Kematian Jemaah Haji Tembus 300 Orang, Wamen Dahnil di Boyolali Janji Bakal Perketat Tahun Depan
Hanang Yuwono June 24, 2026 01:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Tingginya angka kematian jemaah haji Indonesia selama penyelenggaraan ibadah haji 2026 menjadi perhatian serius pemerintah.

Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan aspek kesehatan menjadi salah satu isu terbesar yang harus dibenahi dalam penyelenggaraan haji tahun mendatang.

Hal tersebut disampaikan Dahnil usai menyambut kedatangan jemaah haji Kloter 66 di Asrama Haji Donohudan, Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (24/6/2026).

Baca juga: Mayoritas Jamaah Haji Klaten Telah Kembali dalam Kondisi Sehat, Bupati Hamenang: Semoga Mabrur

Menurutnya, pemerintah akan memperketat syarat istitaah atau kemampuan berhaji untuk menekan angka kematian jemaah di Tanah Suci.

"Tahun depan kami pasti akan lebih perketat," kata Dahnil.

Ia mengungkapkan, jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal dunia hingga saat ini telah mencapai lebih dari 300 orang secara nasional.

Sementara itu, di Jawa Tengah, jumlah jemaah yang wafat telah mencapai lebih dari 50 orang.

Baca juga: Pesan Bupati Etik pada Jemaah Haji Sukoharjo Kloter 63: Jadilah Pribadi yang Semakin Sabar

"Jawa Tengah misalnya jumlah yang wafat sudah 50-an lebih. Artinya tahun depan harus lebih kecil, kalau perlu tidak ada yang wafat," ujarnya.

Dahnil menyebut jumlah kematian jemaah tertinggi berasal dari Jawa Timur, disusul Jawa Tengah.

TIBA DI EMBARKASI - Jemaah calon haji kloter pertama tiba di gedung Jeddah Asrama Haji Donohudan, Selasa (21/4/2026). Kedatangan ini menjadi awal rangkaian pemberangkatan jemaah haji melalui Embarkasi Solo tahun ini.
TIBA DI EMBARKASI - Jemaah calon haji kloter pertama tiba di gedung Jeddah Asrama Haji Donohudan, Selasa (21/4/2026). Kedatangan ini menjadi awal rangkaian pemberangkatan jemaah haji melalui Embarkasi Solo tahun ini. (TribunSolo.com/Tri Widodo)

Menurutnya, tingginya angka tersebut juga dipengaruhi jumlah jemaah yang berangkat dari kedua provinsi tersebut.

"Kalau di seluruh Indonesia sekarang ini ada 300 lebih jemaah wafat. Paling tinggi itu Jawa Timur, kemudian Jawa Tengah. Karena memang jemaahnya banyak," jelasnya.

Syarat Kesehatan Calon Jemaah Akan Diperketat

Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Kementerian Haji dan Umrah berencana memperketat pemeriksaan kesehatan calon jemaah sebelum keberangkatan.

Calon jemaah dengan penyakit tertentu, terutama yang memiliki risiko tinggi, akan menjalani evaluasi lebih ketat.

Mereka bahkan tidak diperkenankan berangkat apabila kondisi kesehatannya dinilai dapat membahayakan keselamatan selama menjalankan ibadah haji.

Baca juga: Selesai Tunaikan Ibadah Haji, Sukasto Wafat di Bandara Madinah Jelang Kepulangan

"Kasus demensia, komorbid darah tinggi, pneumonia, gagal ginjal dan sebagainya kami pastikan tidak ada yang bisa berangkat," tegas Dahnil.

Ia mengakui kebijakan tersebut mungkin terasa berat bagi sebagian calon jemaah.

Namun, langkah tersebut harus dilakukan demi menjaga keselamatan jemaah selama berada di Arab Saudi.

"Memang kami harus lebih tega, lebih ketat. Jadi mereka tidak layak untuk berangkat, tidak boleh berangkat," katanya.

Selain memperketat syarat kesehatan, pemerintah juga akan menggandeng sejumlah organisasi keagamaan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kesiapan fisik sebelum berhaji.

Baca juga: 10 Ide Makanan Berbahan Dasar Pisang, Cocok untuk Bisnis Kuliner di Solo

Kementerian Haji dan Umrah akan bekerja sama dengan MUI, Muhammadiyah, NU, serta berbagai organisasi kemasyarakatan Islam lainnya.

Menurut Dahnil, selama ini banyak calon jemaah lebih fokus mempersiapkan manasik ibadah, sementara kesiapan kesehatan juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan dan keselamatan selama berhaji.

"Haji itu harus sehat, harus selamat. Makanya kita ada konsep manasik kesehatan," ujarnya.

Melalui konsep tersebut, tim kesehatan akan mendampingi calon jemaah sejak jauh hari sebelum keberangkatan agar memiliki kondisi fisik yang memadai.

"Jadi tim kesehatan kita sejak awal mendampingi jemaah supaya mereka memanasikan kesehatannya. Bukan hanya manasik ibadah," katanya.

Ia mencontohkan, calon jemaah perlu membiasakan diri berjalan kaki dan berolahraga secara rutin karena sebagian besar rangkaian ibadah haji membutuhkan kemampuan fisik yang baik.

"Memastikan kesehatan terjaga, punya kebiasaan jalan kaki, olahraga. Karena 95 persen kegiatan ibadah haji itu adalah kegiatan fisik," jelasnya.

"Kalau fisiknya tidak siap itu nanti akan berdampak buruk terhadap keselamatan mereka di Tanah Suci," tambah Dahnil.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.