Fajar, Santri Trenggalek Sukses Putar Roda Bisnis Konveksi di Tengah Lesunya Ekonomi
Rendy Nicko June 24, 2026 09:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Di tengah riuh rendah mesin jahit yang saling bersahutan, seorang pemuda tampak sibuk memotong lembaran kain di sebuah ruangan rumah. Tangannya begitu cekatan, menandakan ia sudah sangat akrab dengan dunia tekstil.

Adalah Ahmad Fajar Aziz, seorang pemuda sekaligus santri dari Pondok Pesantren Hidayatut Tullab, Kamulan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek.

Di usianya yang akan memasuki 27 tahun, Fajar sapaan akrabnya telah berhasil membuktikan bisnis konveksi rumahan miliknya mampu bergeliat. Dan terus bertahan di tengah terpaan kondisi ekonomi yang sedang lesu.

Langkah hidup menjadi seorang pengusaha konveksi bukanlah sebuah kebetulan bagi Fajar.

Baca juga: 412 Lansia Kota Kediri Terima PKH Plus Rp500 Ribu, Data Penerima Terus Diperbarui

Modal keterampilan yang ia pegang saat ini ternyata berakar sejak dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Fajar menceritakan, awal mula dirinya mempelajari ilmu menjahit dan konveksi sebenarnya berawal dari sebuah paksaan dari keluarga untuk belajar keterampilan kerja di sela sela waktu sekolah (hari libur atau pulang sekolah) 

"Kalau awal mula mempelajari ilmu ini, awalnya dulu memang paksaan dari saudara untuk ditekankan belajar keterampilan kerja setelah pulang sekolah," kenang Fajar saat berbincang hangat di ruang konveksinya, Rabu (24/6/2026).

Namun, seiring berjalannya waktu, paksaan tersebut berubah menjadi rasa kebutuhan bagi dirinya. Fajar mulai menyadari bahwa keterampilan ini sangat berharga untuk masa depannya.

"Kemudian setelah itu berjalan, merasakan seakan-akan itu kebutuhan saya. Lanjut saya tekuni, saya pelajari sampai bisa. Kemudian lambat laun, ya, jadi seperti ini," imbuh pemuda yang mulai serius belajar menjahit sejak kelas 2 SMP ini.

Di rumah orang tuanya RT 1 RW 1 Dusun Karangnongko Kamulan Durenan Trenggalek
Kegigihan Fajar tidak berhenti di masa sekolah.

Ia mulai mendirikan usaha konveksinya secara resmi pada tahun 2020, tepat ketika dirinya masih berstatus sebagai mahasiswa. 

Bisnis tersebut berhasil ia bangun dan jalankan hingga dirinya lulus kuliah pada tahun 2022 silam.

Namun, menakhodai bisnis di usia muda tentu bukan tanpa badai. Fajar mengulik suka dan duka yang dialaminya selama membangun usaha konveksi ini. 

Baginya, tantangan terbesar di awal merintis adalah masalah usia dan kepercayaan.

"Kalau dukanya, memang kan saya masih usianya belum begitu dewasa gitu. Kalau mendirikan usaha semacam ini, proses untuk melobi, mencapai pemasaran itu agak sulit," tuturnya.

Dirinya mengaku kerap dipandang sebelah mata oleh calon konsumen karena wajah dan penampilannya yang dinilai terlalu muda. 

"Soalnya belum banyak dikenal orang, juga belum mendapatkan kepercayaan orang lain. Terkadang suka diremehkan atau diabaikan," ulasnya.

Untuk mensiasati hal tersebut, Fajar tidak kehabisan akal. Ia memutar otak dengan melakukan strategi branding dan kerap membawa teman seneor nya saat hendak bertemu dengan klien atau melakukan lobi bisnis.

Alumnus UIN SATU Manajemen Bisnis 2022 ini mengaku membawa teman yang lebih dewasa dan ada pengaruh. Misal ia meminta bantuan senior untuk melakukan lobi kepada calon customer, dengan cara itu bisa membantu mendapatkan kepercayaan kepada calon customer. 

"Kalau berangkat sendirian, suka diremehkan karena saya kelihatan masih terlalu muda, kekanak-kanakan jadi sulit untuk mendapatkan kepercayaan customer waktu itu," jelasnya sembari tersenyum.

Di balik duka tersebut, Fajar mengaku ada kepuasan tersendiri menjadi pengusaha rumahan.

"Kalau sukanya, ya, enak saja di rumah. Tidak ke mana-mana," tambahnya.

Kini, kerja keras Fajar membuahkan hasil. Memasuki musim liburan dan menyambut awal tahun pembelajaran baru sekolah, rumah konveksi milik Fajar yang dipersenjatai dengan 6 unit alat atau mesin jahit ini kebanjiran pesanan.

