarakat dan pihak terkait lebih bijak dalam memahami tradisi, serta tidak sembarangan menyematkan gelar adat tanpa melalui jalur yang semestinya.
(*)