TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Rektor Universitas Islam (UI) Cordoba Banyuwangi, Prof. Dr. Agus Trihartono, memperkenalkan konsep Food Mobility dalam forum akademik internasional Global Classroom on Human Migration yang diselenggarakan Faculty of Humanities and Social Sciences (FUHA), Universiti Sultan Zainal Abidin (UNISZA), Malaysia, Rabu (24/6/2026).
Dalam kuliah umum bertajuk Beyond Migration: Food Mobility, Colonial Legacies, and Gastrodiplomacy in Asia, Agus menawarkan perspektif berbeda dalam memahami migrasi. Menurutnya, kajian migrasi selama ini lebih banyak menyoroti perpindahan manusia, sementara pergerakan makanan lintas negara juga menyimpan jejak sejarah, budaya, dan hubungan antarbangsa yang penting untuk dipahami.
“Ketika mempelajari migrasi, kita mengikuti manusia. Ketika mempelajari kolonialisme, kita mengikuti kekuasaan. Ketika mempelajari diplomasi, kita mengikuti negara. Namun untuk memahami Asia, kita juga perlu mengikuti makanan,” kata Agus.
Baca juga: International Lecture UI Cordoba Banyuwangi, Membahas Masa Depan AI Bersama Profesor AS dan Malaysia
Agus menjelaskan bahwa mobilitas makanan tidak dapat dipisahkan dari sejarah migrasi manusia. Perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain turut membawa tradisi kuliner yang kemudian berkembang dan beradaptasi di tempat baru.
Sebagai contoh, diaspora India di Inggris berkontribusi besar terhadap popularitas kari yang kini menjadi salah satu hidangan yang dikenal luas di negara tersebut.
Menurut Agus, Malaysia juga mencerminkan bagaimana makanan menjadi hasil pertemuan berbagai budaya. Ragam kuliner di negara itu terbentuk dari interaksi masyarakat Melayu, Tionghoa, India, hingga Arab selama berabad-abad.
“Makanan sesungguhnya adalah arsip sejarah yang merekam perjalanan manusia dan pertemuan antarperadaban,” ujarnya.
Baca juga: 61 Pembicara dan 235 Peserta dari 5 Negara, Ramaikan Konferensi Internasional UI Cordoba Banyuwangi
Selain migrasi, Agus menyoroti pengaruh kolonialisme terhadap perkembangan kuliner di berbagai negara. Ia mengangkat contoh Rijsttafel, tradisi jamuan makan yang berkembang pada masa kolonial Belanda di Hindia Belanda.
Melalui contoh tersebut, Agus menjelaskan bahwa makanan tidak hanya berpindah bersama para migran, tetapi juga menyebar melalui relasi kekuasaan, perdagangan, dan warisan sejarah kolonial.
“Belanda telah meninggalkan Indonesia, tetapi makanan Indonesia tidak pernah meninggalkan Belanda,” katanya.
Dalam forum yang diikuti ratusan mahasiswa hubungan internasional dari Indonesia dan Malaysia itu, Agus juga membahas peran makanan sebagai instrumen diplomasi publik atau gastrodiplomasi.
Ia mencontohkan keberhasilan Jepang, Korea Selatan, dan Thailand dalam memanfaatkan kuliner sebagai sarana membangun citra positif negara di mata dunia. Strategi tersebut dinilai mampu menarik wisatawan, memperluas pertukaran budaya, mendorong mobilitas pendidikan, hingga memperkuat hubungan antarnegara.
Baca juga: Tokoh dan Akademisi 5 Negara Bakal Hadir di Cordoba Annual Conference 2026 UI Cordoba Banyuwangi
Pada kesempatan tersebut, Agus memperkenalkan Food Mobility Model, sebuah kerangka konseptual yang menjelaskan keterkaitan antara migrasi manusia, mobilitas makanan, warisan kolonial, dan diplomasi kuliner dalam membentuk hubungan internasional.
Konsep ini diharapkan dapat memperluas perspektif dalam studi migrasi internasional yang selama ini lebih berpusat pada pergerakan manusia.
Program Global Classroom on Human Migration menghadirkan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia, di antaranya Universitas Islam Indonesia, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Andalas, Universitas Jember, serta Universiti Sultan Zainal Abidin.
Menutup paparannya, Agus menegaskan bahwa makanan tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan sejarah manusia, tetapi juga mampu membentuk dinamika baru dalam hubungan antarbangsa.
“Makanan bukan hanya mengikuti sejarah. Dalam banyak kasus, makanan juga menciptakan sejarah baru,” pungkasnya.