Sakit Mental Bukan Cacat Iman: Cara Tepat Hadapi Stigma di Sekitar Kita
Amirullah June 24, 2026 04:22 PM

Oleh: Cut Thalia Ulfah

​Masuk ke lingkungan baru itu tidak pernah mudah. Sama sekali tidak gampang. Masalahnya sering kali bukan cuma soal fasilitas umum yang kurang atau akses jalan yang masih rusak. Ada hal lain yang jauh lebih rumit. Apa itu? Benturan langsung dengan nilai budaya, adat lama, atau keyakinan yang sudah dianut warga setempat sejak puluhan tahun lalu.

​Dari sekian banyak masalah di lapangan, ada satu kenyataan yang paling bikin miris. Pandangan sinis masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa berat. Contoh yang paling nyata? Kasus skizofrenia. Masalah ini masih sering kita jumpai di tengah-tengah warga.

​Mari kita lihat fenomena nyata yang terus berulang di sekitar kita. Ketika ada salah satu warga yang perilakunya mendadak berubah drastis, respons lingkungan sekitar biasanya langsung salah arah.

Misalkan si sakit mulai sering berbicara sendiri tanpa arah, berhalusinasi, atau emosinya mendadak meledak-ledak. Reaksi pertama orang-orang terdekat hampir pasti bukan membawa dia ke dokter atau puskesmas. Mencari bantuan psikolog pun tidak terpikirkan.

​Pihak keluarga dan para tetangga justru lebih cepat mengaitkan kondisi kejiwaan itu dengan urusan gaib. Ada yang langsung menuduh si sakit sedang kesurupan jin. Ada yang bilang kena kiriman guna-guna dari musuh. Atau yang paling sering terdengar: dituduh malas beribadah dan imannya dianggap sedang lemah.

​Cara berpikir keliru seperti ini dampaknya bisa sangat fatal bagi keselamatan pasien. Akibat salah penilaian dari orang-orang terdekat, penderita tidak kunjung mendapatkan penanganan medis yang semestinya.

Pasien justru sering kali dibawa ke rumah dukun. Mereka dibawa ke tempat pengobatan alternatif yang tidak jelas standarnya. 

Lebih menyedihkan lagi, jika kondisinya dianggap semakin membahayakan, jalan pintas yang diambil sering kali melanggar kemanusiaan. Pasien berakhir dipasung. Mereka dikurung di dalam ruangan yang sempit, gelap, kotor, dan sangat tidak layak.

​Kenyataan pahit di lapangan ini otomatis menempatkan para psikolog atau tenaga kesehatan mental pada posisi yang serba salah. Ada dilema yang cukup berat selama bertugas di tengah masyarakat. Di satu sisi, ada batasan etis.

Mereka harus tetap menghormati adat istiadat setempat serta sensitivitas keyakinan agama warga lokal.

​Tapi di sisi lain, membiarkan seorang penderita gangguan jiwa telantar tanpa adanya pengobatan medis jelas-jelas salah. Itu bentuk pengabaian terhadap hak asasi manusia. Pembiaran ini membahayakan keselamatan pasien.

Baca juga: Prabowo Sindir Koruptor Bergaya Mewah Tapi Maling: Mereka Gak Suka Saya karena Saya Ngerti

Proses penyembuhannya menjadi semakin terhambat dan rumit.

​Pertanyaannya, apa yang terjadi jika seorang psikolog datang ke desa tersebut lalu langsung menceramahi warga? Menggunakan teori-teori ilmiah yang kaku di depan umum? Langkah itu pasti akan memicu penolakan yang keras.

Bukannya didengar dengan baik, mereka justru akan ditolak mentah-mentah. Bisa langsung dikucilkan oleh warga karena dianggap merusak tatanan nilai yang sudah ada di kampung tersebut.

​Kita perlu membedah lebih dalam kenapa sebutan "kurang ibadah" ini begitu mudah dilekatkan pada orang yang mengalami gangguan jiwa berat.

Di tingkat masyrakat awam, masalah kesehatan mental dan urusan spiritual memang masih sering kali dicampuradukkan. Tidak ada batas yang jelas. Masyarakat awam yang belum tersentuh literasi medis umumnya tidak mengetahui fakta dasar. 

