Mantan asisten Sir Alex Ferguson ini memiliki karier kepelatihan yang panjang dan penuh cerita.
Carlos Queiroz adalah sosok yang sangat dikenal oleh para penggemar sepak bola di seluruh dunia.
Pelatih berusia 73 tahun ini kini menjalani Piala Dunia kelimanya secara beruntun sebagai manajer. Sebelumnya, ia telah membawa Portugal—negara asalnya—ke turnamen pada tahun 2010; kemudian Iran pada 2014, 2018, dan 2022; dan kini memimpin Ghana di edisi 2026 yang sedang berlangsung.
Queiroz bahkan sempat membawa Afrika Selatan lolos ke Piala Dunia 2002, namun mengundurkan diri sebelum memimpin timnya di turnamen yang digelar di Jepang dan Korea Selatan. Namun, kiprahnya di panggung terbesar sepak bola internasional hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjangnya.
Selama beberapa waktu, Queiroz dikenal luas di Inggris karena dua masa jabatannya sebagai asisten Sir Alex Ferguson di Manchester United.
Mantan penjaga gawang ini pertama kali bergabung di Old Trafford pada musim 2002/03, setelah sebelumnya menangani tim Portugal U-20, tim senior Portugal, Sporting, NY/NJ Metrostars, Nagoya Grampus Eight, Uni Emirat Arab, serta periode yang kurang menyenangkan bersama Afrika Selatan.
Kinerjanya di Manchester United menarik perhatian Real Madrid, yang kemudian merekrutnya sebagai pelatih pada musim panas 2003 untuk menangani skuad bertabur bintang yang berisi Ronaldo, Luis Figo, Raul, Zinedine Zidane, Roberto Carlos, Claude Makelele, dan David Beckham.
Namun, musim Queiroz di Real Madrid tidak berjalan sesuai ekspektasi tinggi klub tersebut. Mereka finis di posisi keempat La Liga; kalah dari Real Zaragoza di final Copa del Rey; dan tersingkir di perempat final Liga Champions setelah kekalahan mengejutkan dari Monaco.
Queiroz kemudian kembali ke Manchester United, kali ini bertahan selama empat tahun dan berperan penting dalam membangun kembali tim di sekitar Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney, serta membantu klub memenangkan Liga Champions musim 2007/08.
Meski demikian, ia tidak selalu disukai semua pihak. Roy Keane terkenal pernah berselisih besar dengan Queiroz, yang akhirnya berkontribusi terhadap keputusannya meninggalkan klub.
Sejak meninggalkan Manchester United untuk kedua kalinya dan mengambil alih posisi pelatih tim nasional Portugal pada tahun 2008, Queiroz fokus sepenuhnya pada karier di sepak bola internasional.
Queiroz akhirnya dipecat dari jabatannya di Portugal setelah kalah dari Spanyol—yang kemudian menjadi juara—di babak 16 besar Piala Dunia 2010. Namun, pemecatannya sebenarnya disebabkan oleh tuduhan bahwa ia telah mengganggu otoritas anti-doping negara tersebut menjelang turnamen.
Sejak meninggalkan Portugal usai Piala Dunia 2010, Queiroz telah menangani sejumlah tim nasional, yakni Iran, Kolombia, Mesir, kembali ke Iran, kemudian Qatar, Oman, dan kini Ghana.
Pencapaian paling menonjolnya selama periode tersebut adalah keberhasilannya membawa Iran tampil di tiga Piala Dunia berturut-turut—prestasi yang tidak mudah diraih—serta membawa Mesir ke final Piala Afrika 2021, di mana mereka kalah melalui adu penalti dari Senegal.