TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa sejumlah produsen otomotif besar AS mulai terlibat dalam produksi persenjataan militer di tengah meningkatnya kebutuhan pertahanan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan wartawan terkait agenda pertemuannya dengan kontraktor pertahanan yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (24/6/2026).
Dalam keterangannya, Trump menyebut perusahaan otomotif seperti Ford dan General Motors (GM) saat ini sedang menjajaki kerjasama dengan perusahaan pertahanan guna mengubah sebagian kapasitas pabrik mereka untuk memproduksi senjata dan sistem rudal.
“Kita sedang membangun banyak pabrik di seluruh negeri. Mereka berurusan dengan General Motors dan Ford. Saya tahu General Motors sangat antusias untuk membangun senjata. Mereka memiliki beberapa pabrik yang akan mereka alihkan. Kita akan membangun senjata,” ujar Trump, mengutip dari CBS News.
Trump juga menegaskan bahwa pemerintah AS saat ini tengah menjalankan dorongan besar-besaran untuk memperkuat industri pertahanan nasional, termasuk dengan melibatkan perusahaan otomotif yang memiliki kapasitas produksi besar namun belum dimanfaatkan secara penuh.
Menurut Trump, sejumlah perusahaan otomotif mulai membuka peluang kerjasama produksi rudal jika memiliki fasilitas manufaktur yang berlebih.
“Kita benar-benar sedang melakukan dorongan ekonomi besar untuk memproduksi senjata. Beberapa perusahaan otomotif sedang membuat kesepakatan untuk membangun rudal,” kata Trump.
Trump mengungkapkan bahwa sistem persenjataan yang berpotensi diproduksi mencakup rudal pertahanan Patriot hingga rudal jelajah Tomahawk yang selama ini menjadi bagian penting dari kekuatan militer Amerika Serikat.
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi Washington untuk mempercepat kapasitas produksi pertahanan di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah dan meningkatnya kebutuhan persenjataan militer AS serta sekutunya.
Baca juga: Trump Kembali Ancam Tinggalkan NATO, Sekjen NATO Datangi Gedung Putih
Selain itu, pemerintah AS juga ingin memperkuat rantai pasokan industri pertahanan agar tidak sepenuhnya bergantung pada kontraktor militer tradisional.
Tak tanggung-tanggung untuk merealisasikan rencana Trump, perusahaan pertahanan telah menghabiskan sekitar 51 miliar dolar AS untuk program buyback saham.
Karena itu, pada Januari lalu pemerintah AS menandatangani perintah eksekutif yang bertujuan membatasi pembayaran dividen dan pembelian kembali saham oleh perusahaan pertahanan.
“Mereka tidak diperbolehkan lagi melakukan pembelian kembali saham,” tegas Trump.
Pemerintah AS menilai anggaran industri pertahanan seharusnya lebih difokuskan untuk pembangunan fasilitas produksi baru, penguatan teknologi militer, serta peningkatan kapasitas manufaktur nasional.
Menanggapi pernyataan Trump, pihak Ford mengakui bahwa saat ini perusahaan memang tengah melakukan pembicaraan dengan sejumlah pemerintah dan mitra potensial terkait kendaraan pertahanan.
Dalam pernyataan resminya, Ford menyebut kendaraan seperti Super Duty dan Ranger Super Duty dinilai memiliki kemampuan yang cocok digunakan untuk kebutuhan pertahanan darat.
“Pemerintah AS dan beberapa negara lain mengakui Ford memproduksi kendaraan yang sangat mumpuni untuk kebutuhan pertahanan. Saat ini kami sedang berdiskusi dengan beberapa pihak, meski belum ada proyek yang difinalisasi,” ujar juru bicara Ford.
Sementara itu, General Motors juga membenarkan adanya komunikasi dengan perusahaan pertahanan, termasuk Lockheed Martin.
GM menyebut Departemen Pertahanan AS telah memfasilitasi diskusi guna mempercepat pengembangan industri pertahanan nasional.
Menurut GM, pembicaraan tersebut berfokus pada peningkatan kapasitas produksi, penguatan rantai pasokan pertahanan, serta pengembangan kemampuan manufaktur tingkat tinggi.
Sebelumnya, GM Defense dan Lockheed Martin telah mengumumkan kolaborasi strategis untuk mempercepat pengembangan teknologi dan produksi sistem pertahanan.
Kerja sama tersebut bertujuan menggabungkan pengalaman Lockheed Martin dalam industri militer dengan kemampuan manufaktur massal milik General Motors.
Kedua perusahaan disebut akan fokus pada pengembangan infrastruktur produksi, peningkatan kecepatan distribusi sistem pertahanan, hingga penguatan desain dan teknologi manufaktur militer modern.
Lockheed Martin sendiri diketahui menjadi salah satu perusahaan pertahanan yang bertemu langsung dengan Donald Trump beberapa hari setelah pecahnya konflik terbaru dengan Iran.
Situasi ini memperlihatkan bahwa pemerintah Amerika Serikat kini mulai mendorong transformasi industri manufaktur nasional untuk mendukung kebutuhan pertahanan jangka panjang di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia.
Dengan langkah tersebut, industri otomotif AS berpotensi memasuki babak baru sebagai bagian penting dalam rantai produksi militer Amerika Serikat, bukan hanya sebagai produsen kendaraan sipil semata.
(Tribunnews.com / Namira)