TRIBUNBENGKULU.COM - Ketua BEM Universitas Bung Karno (UBK), Muhammad Abdi Maludin sempat buka suara terkait polemik pertemuan mahasiswa dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang ramai disebut "settingan" politik.
Abdi membantah isu yang menyebut gerakan mahasiswa (aksi demo) ditunggangi kepentingan politik maupun mendapat aliran dana dari pihak luar.
"Saya tekankan kepada kawan-kawan mahasiswa dan publik, tidak ada desain politik atau 'settingan' dari awal dalam pertemuan kami dengan Wapres. Pertemuan itu murni merupakan buah dari diplomasi kami di lapangan yang difasilitasi oleh kepolisian sebagai mitra strategis kami di titik aksi," tegas Abdi.
Lebih lanjut, ia menyayangkan munculnya berbagai kontra-narasi yang dinilai berupaya meragukan kemurnian gerakan mahasiswa.
Menurutnya, gerakan yang dilakukan mahasiswa tidak lahir dari kepentingan tertentu, melainkan dari kegelisahan terhadap kondisi bangsa.
"Semua tudingan itu tidak benar. Gerakan kami murni didasari atas hasil kajian ilmiah dan keresahan nyata yang kami rasakan di Universitas Bung Karno melihat kondisi bangsa saat ini," lanjutnya.
Wakil Rektor III UBK, Daniel Panda membongkar kabar bahwa Abdi terima uang yang sudah beredar di kalangan mahasiswa.
"Jadi pasca pertemuan 15 Juni, kami juga mendapat beberapa informasi ya dari beberapa kawan dari mahasiswa Universitas Bung Karno juga. Jadi ada indikasi yang atau dugaan ya, koordinator aksi Saudara Abdi menerima aliran dana. Ya, tentu kami menampung informasi tersebut.
Daniel menyebut, Abdimaludin secara spontan mengakui menerima dana Rp 20 juta dari senior.
"Saya secara apa formal memanggil saudara abdi ke ruangan saya. Kami berbicara berdua, saya langsung bertanya langsung, 'Apakah kamu menerima dana? Berapa jumlahnya, dan lain sebagainya'."
"Secara spontan dia langsung mengakui itu ya, bahwa dia menerima uang sebesar 20 juta," jelas Daniel.
Lantas, Abdimaludin membagikan uang yang diterimanya kepada sejumlah pihak.
Ia mengaku mendapatkan uang dari seniornya, dalam hal ini adalah alumni Fakultas Hukum UBK.
"Dan dia juga mengakui, menurut pengakuan saudara abdi, alumni tersebut mendapatkan dana itu dari oknum kepolisian itu pagi harinya waktu saya panggil," imbuh Daniel.
Lebih lanjut, Daniel Panda membeberkan motif Eks Ketua BEM FH UBK menerima uang Rp 20 juta saat demo.
Dana tersebut, diterima Abdi cs dengan tujuan agar mereka tidak melakukan aksi demo di sekitar Istana.
"Ya, dari pengakuan Abdi memang mengatakan bahwa dana tersebut untuk supaya mahasiswa UBK tidak melakukan unjuk rasa di lokasi sekitar Istana."
"Jadi mereka berharap, anak-anak UBK itu unjuk rasanya di sekitaran DPR ya," jelas Daniel.
Namun, permintaan itu tidak dipenuhi para mahasiswa. Mahasiswa UBK pun tetap demonstrasi di dekat Istana.
Hingga akhirnya, mereka diajak ke Istana Wapres dan ketemu wakil presiden.
Meski demikian, pihak kampus masih akan melakukan investigasi terkait hal tersebut.
"Tetapi memang tidak dipenuhi ya. apakah gara-gara itu? Ya, tentu kita belum mengetahui ya, itu nanti kita investigasi itu ya," lanjutnya lagi.
Kini Daniel pun langsung menonaktifkan Ketua BEM UBK tersebut.
Bagi pihak kampus, persoalan ini bukan sekadar dugaan pelanggaran disiplin mahasiswa, tetapi menyangkut integritas gerakan mahasiswa yang selama ini dijunjung sebagai ruang perjuangan yang independen dan bebas dari kepentingan transaksional.
Daniel menegaskan kampus tetap menjamin kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi mahasiswa. Namun, apabila gerakan mahasiswa telah bercampur dengan praktik penerimaan dana yang berpotensi memengaruhi independensi gerakan, hal tersebut tidak dapat ditoleransi.
"Saya marah, sedih, dan kecewa. Itu yang saya katakan langsung ke Saudara Abdi. Saya marah, sedih, dan kecewa," ujar Daniel.
Ia mengaku telah menyampaikan secara langsung kepada Abdi bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan serius yang harus dipertanggungjawabkan.
"Apapun yang kamu lakukan, itu salah. Tidak ada pembenaran. Tapi saya menghargai kejujuran dia," katanya.
Sebelumnya Abdi dan kawan-kawannya mendapat pujian usai bertemu Gibran, Senin (15/6/2026).
Saat itu, Wapres menerima pendemo di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan.
Mahasiswa yang bertemu dengan Wapres itu berasal dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bung Karno dan Universitas MH Thamrin.
Saat itu, Abdi pun mengungkap penolakan yang ia dan rekan mahasiswa lain lakukan terhadap Gibran yakni tawaran untuk makan malam bersama.
"Kami menolak (makan malam dengan Gibran), kami tidak mau ada persepsi buruk terhadap kami," tegas Abdi.
Aksi itu pun dipuji, namun kini namanya tercoret imbas terima uang.