Pesanan yang masuk didominasi oleh seragam sekolah, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). 

Dalam satu bulan di musim tahun ajaran baru seperti sekarang, ia bisa menyelesaikan puluhan setel pakaian.

"Kalau yang paling banyak ini pesanan saya masuk sekolah mulai SD, SMP, sama SMA. Ya, kalau musim sekolah gitu ya minim 60 sampai 80 setel lebih bisa untuk satu bulannya," ungkapnya.

Selain seragam sekolah, konveksi Fajar juga menerima segala macam pesanan sesuai permintaan konsumen (custom). Mulai dari baju harian, jas, hingga beskap untuk pakaian pernikahan (wedding) dan pakaian adat.

Untuk urusan harga, Fajar mematok tarif 
yang sangat bersaing. Jika konsumen hanya menggunakan jasa jahit (ongkos kerja), tarifnya berkisar antara Rp60.000 hingga Rp150.000 untuk baju atasan, tergantung tingkat kerumitan.

"Sedangkan untuk paket terima jadi (kain dan jasa jahit), satu setel seragam sekolah dibanderol dengan harga Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu," ulasnya.

Dalam mengoperasikan usahanya, Fajar dibantu oleh sang istri tercinta.

Jika pesanan sedang membeludak, ia akan menerapkan sistem kemitraan dengan melempar pekerjaan kepada teman-temannya yang memiliki keahlian serupa.

Kendati pesanan mengalir, Fajar tidak menampik bahwa kondisi ekonomi global saat ini sedang memberikan tekanan berat. 

Dampak paling signifikan dirasakan pada melonjaknya harga peralatan dan suku cadang mesin jahit yang mayoritas merupakan barang impor.

Fajar menyebutkan, kesulitan ini mulai terasa sejak dua atau tiga bulan lalu, dipicu oleh ketegangan geopolitik global seperti isu penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada kelangkaan minyak, hingga berujung pada kenaikan nilai tukar dolar AS.

"Dampaknya itu yang paling signifikan di peralatan. Kan semuanya mesin itu mesin impor dan suku cadang juga impor, dan itu sangat signifikan sekali," katanya.

Untuk menyiasati mahalnya harga suku cadang baru, Fajar mengandalkan tim mekanik kepercayaannya untuk mengotak-atik mesin atau mencari alternatif komponen bekas yang masih layak pakai.

"Tim mekanik saya itu nanti mengotak-atik. Kalau alat, saya tidak dibelikan yang baru, tetapi dicarikan yang second (bekas) tapi bisa dimanfaatkan. Untuk sementara waktu jangan membeli barang yang baru karena naiknya sangat tinggi," bebernya.

Meskipun biaya operasional dan harga bahan baku kain ikut meroket, Fajar mengaku belum berani menaikkan tarif ongkos jasa jahitnya.

Tidak lain demi menjaga loyalitas pelanggan di tengah daya beli masyarakat yang sedang lesu.

"Kalau menaikkan ongkos jasa belum berani, Mas. Soalnya kan ekonomi lagi lesu. Kalau menaikkan harga bahan-bahan itu kan memang semuanya naik, jadi ikut naik. Kalau jasanya tetap," terangnya.

Ia pun berharap agar kondisi perekonomian segera kembali stabil, sehingga para pelaku usaha mikro seperti dirinya dapat bekerja dengan tenang.

"Harapannya, ya, semoga aktivitas ekonomi mulai berjalan dengan stabil dan pelaku-pelaku usaha itu juga bisa bekerja dengan stabil, mendapatkan pekerjaan yang mudah, kemudian ongkos dan harga jual gitu juga stabil," harap Fajar.

Sebagai pemuda yang telah berhasil mandiri, Fajar memberikan pesan mendalam bagi para generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), yang ingin mulai melangkah ke dunia wirausaha. 

Menurutnya, usia muda adalah aset paling berharga yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan mempelajari keterampilan yang memiliki nilai ekonomi di masa mendatang.

"Mumpung usia masih muda, kan usia muda itu aset yang paling berharga karena tidak bisa dimiliki di usia tua gitu. Pikiran, tenaga, itu kan masih *full*, masih kuat. Jadi manfaatkan waktu sebaik mungkin," pesannya.

Beliau menambahkan, tidak perlu bingung harus memulai dari mana. Pelajarilah keterampilan apa saja yang disukai, karena kelak keterampilan itulah yang akan menopang kehidupan.

Di akhir perbincangan, santri Trenggalek ini memberikan satu kata pemantik semangat yang selalu ia pegang teguh dalam hidupnya.

"Terus belajar, semangat. Jangan menunda-nunda waktu karena waktu yang sudah dilewati tidak bisa diputar kembali, tidak bisa didapatkan lagi," pungkasnya tegas.

(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.