Fakta bahwa otak adalah organ fisik yang juga bisa sakit. Otak itu sama halnya dengan organ tubuh lainnya seperti jantung, lambung, atau paru-paru manusia. Begitu melihat ada warga yang menunjukkan gejala gangguan kejiwaan, masyarakat secara refleks akan langsung menghakiminya lewat kacamata mistis.

Mereka hanya memakai doktrin keagamaan semata.

​Dampak dari kekeliruan berpikir ini efeknya tidak main-main. Sangat merusak.

Kerugiannya tidak hanya menyerang kondisi fisik pasien, tetapi juga menghantam kondisi psikologis seluruh anggota keluarganya.

Keluarga yang memiliki anggota dengan gangguan jiwa berat biasanya harus menanggung beban sosial yang luar biasa berat di tengah masyarakat. Mereka akan merasa malu yang amat sangat.

​Ujung-ujungnya, mereka memilih untuk menarik diri dari pergaulan sosial di kampung. Pihak keluarga merasa takut. Takut jika mereka dicap sebagai orang tua atau wali yang gagal menanamkan nilai-nilai agama di dalam rumah.

Baca juga: Viral Akun TikTok Niahajars Disorot usai Muncul Dugaan Ustazah AI, Warganet Soroti Bacaan Al-Quran

Demi menjaga harga diri dan nama baik keluarga agar tidak menjadi bahan gunjingan di antara para tetangga, jalan pintas yang sering kali diambil adalah menyembunyikan pasien. Si sakit dikurung di kamar belakang.

​Tindakan ekstrem seperti pemasungan, baik dengan mengikat kaki pasien menggunakan balok kayu dan rantai besi maupun mengurungnya di dalam ruangan yang gelap, sebenarnya adalah puncak dari rasa putus asa.

Pihak keluarga sudah kehabisan cara. Mereka bingung. Namun, jika dilihat dari sudut pandang medis, langkah ini justru pelan-pelan merusak masa depan pasien itu sendiri. 

Ruang gerak yang dibatasi secara paksa akan menurunkan kemampuan berpikir. Fungsi motorik tubuh ikut rusak. Tindakan ini memicu trauma psikologis yang sangat mendalam, dan membuat kondisi kejiwaan mereka menjadi semakin kronis hingga sulit untuk disembuhkan.

​Padahal, gangguan jiwa sekelas skizofrenia murni terjadi karena adanya masalah berupa ketidakseimbangan zat kimia pada fungsi otak.

Penanganannya pun harus menggunakan obat-obatan dari dokter spesialis jiwa atau psikiater. Obat harus diminum secara teratur dan konsisten.

Menilai organ fisik yang sedang sakit sebagai tanda bahwa seseorang "kurang iman" jelas merupakan sebuah ketidakadilan. Ini adalah ketidakadilan yang lahir dari ketidaktahuan kolektif.

​Lalu, bagaimana cara terbaik untuk memutus mata rantai masalah yang sudah mengakar ini? Kuncinya terletak pada penggunaan pendekatan budaya yang halus dan mudah dipahami.

Tenaga medis ataupun psikolog tidak akan pernah bisa menang jika mencoba menyelesaikan masalah ini sendirian. Mereka butuh dukungan dari tokoh lokal. Strategi yang paling efektif adalah dengan merangkul tokoh-tokoh kunci di desa tersebut.

Mereka adalah para tokoh agama, ketua adat, atau sesepuh kampung yang omongannya selalu dihormati dan dipatuhi oleh warga sekitar.

​Proses edukasi mengenai pentingnya kesehatan mental ini harus diperkenalkan secara bertahap. Perlahan-lahan saja. Wadahnya bisa memanfaatkan kegiatan masyarakat yang memang sudah rutin berjalan. Misalnya forum pertemuan rukun warga (RW), arisan, atau di sela-sela acara pengajian desa.

​Dalam menyampaikan edukasi tersebut, sebaiknya hindari dulu penggunaan istilah-istilah medis asing.

Istilah ilmiah sering kali terkesan rumit dan berjarak dengan kehidupan warga. Gunakanlah bahasa sehari-hari. Hubungkan secara positif dengan nilai-nilai ajaran agama mereka sendiri. 

