TRIBUNJAMBI.COM - Presiden RI, Prabowo Subianto, melayangkan peringatan keras kepada aktor intelektual yang mencoba memanipulasi opini publik melalui mobilisasi massa.
Isu tak sedap mengenai adanya aliran dana haram dalam gelombang unjuk rasa di ibu kota akhir-akhir ini tampaknya telah sampai ke telinga orang nomor satu di Indonesia tersebut.
Pernyataan menohok itu disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo dalam pidatonya saat membuka Pekan Nasional Petani dan Nelayan Andalan (PENAS KTNA) ke-17 di Provinsi Gorontalo, Rabu (24/6/2026).
Di hadapan ribuan petani dan nelayan, Presiden Prabowo menegaskan bahwa intelijen pemerintah terus memantau pergerakan pihak tertentu yang sengaja mengorganisir massa sipil demi kepentingan politik sepihak.
Secara blak-blakan, mantan Danjen Kopassus ini meminta para dalang aksi tersebut untuk segera menghentikan aktivitas manipulatif mereka sebelum diambil tindakan tegas oleh aparat hukum.
"Hati-hati, lho. Saya kasih peringatan mereka-mereka itu. Saya tahu siapa yang bayar-bayar demo, gua tahu itu,” ucap Prabowo dengan nada tegas.
Bongkar Tarif Rp200 Ribu per Kepala
Kabar miring mengenai adanya oknum pedemo fiktif ini memang sempat mencuat dalam beberapa hari terakhir di Jakarta.
Baca juga: Demo di Jambi, Abel: Kami Tunggu Kepastian Pertemuan dengan DPRD Jambi Pada 3 Juli Mendatang
Baca juga: Prabowo Sindir Ekonomi Era Jokowi?: Tumbuh 5 Persen Tapi Kemiskinan Naik
Berbagai unsur masyarakat, baik dari kalangan mahasiswa maupun kelompok non-mahasiswa, diketahui gencar turun ke jalan guna menyikapi kondisi fundamental ekonomi terkini bangsa.
Namun, kesucian gerakan moral tersebut ternoda oleh temuan adanya peserta aksi yang murni bergerak demi uang saku, bukan aspirasi.
Presiden Prabowo mengaku tidak ambil pusing dengan metode usang manipulasi opini publik lewat demo bayaran tersebut.
Bahkan, Kepala Negara membeberkan fakta miris di lapangan bahwa para demonstran tersebut umumnya hanya dibayar sebesar Rp200.000 per orang tanpa memahami esensi orasi yang mereka teriakkan di depan barikade polisi.
"Tapi enggak apa-apa, main demo. Ditanya, ditanya anak-anak demo, enggak ngerti. Mau demo apa ya? kami dibayar Rp 200.000, gitu, kan. Tapi ada. Saya enggak mengerti,” jelas Presiden Prabowo sembari geleng-geleng kepala.
Pemerintah berkomitmen tetap fokus pada program kerja strategis nasional dan meminta masyarakat luas untuk lebih jeli dalam memilah gerakan murni mahasiswa yang memperjuangkan hak rakyat dengan aksi pesanan yang ditunggangi oleh kepentingan elite tertentu.
Demo Mahasiswa Diduga Dibayar
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (FH) UBK, Muhammad Abdimaludin mengaku menerima uang Rp 20 juta dari oknum polisi.
Pengakuan itu dilontarkan Abdi saat 'disidang' oleh mahasiswa UBK yang videonya beredar di berbagai platform media sosial.
Abdi merupakan salah satu dari 15 mahasiswa yang sempat bertemu dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada aksi demonstrasi, Senin (15/6/2026).
Baca juga: Prabowo Sibuk Kunker Maraton, Lusa Jokowi Keliling Indonesia Mulai dari Lampung
Baca juga: Ayah Tiri Diduga 3 Kali Lecehkan Anak Tiri di Muaro Jambi, Dikepung di Maro Sebo Ulu
Saat itu, Abdi beserta mahasiswa lain dari UBK, Universitas MH Thamrin, dan Universitas Terbuka diterima Gibran di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.
Abdi menyebut menerima uang Rp 20 juta dari pihak kepolisian bernama Aan, untuk memindahkan titik aksi dari Istana.
"Uang itu dikasih sama mereka pihak kepolisian, untuk tidak turun aksi di Istana, akan tetapi, kita tetap turun."
"Pihak kepolisian, Bang Aan namanya dari pihak kepolisian, kurang tahu nama lengkapnya," ungkap Abdi dikutip dari tayangan YouTube Tribunnews, Selasa (23/6/2026).
Belum ada keterangan apakah uang tersebut diterima sebelum atau sesudah bertemu Gibran.
Senin (22/06/2026) lalu, sejumlah emak-emak melakukan aksi demonstrasi mendukung program makan bergizi gratis (MBG) di kawasan Monas tepatnya di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.
Mereka membawa sejumlah atribut, mulai dari poster hingga setangkai bunga mawar dalam genggaman masing-masing.
Saat aksi demo dimulai, para emak-emak ini mendapat wajan baru yang dibagi cuma-cuma.
Selain itu ada pula roti, susu, dan buah-buahan untuk mereka konsumsi.
Yuyun, salah seorang warga Jakarta Timur yang ikut demo, juga mengaku mendapat uang saku senilai Rp100 ribu.
“Ongkos ada lah buat jajan. Seratus lah,” ungkap Desy saat baru tiba di lokasi bersama rekan-rekannya.
Desy mengaku mendukung program MBG sebab anaknya merupakan bagian dari penerima.
“Semenjak ada MBG, anak saya jadi gemuk, sehat, pintar. Harapannya lebih bagus lagi, meningkat,” tutur Yuyun.
Polemik MBG (Makan Bergizi Gratis) mencuat karena program unggulan Presiden Prabowo ini terseret kasus korupsi, keterlambatan distribusi, dan dugaan jadi rebutan proyek dapur oleh elite politik.
Publik mempertanyakan transparansi, efektivitas, serta keberlanjutan program yang seharusnya fokus pada gizi anak sekolah.
Beberapa hari terakhir mahasiswa di sejumlah daerah termasuk di Jakarta menyuarakan penghentian program MBG.
Baca juga: Kode Redeem FF Free Fire Rabu 24 Juni 2026, Ambil Hadiah di reward.ff.garena.com
Baca juga: HUT Bhayangkara ke-80, Polres Muaro Jambi Gelar Ziarah ke Makam Pahlawan
Baca juga: 2 Cara Cek Pengumuman Seleksi Administrasi PPPK Sekolah Rakyat 2026
Baca juga: Hesti Haris: Religiusitas dan Kekompakan PKK Kunci Sukses Program hingga ke Tingkat Desa