Laporan Wartawan POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Dua mahasiswi Politani Negeri Kupang, Maharani Mahmud dan Helena Maonya Altri Iry berbagi cerita tentang joint degree yang mereka ikuti di Jiangsu Agri-Animal Husbandry Vocational College (JSAHVC), Cina.
Keduanya merupakan peserta Batch 1 yang berangkat pada tahun 2024 dan telah kembali di tahun 2026. Peserta batch 2 sedang menjalani pendidikan di Cina dan peserta batch 3 akan berangkat pada bulan September mendatang.
Dalam podcast Pos Kupang, Rabu, 24/05/2026 keduanya mengungkapkan pertama kali mendapatkan informasi dari dosen di program studi mereka yakni Prodi Kesehatan Hewan, Jurusan Peternakan.
Maharani mengakui, awalnya orang tuanya khawatir bagaimana dia akan beradaptasi di lingkungan barunya terutama karena bahasa yang digunakan di sana adalah Bahasa Mandarin.
Baca juga: Politani Kupang Gelar Expo PBL, Mahasiswa Tampilkan Produk Bernilai Ekonomi
"Waktu itu belum ada persiapan bahasa juga tapi Politani sudah kasih kursus bahasa Inggris, terus ada juga kami waktu itu dikasih kursus Mandarin seminggu, itu dari orang Cina langsung yang mengajarkan kami. Dari situ sudah ada pemahaman sedikit-sedikit, akhirnya sampai sana juga mulus," kata Rani.
Dia mengakui sempat ragu dengan dirinya sendiri apakah mampu mengikuti program ini, dengan banyak ketakutan. Tetapi Rani bersyukur karena bertemu orang-orang baik di saja.
"Guru-guru di sana juga seperti orang tua sendiri jadi orang tua di sini juga tidak meragukan itu lagi," ungkapnya.
Senada dengan Maharani, Helena juga mengaku mendapatkan informasi dari dosen tentang program ini.
Namun, dia sendiri mendaftarkan diri karena mengikuti teman-temannya.
"Pas telepon orang tua, mama bilang ini kesempatan emas, tidak akan datang lagi jadi mending ambil saja," kata Helena.
Dia juga sempat diliputi keraguan sebelum berangkat tetapi berkat dukungan dan dorongan dari orang tua akhirnya dia memutuskan untuk percaya pada dirinya.
"Setelah sudah fix, dari kampus menyediakan kursus bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Itu juga sangat membantu kami belajar meskipun basic saja tetapi sudah membantu pronunciation jadi sampai sana tidak asing lagi dengan cara mengajar mereka," ungkapnya.
Para peserta mengikuti kursus bahasa Inggris selama sembilan bulan dan bahasa Mandarin selama seminggu.
Di masa awal mereka sempat merasakan culture shock karena perbedaan budaya dan makanan yang cukup signifikan tetapi akhirnya mereka bisa menyesuaikan diri.
Setelah setahun belajar bahasa Mandarin, peserta akhirnya mempelajari ilmu yang sesuai jurusan di Politani Negeri Kupang.
"Kalau di Kupang, contohnya pagi materi, mungkin siang langsung turun lapangan, karena kita kan politeknik. Kalau di Cina kita lebih banyak teorinya. Kita praktek tapi kalau di praktek lebih ke mesin-mesin, buat obat, buat pakan, lebih banyak pakai mesin," jelas Helena.
Meskipun mengalami kendala saat proses pembelajaran, keduanya mengaku tidak terlalu sulit karena ketika praktek dan berhadapan dengan mesin-mesin yang tulisan di tombolnya belum dipahami, para dosen yang akan langsung mempraktekkan baru kemudian diikuti oleh para mahasiswa.
"Di Politani semua alat ada, lengkap tapi kalau di Cina itu lebih modern lagi dan alat-alatnya juga tidak ada di sini," kata Maharani.
Helena mengingat, Politani Negeri Kupang sangat mendukung para peserta program joint degree.
"Mereka (Politani, red) tidak meragukan kita, mereka selalu support, dukung, terus ada support lain seperti beasiswa dari kampus Politani juga," kata Helena.
"Mereka juga menyiapkan administrasi kita, berkas-berkas untuk ke Cina. Ada beasiswa juga dari Politani mendukung beasiswa KIPK sama beasiswa swadana," tambah Maharani. (uzu)