Sebagai contoh, kita bisa mengingatkan warga bahwa di dalam agama pun diajarkan bahwa setiap penyakit yang diturunkan pasti ada obatnya. 

Berusaha mencari kesembuhan dengan berobat ke dokter adalah bagian dari ikhtiar nyata yang sangat dianjurkan oleh syariat. Jika tokoh agama setempat yang menyampaikan pesan ini dalam khutbah atau ceramahnya, masyarakat biasanya akan lebih terbuka hatinya. Mereka mau mendengarkan dan tidak akan langsung memasang benteng penolakan.

​Satu hal krusial yang perlu ditegaskan berulang kali kepada masyarakat: mengalami gangguan mental bukan berarti orang tersebut kehilangan imannya kepada Tuhan.

Logikanya sama saja seperti orang yang mengalami patah tulang akibat kecelakaan. Kondisi fisik mereka tidak akan pernah bisa pulih jika hanya diberikan nasihat-nasihat bijak tanpa adanya tindakan medis yang nyata. Orang yang mengalami gangguan jiwa berat juga membutuhkan perawatan medis dan terapi psikologis yang konkret dari ahlinya.

​Melalui ruang dialog yang santun dan menghormati tata krama kampung, kita bisa meyakinkan pihak keluarga. Perawatan dari dokter jiwa sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran agama mana pun. Keduanya justru bisa berjalan beriringan untuk saling melengkapi satu sama lain.

Pengobatan medis dari profesional berfungsi untuk memperbaiki kesehatan fisik otak pasien. Sementara itu, ibadah, doa, dan dzikir berfungsi untuk memberikan ketenangan pada hati dan jiwanya.

Dokter memperbaiki fisiknya, sedangkan nilai agama serta dukungan lingkungan menjadi pilar penting yang menguatkan mental pasien selama proses pemulihan berjalan.

​Agar gerakan ini bisa berdampak jangka panjang dan tidak berhenti di tengah jalan, diperlukan sebuah inisiatif nyata.

Gerakan harus dimulai dari tingkat desa atau kelurahan. Langkah awal bisa dilakukan dengan memberikan pembekalan dasar kepada perangkat desa, bidan yang bertugas di komunitas, atau kader pemuda setempat mengenai cara mengenali tanda-tanda awal orang yang mengalami gangguan jiwa. 

Hal ini penting agar intervensi bisa segera dilakukan sebelum kondisi pasien terlanjur parah dan berakhir dipasung oleh keluarganya.

​Selain itu, program kunjungan ke rumah pasien (home visit) untuk memberikan dukungan moral kepada orang tua atau keluarganya juga wajib digalakkan kembali. Kita perlu mendampingi mereka.

Bantu mereka agar memahami pentingnya pemberian obat rutin dari dokter tanpa membuat mereka merasa dihakimi atau dikucilkan dari lingkungan sosial tempat mereka tinggal.

Terakhir, jika kondisi pasien sudah mulai stabil berkat pengobatan medis, berikan mereka ruang untuk berpartisipasi kembali dalam kegiatan warga sehari-hari. Mereka bisa diajak ikut gotong royong membersihkan lingkungan atau belajar keterampilan baru.

Langkah seperti ini sangat membantu proses penyembuhan agar mereka tidak lagi dipandang sebelah mata atau dianggap sebagai beban masyarakat yang tidak berguna.

​Pada akhir kata, kita semua harus sadar. Menerima kenyataan bahwa diri kita atau ada anggota keluarga yang membutuhkan bantuan dari psikiater atau psikolog sama sekali tidak menurunkan kadar keimanan kita kepada Tuhan.

Menggunakan ilmu kedokteran untuk mengobati penyakit justru merupakan wujud nyata dari nilai kemanusiaan yang sangat mulia. Sudah saatnya kita menyingkirkan pandangan negatif, menghentikan total tindakan pemasungan yang kejam, dan mulai saling bekerja sama untuk membantu mereka yang sedang berjuang agar bisa sehat kembali di tengah masyarakat.

 

Penulis adalah Mahasiswi S2 Psikologi Universitas Syiah Kuala

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.